Saturday, 21 August 2021

Nyai Maftuhah: Contoh Doa Dan Usaha Yang Sungguh-Sungguh

Nyai Maftuhah: Contoh Doa Dan Usaha Yang Sungguh-Sungguh

Oleh: Gus Mad

~~~

Sebaiknya perawatan jenazah (memandikan, mengkafani, mensholati, menguburkan) ditangani oleh keluarga terdekat, semisal anak dan saudaranya. Begitulah selayaknya. Cuma biasanya mayoritas masyarakat seringkali memasrahkan kepada para tokoh atau pihak berwenang dari desa.

Pada perawatan Nyai Maftuhah Khozin, genap sudah jasad Dewan Pengasuh PP Raudlatul Ulum 1 Ganjaran Gondanglegi Malang itu di urus oleh tangan² putra²nya. Ning Habibah (ikut memandikan), Gus Nasihuddin (persaksian), Gus Ma'ruf (imam sholat) dan 2 putra + Gus Ghozali (mengebumikan).

Apa yang diabdikan anak² almarhumah itu cukup menuju sempurna. Kenapa? Diantara alasan yang paling tepat seperti diungkap sendiri oleh Nyai Maftuhah ketika meminta agar pihak yang mempersaksikan dirinya kelak saat wafat adalah putra²nya. Kata beliau: "Sebab yang paling tahu tentang aku adalah anak²ku."

Alasan lain adalah acapkali pengabdian tak berujung pada kesungguhan kecuali dari anak kepada kedua orang tuanya. Contohnya mensholati mayit. Secara bahasa sholat merupakan doa, berarti mensholati jenazah sama halnya mendoakannya. Sangat lumrah doa hanya berbentuk setengah hati, gara-gara yang didoakan merupakan orang lain.

Betapa dahsyat doa yang dipanjatkan buah hati dari jasad kaku yang telah melahirkannya, pasti terbesit kesungguhan yang kuat ketika memohon. Dalam peristiwa Nyai Maftuhah, hal yang ideal telah menjadi fakta.

__________

Selain pesan² yang disebutkan dalam sambutan atas nama keluarga oleh Gus Nasih, ternyata kakak dari ustadz Nawawi Bulupitu itu telah melakukan persiapan² menyambut alam baryakh.

Tanda² tersebut bisa dicermati dari beberapa hal yang dilakukan Nyai Maftuhah, antara lain:

- Beliau investasikan sebagian harta untuk kurban melalui putra²nya, dalam hal ini dipercayakan pada Gus Nasih. Dengan lugunya beliau menyatakan ingin hewan segagah yang dikurbankan Bupati Malang, kemudian keinginan itu mengundang tawa putra²nya karena ongkos yang dipunyai tidak sebanding.

- Beliau juga mengabadikan keuangannya lewat umroh. Konon, dana itu telah disalurkan melalui salah satu putranya, dengan perkataan: "Siapa pun dari anak²ku yang umroh, aku ikut."

Anak mana yang tega mengesampingkan niat manasik orang tua sementara ajal telah menjemput? Pasti akan dihajikan/diumrohkan sekalipun tanpa biaya. Nah, kala masih hidup, Nyai Maftuhah masih menitipkan dana untuk niat tersebut di saat putra²nