Tuesday, 1 November 2022

GURU MULIA (PUISI)

Guru Mulia

Oleh: KH. Madarik Yahya

Jika saja perjumpaan dapat niscaya
Cerita tidak akan diselesaikan dengan tamat
Terkadang nestapa bukan karena perpisahan
Justru merindu yang tak lagi berhingga
Kalau waktu dapat saja diputar
Maka dalam hidup tak ada lagi album kenangan

Bayangan sosok itu kini kian samar
Karena bingkai cermin kehidupan yang mulai memburam
Merindui pribumi itu
Bagai merindu hujan pada hutan yang terbakar
Kerinduan adalah keterasingan ditengah keramaian
Pengobatnya adalah pertemuan
Kedati bersua itu berbentuk mimpi-mimpi
Terbiasa berhasrat ketiadaan
Terbiasa mengubur selaksa kenangan
Namun....
Usai bertarung dengan waktu
Tak ada ikhtiar kecuali berdamai dengan tuhan
Mencumbui nostalgia hanyalah cumbu belaka
Seharusnya ditukar dengan asa

Friday, 5 March 2021

JEJAK PPQ AL-QOSIMI PUTUKREJO GONDANGLEGI MALANG (history)



JEJAK PPQ AL-QOSIMI

PUTUKREJO GONDANGLEGI MALANG

Oleh: Gus Mad

Sejarah Singkat

Pondok Pesantren Al-Qur’an (PPQ) Al-Qosimi adalah pesantren tahfidz yang berdomisili di desa Putukrejo kecamatan Gondanglegi kabupaten Malang. Pesantren yang dikhususkan bagi santri putri itu tercatat lahir pada tanggal 03 Oktober 2014 M atau 08 Dzulhijjah 1435 H. Sejak tanggal 29 November 2016, nama pesantren tahfidz ini mengalami perubahan dari PPQ-RU 2 manjadi PPQ Al-Qosimi. Perubahan tersebut disebabkan oleh keinginan Ning Maria Ulfa, selaku Pengasuh, yang mendambakan berkah (tabarruk) dengan semudera ilmu dan karomah kemuliaan KH Qosim Bukhori sebagai pendiri Pondok Pesantren Raudlatul Ulum 2 Putukrejo Gondanglegi Malang.

Di awal-awal proses berdiri pesantren ini dimulai dari tiga orang santri yang berminat menyetorkan bacaan Al-Qur’an kepada Ning Maria Ulfa di rumahnya kala itu sudah berada di lokasi belakang dalam lingkungan PPRU 2. Ketiga santri putri tersebut adalah Nur Aini, Maftuhah dan Maulidiya, dengan ragam setoran; bil ghaib dan binnadzar. Pada mulanya, ning yang biasa dipanggil Ning Ulfa itu, enggan menyertai mereka berdua secara serius karena kesibukan sebagai guru di SMA RU 2 saat itu telah banyak menyita waktunya. Sejak tahun 2008, Ning Ulfa telah berperan aktif mengajar di unit formal, bahkan pada tahun 2011 sekian bulan seusai lulus dari IAI Al-Qolam Gondanglegi ia mengikuti pelatihan guru sertifikasi di Surabaya dan dinyatakan lulus pada tahuan 2012.

Namun kegigihan ketiga santri itu, akhirnya membuat hati Ning Ulfa berubah dari sedikit kesal menjadi trenyuh, sehingga bertekad menanggalkan status guru di unit formal demi meladeni santri-santri yang tetap getol melakukan setoran bacaan pada putri bungsu Yai Qosim itu. Secara bertahap jumlah peserta setor-baca Al-Qur’an yang dilakukan usai shalat Shubuh itu bertambah dan terus bertambah dari tiga, delapan, empat belas hingga akhirnya menjadi dua puluh lima santri. Memperhatikan grafik santri putri yang kian menanjak, membuat Ning Ulfa mulai berfikir persoalan tempat tinggal yang kemudian merelakan ruang makan disulap menjadi kamar inap mereka dengan menyekat kamar santap keluarga menjadi dua petak.


Logo Resmi PPQ AL-QOSIMI Malang

Setelah dilihat jumlah santri calon penghafal Al-Qur’an kian meroket, Ning Maria Ulfa mengutarakan kondisi tersebut sekaligus memohon doa restu kepada Nyah Hj. Zainab Qosim, maka pada pertengahan tahun 2015 Nyah Hj. Zainab Qosim meminta H. Lukman, agar mewakafkan tanah dan bangunan dibelakang rumah Ning Maria Ulfa untuk kepentingan hunian para santri penghafal Al-Qur’an. Di tahun itu, ruang hunian diperlebar ke arah timur sesuai luas tanah yang diberikan oleh salah satu ahli waris Abah Mahmudji tersebut.

Pada bulan Juni 2018, Pengasuh PPQ Al-Qosimi Putukrejo mengeluarkan informasi bahwa mengingat fasilitas pesantren yang terbatas, maka kuota penerimaan santri baru tahun ajaran 2018/2019 diancang hanya menerima 10 orang. Berkaitan dengan kabar itu, Ning Ulfa sebagai Pengasuh memohon maaf jika pendaftaran santri baru ditolak. Hal demikian dilakukan semata-mata demi kenyamanan santri, karena ruang huni mereka yang sudah tidak layak untuk ditambahkan santri baru.

Kondisi demikian ini membuat Nyah Hj. Zainab Qosim tergerak untuk kembali melobi keluarga (almarhum) Abah Mahmudji supaya mempertimbangkan lahan di utara rumah Ning Ulfa. Melalui berbagai proses, akhirnya pada bulan Agustus 2018, PPQ Al-Qosimi menerima hibah tanah seluas 736 M² dari keluarga besar (almarhum) Abah Mahmudji. Pelaksanaan pengukuran lahan kosong itu selain dihadiri wakil keluarga Abah Mahmudji, juga disaksikan oleh keluarga (almarhum) KH Qosim Bukhori. Pada tahun 2019 dimulai pembangunan gedung kamar yang diancang tiga lantai di atas lahan tersebut dengan proyeksi lantai pertama sebagai kamar hunian, lantai dua sebagai ruang aula dan lantai tiga ruang kelas.

Pada akhir tahun 2020 pembangunan gedung dua lantai telah dimulai. Pembangunan yang masih berlangsung ini (tahun 2021) diproyeksikan lantai bawah sebagai kamar kecil, lantai atas diperuntukkan sebagai tempat cuci dan jemuran.

 

Alm Kh. Qosim Bukhori


Tiga Landasan

Kelahiran pesantren yang di kemudian hari menjadi bagian dari unit PP Raudlatul Ulum 2 Putukrejo itu didasarkan pada tiga landasan pokok, yaitu:

Pertama, Firman Allah SWT:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

[QS. 08:02]

Kedua, pesan KH Qosim Bukhori: “Kalau diberikan rezeki anak perempuan, suruh menghafal Al-Qur’an saja di zaman sekarang. Biar lebih selamat.”

Ketiga, nalar ilmiah: Kemajuan teknologi disertai kebebasan tanpa batas yang melahirkan kehidupan paradoks dengan nilai-nilai agama membuat degradasi moral generasi muslim dipandang mulai mencapai titik nadir mengkhawatirkan. Sebab itulah, satu-satu solusi penyelamatan adalah kembali kepada pedoman agung dalam Islam.

Program Kegiatan

Rutinitas di PPQ Al-Qosimi memuat aspek hafalan: [1] Baca-simak (setoran) kepada Pengasuh bagi santri yang telah mencapai per-lima juz, dan kepada para ustadzah bagi santri yang belum mencapainya; [2] Pengulangan (muraja'ah) bagi santri yang memperlancar hafalan, baik individu maupun dengan teman sebaya. Ujian (imtihan) bagi santri yang telah menambah hafalan melalui tahapan ustadzah dan Pengasuh; [3] Baca umum (majelis qira'ah) bagi santri yang telah lulus verifikasi tertentu untuk membaca Al-Qur’an lewat pengeras suara; [4] Baca personal di makam Yai Qosim Bukhori bagi santri yang telah berhak memperoleh legalisasi dari Pengasuh.

Selain itu, ada pula program kegiatan yang memuat aspek ubudiyah: [1] Shalat berjamaah lima waktu yang harus diikuti oleh santri sejak suara adzan dikumandangkan dengan ketentuan mendengarkan, menjawab dan membaca doa setelah adzan secara bersama-sama, lalu ditutup dengan wiridan dan doa; [2] Shalat tahfidz malam Jumat secara berjamaah; [3] Ziarah maqbarah pendiri PP Raudlatul Ulum 2 Putukrejo setiap satu pekan sekali yang diikuti oleh seluruh santri guna memperkuat ikatan batin antara guru dan santri.

 

Sebagai perwujudan dari proses menghafal yang dilaksanakan secara bertahap, sejak tahun 2019 Ning Ulfa menerapkan seleksi santri baru hanya terdiri tingkat SMP, sedangkan untuk tingkat selain SMP akan di tes terlebih dahulu sebelum benar-benar di terima di PPQ Al-Qosimi. Seluruh santri yang lolos validitasi diwajibkan mengikuti program Metode Qiroaty, supaya proses hafalan terbebas dari ketidakmampuan bacaan. Pengasuh juga menganjurkan bagi santri senior agar mengikuti program Pembinaan Guru Metode Qiroaty sebagai bekal tambahan kelak ketika berada di tengah-tengah masyarakat.

 

Di luar rutinitas inti, para santri dibiasakkan menjaga kebersihan lingkungan dengan memilah sampah anorganik (sampah kering), dan sampah organik (sampah basah) sehingga pada akhir tahun 2020, para santri mampu menghasilkan dana dari pemberdayaan sampah ini. Di samping para santri diajari memasak dengan memberlakukan piket masak setiap pekan secara bergilir, mereka juga diberikan kesempatan berolah raga dengan mendatangkan instruktur senam dari luar setiap hari Jumat.

 

Dalam persoalan perizinan, Ning Ulfa memprioritaskan santri yang sakit. Bila berdomisili sekitar daerah Malang, maka diharuskan untuk pulang. Bila berasal dari wilayah yang jauh, maka pengurus segera melayani kesehatannya secara maksimal. Hal lain yang membuat PPQ Al-Qosimi berbeda dengan kebanyakan pesantren adalah kewajiban para santri berbahasa halus dengan sesama sahabat, tanpa memperdulikan strata santri senior atau yunior. Perilaku ini ternyata melahirkan sikap-sikap yang lebih kental dengan kesantunan antar sejawat.{gm/2021}


Akidah, Sifat, Visi dan Misi PPQ Al-Qosimi Putukrejo

 

Akidah: “Islam Ahlissunnah wal Jamaah”.

Sifat: “kekeluargaan, kemasyarakatan dan keagamaan”.

Visi: “Menghantar santri menjadi pembaca, penghafal dan pengajar Al-Qur’an”.

Misi: [1] Mencetak peserta didik yang mampu membaca Al-Qur’an dengan benar sesuai ilmu tajwid; [2] Menciptakan peserta didik sebagai penghafal Al-Qur’an; dan [3] Menjadikan peserta didik yang memiliki kemampuan mengajarkan Al-Qur’an. 

Cerita sang nahkoda



Cerita sang nahkoda

Oleh : Muhammad Farhan

 

Walaupun terlahir dari ayahnya, tak lantas untuk menjadikannya manusia yang lupa terhadap ibunya, apalagi durhaka.

Mungkin, atau sudah dalam taraf pasti, kebanyakan dari manusia adalah terlahir dari rahim seorang ibunda. Bukan dari ayahanda. Namun masih juga banyak dari mereka yang tidak menaatinya.Meskipun terlahir darinya.Tapi tidak dengan ia. Walaupun dilahirkan dari ayahnya, tak lantas membuatnya untuk lupa pada ibunda. Apalagi durhaka.

Perkenalkan. Namanya Mukhlis Akmal. Salah satu, atau bahkan satu-satunya species makhluk hidup dimuka bumi yang terlahir dari ayahnya. Entah mukjizat atau bukan, entah spesial atau bukan, tapi memang begitulah adanya.

Terlahir dari keluarga ber-uang tak lantas membuatnya untuk lupa lautan. 2010 ia merantau. Tiga harmal dihantam gelombang tak membuatnya untuk patah arang. Ia teruskan berlayar. Dengan bentangan layar yang ditiup harapan, dengan rakitan perahu yang terbuat dari kerja keras, dengan angin yang meniupkan niat, ia berlayar disamudra lepas dihantam gelombang putus asa, badai rindu orang tua, guntur peluntur wanita. Tapi karna tekatnya untuk menjadi manusia akmal-lah semua gelombang, badai, halilintar ia lalui dengan keringat yang terus diperas, dengan semangat yang tak lepas.Bersama perahu rakitan sendiri, terhadap samudra mengarungi.

10 tahun berlalu dan kini menahkodai publikasi. Sebelum menjadi nahkoda, ceritanya, ia juga pernah menjadi pegawai pada bagian juru tulis disebuah kapal yang bernama akhbar. Kala itu, lanjutnya bercerita, dengan terus dimentori para tetua, para pegawai dikapal itu sangatlah dituntut untuk selalu ber-etos kerja, konsisten, kompeten dan telaten.

Berbeda dengan apa yang terjadi dikapal itu sekarang. Walaupun samadituntutnya, namun apa yang terjadi pada dewasa ini tidaklah sama dengan apa yang terjadi dimasa yang terlampaui. Hal ini disebabkan banyak faktor dan salah satunya adalah kurangnya mentor. Faktor inilah yang dianggap sangat mempengerahui hal tadi terjadi.

Dulu, pada masa itu, selain itu, ia sering kali diperintahkanoleh sinahkoda yang berkuasa untuk menulis tulisan yang ia sendiri tidak terlalu menguasai akan tulisan yang kepadanya sebuah tulisan teralamatkan. Hal tersebut tidaklah terjadi hanya satu atau dua kali. Melainkan berkali-kali.

Pada waktu itu, ceritanya, ia masih bocah dalam dunia juru tulis. Pengalaman menulisnya, pada waktu itu, tak sedewasa saat ini, saat menahkodai publikasi. Kala itu, ia sering mengalami hal yang sering juga dialami oleh penulis yang masih bocah. Ia sering terperangkap dalam kesunyian kata, terpenjara dalam hampa. Walau penuh tekanan, ia terus saja melanjutkan. Ia terus saja menuruti apa yang dikata oleh sinahkoda. Sebagai pegawai tak bergaji, apalah daya ini, lanjutnya bercerita.

Ya. Ia bekerja dan ia tak digaji. Mukhlis betul hidupnya memang. Pada mulanya memang tak ia rasakan dampak dari keikhlasannya. Namun setelah waktu terus berlalu,ia baru sadar bahwa apa yang ia telah lalui selama menjadi pegawai telah memberinya banyak pelajaran. Bukankah tiada hal tersia-sia tentang apa yang dicipta? Dan ia mengalami betul akan hal itu. Pada mulanya ia tak merasakan apa yang ia dapatkan dari sebuah pekerjaantak berpenghasilan yang ia lakukan. Tapi setelah waktu berlalu, ia baru sadar bahwa apa yang ia pernah temui, kini malah menemui. Dan dengan bekal yang ia bawa dari zaman yang telah berlalu itu, ia dapat bertahan hidup dari kegersangan fikir yang biasa melanda setiap manusia.



Ia terus saja bercerita, lama. Hingga dapatlah penulis simpulkan bahwa ada tiga pesan pokok yang ia ingin sampaikan.

Pertama. Jadilah mukhlis sehingga engkau menjadi manusia yang selalu dipenuhi keikhlasan.

Kedua. Jadilahakmalsehingga engkau menjadi manusia yang selalu mengejar kesempurnaan.

Ketiga. Jadilah keduanya sehingga engkau menjadi manusia yang selalu diteduhi harapan lagikeikhlasan.

Demikian. Sekian. Wassalam.[]

Pesantren itu bernama Raudlatul Ulum Suramadu (berita)

 


Pesantren itu bernama Raudlatul Ulum Suramadu

Oleh: Muhammad Farhan


Dari namanya saja sebagian dari pembaca mungkin sudah dapat menerka bahwa pesantren itu adalah cabang dari Raudlatul Ulum 1. Raudlatul Ulum suramadu.

Berdiri di kawasan satu kilometer dari gerbang tol jembatan suramadu, pesantren itu dibangun di atas lahan seluas 20 m x 60 m dengan bangunan yang setidaknya agak berbeda dengan bangunan pesantren salaf pada umumnya. Biasanya daerah dari setiap pesantren salaf yang ada adalah dengan menjadikan kamar mandi sebagai salah satu tempat berkumpulnya para santri dari berbagai daerah yang berdomisili di pesantren tersebut. Di pesantren itu tidaklah demikian. Kamar mandi dari pesantren itu nantinya akan dibangun sebanyak kamar tidur yang ada. Sebanyak bilik yang ada, sebanyak itu juga kamar mandinya. Selain meminimalisir terjadinya antrian yang tidak dapat terkendalikan, tentunya hal itu dapat meningkatkan tenggang rasa dari setiap pemilik bilik yang ada sekaligus dapat lebih menjaga kamar mandi yang dimiliki oleh setiap biliknya. Selain juga dapat dijadikan sebagai parameter dari kebersihanan anggota kamarnya. Karena barang siapa yang kamar mandinya tidak terawat maka jawabannya sudah jelas, karena pemiliknyalah tidak merawat. Setidaknya, memang seperti itulah rumusan sederhananya.

Selain hal kamar mandi tadi, pesantren itu juga menyediakan air mineral sebagai sumber penghilang dahaga bagi para santri yang nantinya akan menetap disana. berbeda dengan pesantren salaf  pada umumnya yang menjadikan air kran sebagai sumber penghilang dahaga bagi para santri yang menetapinya. Dua perbedaan itulah yang nantinya akan didapatkan oleh santri disana. walaupun masih akan mereka dapatkan hal yang sama dari pesanten-pesantren salaf pada umumnya.

Pada mulanya, sebetulnya,  pesantren yang tahap pembangunannya sudah mencapai lima persen ini bukanlah diniatkan untuk menjadi pesantren. Melainkan untuk dijadikan sebuah penginapan berbayar semacam villa-villa yang sudah ada. Pada mulanya seperti itu. Namun ketika disuatu waktu, ketika H. Abdurrahman nafis –sepupu dari H basuni Ghofur, alumni pondok pesantren raudlatul ulum satu, pendiri pondok pesantren Raudlatul Ulum Suramadu- berkunjung dan meninjau progres dari pembangunannya, ia melihat bahwa apa yang dibangunnya sekarang ini bukan hanya mirip dengan penginapan berbayar pada umumnya, melainkan juga mirip dengan pondok pesantren pada umumnya.  Karena itu, terbesitlah dalam hatinya untuk menjadikan apa yang dibangunnya saat ini sebagai pesantren. Dan karena kejadian terbesit itulah sehingga maklum dikata bila pesantren itu mempunyai tata letak yang setidaknya agak berbeda dengan pesantren salaf lainnya.

Ketika ditanya tentang basis dari pesantren yang akan diampu oleh beliau itu, apakah akan dibasiskan pada kitab klasik, alqu’an atau bahkan hadist, yang notabenenya adalah salah satu study ilmu yang beliau tekuni,  beliau K. Ma’ruf Khozin –putra ke-4 dari pasangan KH. Khozin Yahya dan nyai Hj. Maftuhah, ketua komisi fatwa MUI Jawa Timur, direktur aswaja center PWNU Jawa Timur- menjawab bahwa mungkin kebelakangnya bisa jadi iya. Tapi, lanjut beliau, memikirkan pesanten untuk dibasiskan suatu study tertentu itu kiranya suatu pemikiran yang agaknya masih terlalu jauh. Bayangkan saja bahwa untuk menjadi pesantren yang dapat berdiri dikaki sendiri saja setidaknya sudah memakan 4 atau bahkan 5 tahun lamanya. Apalagi berkehendak untuk menjadikan sebuah pesantren yang berbasis hadist, sumber kedua dalam islam setelah alqur’an yang untuk dapat memahaminya saja haruslah mempunyai peralatan lengkap. Mulai dari yang terdasar seperti nahwu dan shorof hingga yang tertinggi seperti manthiq dan balaghah. Karena agak jauh itulah, beliau telah meminta kepada salah satu pondok terdekat, al-Akhyar, untuk membantu beliau dalam proses belajar mengajar.



Selayang pandang mengenai pengasuh dari pesantren itu adalah K. Ma’ruf Khozin. Salah satu putra mahkota pondok pesantren Raudlatul Ulum 1. Rihlah ilmiahnya beliau mulai dari bangku mi raudlatul ulum putra. Hari sabtu ditahun 1994, 2 hari setelah selesainya ujian nasional yang beliau lakukan, beliau diantar langsung oleh abahnya untuk nyantri di pesantren al-Falah Ploso Mojo Kediri. Di pesantren itu beliau pernah mendirikan satu forum yang mewadahi minat kreativitas para santri. Fordis namanya.

Delapan tahun berlalu dan di tahun 2002 beliau memutuskan untuk boyong sekaligus menikah. Di tahun yang sama, disebelum boyong, beliau menikah dengan salah satu santri putri asal Surabaya, Wiya namanya.

Demikian. Sekian. Wassalam.[]



 

Monday, 1 February 2021

A Nga Nga (sosok)

 



A Nga Nga

Oleh: Abilu Royhan

Siapa yang tidak tahu kitab yang membeberkan tentang etika belajar. Yang sangat masyhur di kalangan pondok pesantren. Yakni kitab ta’limul muta’allim atau yang akrab dengan sebutan kitab taklim mutaklim (lidah jowo dan medureh). Kitab yang dikarang oleh syekh Azzarnuji karena beliau melihat banyak dari pencari ilmu yang tidak dapat meraih ilmu yang dia cita-citakan. Atau dia telah meraih ilmu itu, tapi ilmu itu tidak bermanfaat baginya kecuali hanya sedikit. Itu karena mereka salah atau bahkan tidak tahu tentang etika mencari ilmu. Dalam kitab ini ada sebuah keterangan tentang etika berguru atau mencari guru. Disitu diterangkan bahwa sebaiknya murid itu mencari guru yang lebih alim, lebih wira’i, lebih tua darinya dan lain sebagainya.

Siapa yang tidak tahu kitab yang menerangkan tentang tasawuf. Kitab yang sering dikaji dimana-mana. Yakni kitab bidayatul hidayah karangan Imam Abu Hamid Al-Ghazali atau yang masyhur dengan nama Imam Al-Ghazali. Kitab yang banyak menerangkan tentang ilmu tata krama dan juga anjuran untuk meninggalkan maksiat-maksiat yang dilakukan oleh seluruh anggota tubuh, baik dhohir atau batin. Di sana teman akan menemukan keterangan tentang macam-macam maksiat yang dilakukan oleh anggota tubuh seperti mata, mulut, telinga, dan yang lainnya termasuk hati. Termasuk maksiat hatiadalah al-kibr yakni merasa lebih baik dari orang lain dan menganggap yang lain itu lebih buruk darinya.

Dan satu lagi, siapa yang tidak tahu orang yang satu ini. Kelahiran Malang 7 oktober tahun 1994, yakni Ustadz Rif”an Fathoni. Salah satu asatidz Pondok Pesantren Raudlatul Ulum satu (PPRU 1) putra. Beliau mulai menimba ilmu di PPRU 1 ini pada tahun 2013, setelah beliau menimba ilmu di Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin di Ampel Gading sana, dekat dengan rumah beliau. Beliau mulai nyantri di Pondok Pesantren Raudlatut thalibin sejak kelas 3 MI, tepatnya tahun 2003 sampai 2013, yang seterusnya beliau melanjutkan rihlahnya mondok di PPRU 1 ini. Maka jika dihitung-hitung sampai saat ini (2021), beliau kira-kira telah mondok 18 tahun. Hebat bukan?Beliau adalah guru dari sang penulis sendiri. Tepatnya guru ketika penulis duduk di karpet Isadarma (bukan ‘bangku Isadarma’, karena sistem pondokan, selain itu Isadarma tidak punya bangku) kelas dua dan tiga. Ketika itu yang diajarkan oleh beliau adalah dua kitab yang telah disebutkan di atas. Kitab yang banyak memaparkan keterangan tingkah laku  dalam mencari ilmu dan tingkah laku sehari-hari.

Salah satu keterangan yang telah tertulis dalam paragraf kedua diatas, yakni “termasuk maksiat hati adalah al-kibr yakni merasa lebih baik dari orang lain dan menganggap yang lain itu lebih buruk darinya”. Sebagian senior di pondok pesantren itu tidak mudah akrab dengan santri yang junior. Itu mungkin di dalam hati mereka terdapat rasa al-kibr. Sehingga mereka merasa tidak level berteman dengan santri junior. Atau mereka takut kehilangan harga dirinya, karena berkumpul dengan santri yang lebih junior. Tapi beliau tidak seperti mereka. Beliau bahkan hampir akrab dengan seluruh santri. Beliau tidak takut diremehkan oleh santri yang lebih junior. “Kita harus bisa mengambil hati mereka dulu, baru kita dapat mengatur mereka” karena itu prinsip dari pengurus ketua bidang taklimiyah yang satu ini.

Adapun paragraf sebelumnya ada sebuah keterangan, yakni “etika berguru atau mencari guru”. Penulis merasa tidak salah dalam memilih guru. Karena disamping beliau mengajarkan ilmu secara lahiriyah, yakni dengan memberi kajian dua kitab di atas kepada muridnya. Beliau juga mengajarkan muridnya melalui perilaku beliau setiap harinya. Artinya beliau juga memberi nasehat sikap, bukan hanya nasehat ucapan belaka. Itu dapat dilihat dari kebiasaannya sehari-hari. Mulai dari pakaian yang tidak terlalu mewah. Seperti yang dikatakan dalam kitab ta,lim muta’allim bahwa “pencari ilmu sebaiknya tidak terlalu menyibukkan dirinya dengan urusan dunia”. Atau perilaku beliau yang lain. Contoh, beliau mempunyai sifat tawakal yang bisa dikatakan cukup tinggi. Itu bisa diketahui dalam keseharian penulis ketika bersama beliau. Penulis pernah bertanya tentang seragam Isadarma yang belum dibayar. Beliau hanya menjawab “tenang ae, iku opo jare emben-emben”. Setiap penulis menanyakan suatu hal yang butuh sesuatu, sering beliau menjawab seperti itu. Tapi disamping itu beliau bukan berarti hanya diam saja. Nggak. Beliau tetap berusaha mencarikan jalan terbaik dalam setiap masalah yang dibincangkan dengan penulis.

Termasuk etika dalam belajar adalah pencari ilmu sangat dianjurkan untuk berkhidmah kepada guru atau yang biasanya disebut dengan ‘mengabdi’, bukan hanya mengaji saja. Karena dengan mengabdi kepada guru merupakan jalan untuk mendapat barokah guru. Dan itu telah banyak dilakukan oleh para Kyai dan Ulama terdahulu, termasuk para Kyai dan Ulama Indonesia. Beliau pernah bercerita kepada penulis, bahwasanya ayah beliau pernah memberi pesan kepada beliau sebelum beliau berangkat mondok. Ayah beliau memberi pesan yang cukup sederhana tapi penuh makna “leee... kamu tidak boleh boyong, sebelum kamu bisa menuangkan air kedalam gelas”. Pesan ayahanda itu tidak di mengerti oleh beliau ketika ayahnya berpesan saat itu. Tapi lambat laun, setelah beliau banyak menimba ilmu di pondok pesantren yang pernah beliau singgahi. Akhirnya beliau mengerti pesan dari sang ayah itu “jangan boyong, sebelum kamu mendapat barokah dari gurumu” kata beliau. Beliau mengibaratkan ilmu itu sebagai air, adapun gelas itu adalah barokahnya. “jadi... ketika seseorang telah mendapatkan ilmu tapi dia tidak mempunyai barokah dari gurunya, maka ya... akan tumpah” begitulah lanjut ucapan beliau. Sehingga beliau mempunyai sebuah kata mutiara‘A Nga Nga’  singkatan dari ‘ayo ngaji ayo ngabdi’. Mungkin itu terinspirasi dari kata ayahanda beliau. Semoga kita dapat meneladani cerita beliau diatas, sehingga kita dapat menerapkan kata  mutiara beliau ‘A Nga Nga’. Kata itu menganjurkan para pencari ilmu untuk tidak hanya mengaji saja tapi juga mengabdi.

Thursday, 31 December 2020

WALI DIATAS WALI (CERPEN)


 WALI DIATAS WALI

Oleh: Mursyid Hasan


“Piringan Matahari Hampir Lenyap Di Tepi Langit

Berganti Malam Yang Dingin Merasuk Kulit

Kau Bagaikan Senja

Yang Datang Sekejap Lalu pergi”

Cerita menarik seputar kewalian KH Yahya Sabrowi  ini kami dapatkan sumber datanya dari salah satu alumni sepuh yang sekarang tinggal di Kecamatan Wajak desa Sumber putih, beliau bernama H Kholid, mungkin nama beliau kedengaran asing di telinga kita, namun tidak diluar sana.

Saat acara Turun daerah “Turda Isadarma” kami berkempatan ngobrol sejenak dengan Aba Kholid sebutan kami, beliau termasuk orang yang ramah dan bersahaja, di sela-sela obrolan kami beliau sempet menceritakan saat mondok dulu di Raudaltul Ulum 1.

KH Yahya Sabrowi terkenal dimata masyarakat dan santrinya sebagai sosok yang istiqhomah nan karistamik dalam bidang keilmuan dan ibadah, salah satu yang paling di ingat adalah selalu istiqomah untuk menjadi imam bagi santri-santri beliau.

Suatu saat Ketika KH Yahya Sabrowi jatuh sakit Songkan dalam bahasa madura, yang tidak memungkinkan beliau menjadi imam di musholla putra, Aba Kholid selaku abdi dalem Kyai Yahya beliau di panggil oleh Nyai Mamnumah Bukhori perihal sakit yang di derita oleh Kyai Yahya.

Nyai Mamnunah memerintahkan Aba Kholid untuk sowan dan minta barokah doa  kepada ulama karismatik bernama Kh hamid pasuruan, suapaya kyai yahya bisa menjadi imam bagi santri-santrinya lagi.

Dengan ketawadluan dan penuh kehati-hatian beliau berangkat menuju kota pasuruan dengan membawa titah dari Nyai sepuh.

Sesampainya di kediaman ulama yang terkenal dengan kewalian ini sudah banyak orang yang ingin sowan kepada beliau, saat itu beliau sedang bermunajat kepada Allah di musholla yang beliau bangun.

Saat ulama karismatik ini keluar dari musholla beliau langsung berkata kepada Aba kholid yang sejak tadi menunggu beliau

“Ojok jalok dungo nang aku cah, aku iki guduk dukun”, dawuh Kyai Hamid singkat. Kata-kata ini mengagetkan aba kholid, pasalnya beliau sepatah katapun belum  menyampaikan maksud kedatangannya ke kota pasuruan.

Keringat mulai berkucur deras detak jantung mulai tidak stabil

Aku tergetar

terkapar

ketika Ia memandangku

kekasih….

pada wajah Guruku

“Ngapunten Kyai, maksud kadatangan saya kemari karena dapat titah dari Nyai mamnunah Bukhori untuk minta barakah doanya, karena saat ini Kyai Yahya sedang sakit” Ucapan beliau terbata-bata karena kyai hamid terus memandangi wajah beliau beliau.

Belum sempet beliau meneruskan dawuhnya, kyai hamid sepontan dawuh.

“Wes mole ae awakmu cah, kyai yahya kui wali, iso dungo dewe”, Bahasa jawa sambil menepuk pundak beliau lalu berlalu meninggalkan aba kholid serang diri

Pulang saja cah, kyai yahya itu wali, bisa doa sendiri

Dengan perasaan bersalah karena tidak mendapatkan apa yang di minta oleh Nyai Mamnunah, aba kholid memutuskan pulang dengan wajah lesu dan sedih. Dalam hatinya bergumam

“Opo seng kate tak sampekno nang Nyai sepuh”, Apa yang harusnya saya sampaikan kepada nyai sepuh.

hatinya terus di hinggapi rasah bersalah karena pulang tanpa membawa kabar gembira.

Terbiasa diam seribu bahasa saat aku merasa bersalah
Ingin memulai bersua namun nyali tak seberapa
Mencoba berteriak kepada semesta untuk melepas sesak di dada
Lega memang, tapi tetap saja tak mengumpulkan daya untuk berkata

Sesampainya di Gerbang pesantren betapa terkejutnya Aba Kholid melihat santri berjamaah di imam oleh Kyai Yahya Sabrowi, padahal keberangkatan beliau ke kota pesantren Sosok karismatik itu masih terbujur lemas di atas tempat tidur.

Beliau masih di buat takjub dengan kejadian yang baru saja beliau alami.

Ntah harus dari mana ku memulai cerita ini

Dan kepada siapa cerita ini ku mulai
Kabut sunyi perlahan mulai merayap

Ingin rasanya ku bertemu denganmu
Tapi, menyapamu saja aku tak mampu
Lalu, apa dayaku?
Bahkan anginpun membisu

Mungkin bagiku cukup Tuhan yang tahu
Tentang apa dan bagaimana perasaanku
Karena bahagiaku, masih bisa menyelipkan namamu dalam setiap doa

Agar aku selalu mendapatkan ridlo dan barakahmu.

 

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِمَشَايِخِنَا وَلِمَنْ عَلَّمَنَا وَارْحَمْهُمْ، وَأَكْرِمْهُمْ بِرِضْوَانِكَ الْعَظِيْمِ، فِي مَقْعَد الصِّدْقِ عِنْدَكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

PERIHAL WAFATNYA KIAI MUJTABA BUKHORI (sosok)


 

PERIHAL WAFATNYA KIAI MUJTABA BUKHORI

Oleh: Gus Madarik Yahya 


Almarhum KH Mudjtaba Bukhori wafat pada 16 Desember 2020, jam 23:10 WIB di RS Panti Nirmala Malang. Kabar itu diinformasikan oleh putranya sendiri. Gus Hasbullah Huda melalui aplikasi WhatsaAp.

Rawat inap beliau bukan kali pertama, putra bungsu kiai Bukhori Ismail itu telah menjalani perawatan intensif di rumah sakit yang sama sejak bulan puasa 1441 H yang lalu.

Sebetulnya tentang ajal yang akan menjemput beliau sudah dirasakan oleh anggota keluarga. Hal ini terbaca dari tulisan WhatsaAp Gus Has, panggilan akrab Gus Hasbullah Huda itu.

Saat ditanya bagaimana Yai Mudjtaba ketika dirawat di rumah sakit? Wakil Rektor II IAI Al-Qolam Gondanglegi itu menjawab: "Semoga saja ada harapan sembuh. Tetapi kami pasrah mengenai keadaan kai."

Rasa tawakal pihak keluarga semakin kuat tatkala Yai Mudjtaba memerintahkan langsung Nyai Surohah untuk melakukan beberapa hal:

 

1. Agar menyediakan kain kafan.

2. Agar mencuci kain kafan itu dengan air zamzam.

3. Agar membuat nisan yang telah diukir atas nama beliau.

4. Agar segera membeli sapi.

 

Bahkan, lanjut istri kiai Mudjtaba, beliau berkenan menyaksikan saat kain penutup mayat itu dicuci.

Menurut Nyai Surohah, semua permintaan beliau diupayakan untuk dituruti. Cuma satu permintaan yang belum kesampaian, yaitu kiai Mudjtaba ingin sekali bertandang ke Nyai Sepuh. Menurut Ibu Nyai Pengasuh PP Al-Bukhori itu, demikian ini dilakukan semata-mata karena mempertimbangkan faktor kesehatan.

Untungnya, Nyai Mamnunah Yahya sempat menjenguk adiknya itu tatkala pulang dari rumah sakit sebelum jatuh sakit yang terakhir.

Sepulang rawat inap sebelum ke rumah sakit yang terakhir ini, kepada putri-putri kiai Qosim Bukhori saat menjenguk, Ketua YPRU Ganjaran Gondanglegi Malang itu menanyakan kiai Qosim, "demmah gemblung juyah mik tak nik ngonik ih sengkok [kemana gemblung itu kok gak jemput aku]." Entah ujaran beliau ini hanya berkelakar atau apa, tetapi yang jelas kedua kakak beradik itu memang sangat akrab. Sehingga dengan mudah kami menebak sebenarnya beliau sudah merasa bahwa tutup usianya telah dekat.

Cerita mengenai ketajaman firasat orang-orang sholeh merupakan hikayat yang lumrah di dengar, termasuk Yai Mudjtaba Bukhori. Lebih-lebih status beliau sebagai seorang Mursyid Thariqah Naqsyabandiyah yang diyakini khalayak umum. Khususnya para ikhwan-akhawat yang memiliki pandangan ke depan melebihi masyarakat umumnya.

Gus Abdul Latif pernah berkisah bahwa suatu saat ia mengikuti tawajjuh dzikir yang dipimpin kiai Mudjtaba Bukhori. Di tengah-tengah ritual berlangsung, putra kiai Zainulloh Bukhori itu bergumam dalam hati, "masak, bacaan seorang Mursyid salah-salah." Pasalnya, Gus Abdul Latif mendengar bacaan Yai Mudjtaba agak kurang tepat dilihat dari kaidah nahwu-shorof.

Langsung saja Yai Mudjtaba menghampiri keponakan itu sembari berkata: "Engkok keng su kesusu cong..! [Aku hanya tergesa-gesa nak...!]," seraya menghardik dengan tasbihnya.

Padahal ungkapan Gus Abdul Latif hanya terlintas dalam alam pikirannya saja.

NAMANYA FAHAM (sosok)


    

  NAMANYA FAHAM

Oleh: Muhammad farhan

Namanya faham, Mungkin, itulah makna yang digantungkan di lauhul Mahfudz sana oleh kedua orang tuanya.

Sosok yang baru mondok beberapa hari ini, sebetulnya sosok yang sudah tinggal lama di bawah birunya langit desa santri. Walaupun masih berada dikelas tiga III MI (madrasah ibtidaiah) tapi lihatlah! Niatnya untuk mondok tak dapat ditumbangkan oleh angin yang menerjang. Bahkan bujukan orang tuanyapun untuk mondok ketika hendak kelas enam (VI MI) tak dapat mempengaruhi niatnya yang tertancap mantap dalam hati.

Namanya Fahmi. Untuk maknanya? Untuk sementara ini, anggap saja, makna dari nama yang disematkan oleh kedua orang tuanya adalah faham.

Setidaknya, harapan itulah yang oleh kedua orang tuanya terus ditumpuk dalam lubuk. Bukan hanya sebatas memahami suatu kata demi kata dalam buku bacaan, tapi tentu lebih dari itu. Dapat juga memahami gores demi gores yang dicipta oleh si-esa. Dengan harapan itulah, kedua orang tua nya menamainya dengan fahmi.

Bukankah memang sangat penting hukumnya bila kita harus bisa memahami suatu perkara? Bukankah apa yang ada di dunia sebetulnya hanya berdasarkan pada pemahaman belaka? Tidak dengan lainnya. Bukankah memang seperti itu adanya.

Tapi jangan sampai dilupa bahwa untuk memahami suatu hal yang dianggap penting, akan dihadapkan dengan kondisi yang genting. Bukankah suatu hal yang mewah harus juga dihadapi dengan susah payah?

Berlian misalnya. Berlian yang berada di dasar samudra atau yang sudah ada di muka dunia, esensinya sama, susah untuk mendapatkannya. Untuk dapat memiliki berlian yang masih berada dasar samudra, tentu dibutuhkan keberanian. Untuk berlian yang ada di muka dunia, tentu dibutuhkan banyak pengeluaran.

Sudah jelas bukan bahwa esensi dari padanya sama, walau di dua tempat yang berbeda. Bila berlian itu masih berada di dasar samudra, maka tentu harus berani untuk berhadapan dengan ikan buntal yang ganas, ikan pari yang menyengat,bahkan ikan hiu yang mematikan. Bukan hanya keberanian, harga dari nyawa yang konon tak terhingga, kini juga harus dipertaruhkan, bila kegiatan menyelam sudah dilakukan.

Bila berlian itu sudah berada di muka, bila anda ingin memilikinya, kumpulan koin yang berasal dari tetesan keringat yang terkumpul bertahun-tahun lamanya, akan hilang dalam sekejap mata. Bayangkan saja, untuk Anda yang ingin memiliki 1 karat berlian dengan kualitas yang buruk, uang yang harus anda keluarkan minimal dikisaran harga 7.500.000. Namun bila yang ingin anda miliki adalah 1 karat berlian dengan kualitas terbaik, maka uang yang harus anda keluarkan minimal dikisaran harga 438.656.000. fantastis bukan? Itu artinya, bila anda ingin mempunyai berat minimum dari sebuah berlian, Anda setidaknya terhadap uang 7.500.000 harus mengeluarkan.

Pemahaman juga demikian. Baik yang masih berada di dasar samudra atau yang sudah berada di muka, harga dari kata paham, hingga kini, untuk dimiliki, masih terlampau tinggi.

Layaknya berlian yang harganya tak dapat dijual di toko-toko pinggir jalan, kata pemahaman pun juga demikian. Untuk dapat memiliki kata paham dengan kualitas yang buruk saja, sekaligus kuantitas yang minimum, anda harus merogoh lebih dalam kerja keras yang ada dalam diri anda, bila ia masih berada di dasar samudra. Namun bila ia sudah berada di muka, maka yang harus anda keluarkan adalah sejumlahrupiah.Bahkan sepupu dari utusan agung muhammad, ali bin abitholib, pernah berkata bahwa harga dari satu huruf bisa mencapai dikisaran 4.600.000.

Dari kesulitan demi kesulitan tadi itulah, maka patut kiranya orang yang memiliki kata paham akan berbangga hati sekaligus berbangga diri. Walaupun, untuk yang kedua, dalam tatanan agama, masih haram hukumnya. Karena memang tak semua orang dapat menyelam di samudra lepas atau terhadap teringat selalu memeras.

Dari panjang lebarnya keterangan, setidaknya ada 1 benang merah yang dapat kita tarik dari rangkai demi rangkai benang hitam yang sudah dijelaskan. Bahwa, bila sudah seperti itu adanya, maka makna dari kata Fahmi, yang digantungkan dilauh mahfudz, saat ini bukanlah bermakna pemahaman, melainkan sudah bermetamorfosis menjadi berlian.

Menakjubkan bukan?

 

 

 

 

 

Tuesday, 15 December 2020

DIBALIK PARASNYA YANG TAMPAN. DIA JUGA BAGIAN DARI PERAMAL YANG HANDAL

 


DIBALIK PARASNYA YANG TAMPAN. 

DIA JUGA BAGIAN DARI PERAMAL YANG HANDAL

Oleh: Mukhlis Akmal Hanafi

 Tempat asalnya adalah bumi khatulistiwa. Tempat dimana matahari pas di ujung kepala, dan tempat terjadinya perang antar suku yang berbeda ”dayak vs madura. Dibawah matahari dan pas ditengah perut bumi. Pontianak selalu di kenal dengan panasnya bahkan jika dibandingkan dengan surabaya, itu hanya bagian abunya saja. tak heran jika anak pontianak memiliki paras yang biasa saja, tapi tidak dengan bang lie.

Ust. Shodiq atau yang lebih mashur disapa bang lie ini “Nama laqabnya lebih dikenal daripada nama aslinya” sama seperti Syaikh Abdurrahman bin Shakhr Al-Azdi yang lebih dikenal dengan nama Abu hurairah. Nama itu seakan sudah menjadi bagian dari hidupnya mendarah daging baginya. Tak heran jika santri yang baru lahirpun istilah bagi santri baru mengikuti hal yang serupa.

Sekelumit tentang kisah hidupnya. Bang lie berlayar pada tahun 2006. sebagai santri tertua saat ini. Bukan hal mudah baginya berlayar ke Malang. Ia harus menerjang gemuruhnya ombak yang gak karuan serta melawan rasa sakit saat di perjalanan. Dia beralasan. Dia mabukan. Sebuah penyakit yang katanya berasal dari perdesaan atau bahasa kasarnya disebut “kampungan.

Yah dia (bang lie) memang memiliki paras di atas rata-rata. Meski umurnya sudah terbilang tua. Tapi wajahnya tak termakan usia. Sementara manisnya dan gairah tawanya tidak habis di makan semut begitu saja. Tak heran jika kebanyakan anak putri atau bahkan perempuan di luar sana akan selalu membayangkan satu kamar dan satu bantal denganya. Serta menjalin keluarga hingga ujung nyawa akan memisahkan mereka berdua. Baginya hal yang paling mudah adalah menaklukkan hati wanita. Melihat wajahnya seakan menunjukkan berhati mulia. Dan dibalik senyumnya tersimpan gombalan magis yang bikin geleng kepala. Buktinya “cinta sak kreseek” menjadi viral di social media. Tentunya perempuan akan memasang badan dan memastikan itu semua.

Sepasang foto tersimpan di internalnya. dengan sedikit quetes yang mengisahkan tentang kisah hidupnya. Dalam pengakuanya ia bercerita. Ada beberapa foto yang memiliki kenangan yang muram. tentang perempuan yang pernah dicintai semasa dia masih duduk di bangku kuliah. Ada juga foto yang tak terpasang di Hpnya. Tepatnya saat ada perempuan maba (mahasiswa baru) yang pingsan akibat ketampanannya.

Apakah bang lie pernah ditembak? Dalam ceritanya, ia pernah merasakan tembakan pertama. Tak perlu di sebutkan namanya. Ia mengakui kesalahannya. Namun itulah resiko yang  harus ia terima. Menjadi orang tampan dan pendiam. Sama seperti cantik itu luka. Dia juga mengalami hal yang serupa “Ganteng itu luka” baginya “ganteng menyiksaku”

Meski wajahnya tampak garang saat dia menjadi keamanan. Badanya tangguh perkasa sebagaimana ketua keamanan sebelumnya. Dan tak habis-habisnya mengeluarkan mantra-mantra dari lisanya. Bang lie tetap manusia biasa. Gemuruh tangisnya pernah membasahi pipinya. Bibirnya sudah tidak ada kata-kata. seolah ia sudah kehilangan perempuan yang dicintainya. Sebab tidak direstui oleh ibunya. Info yang lain Nyai sepuh juga tidak merestuinya.

Usut punya usut. Dia juga bagian dari peramal yang handal. Tak tanggung-tanggung sebuah kata taukid penguat melekat dalam kata “Handal. Mustahil di percaya memang. Bahkan aku sendiri tidak seratus persen mempercayainya. sebab hidupnya hanya didekasikan untuk tersenyum cengingiran serta bercerita dan mendengarkan cerita dari teman lainnya. Hinga tak jarang ia terlihat bercerita sekedar meramal apa saja yang telah dilihat sebelumnya. Dan menulusuri benda-benda yang ada di depan matanya. Itu seakan-akan sudah menjadi ahlinya. Melihat hal yang tidak ada menjadi ada yang tidak bisa di lakukan oleh orang lain pada umumnya.

Metode meramal persyaratanya cukup gampang. Hanya menyebutkan nama tanpa harus memberikan asal dimana ia tinggal dan segala macam. Asal bang lie tau orangnya dan tau wajahnya. Atau jika tidak demikian. Tinggal meyetorkan foto secara diam diam.

Meramal baginya adalah suatu pekerjaan yang sulit-sulit gampang. Sebab prosesnya lama dan tak mudah baginya melakukannya. Selain lama ia juga harus menahan getar getirnya malam. Membuka mata telanjang. Mengembalikan daya fikir agar kembali bugar. Dan ia juga harus melakukan wiridan spritual. yang istiqomah di baca di sepertiga malam. hingga tak jarang ia banggun. sekedar membaca mantra yang konon ia baca mulai dari tahun 2010. tepatnya sepuluh tahun yang silam.

          
            Peramal merupakan keahlian yang khusus dan jarang di mliki oleh orang. Dan bang lie mampu memiliki itu. Mata batinya seolah melihat apa saja. Dan mata hatinya seolah rapuh oleh kisah cintanya. menarik di tunggu kisah-kisah yang tentunya di nantikan oleh para fansnya.

Foto ini diambil saat pemanggilan santri di gerbang depan Raudlatul Ulum 1 Doc: (Ketua Keamanan)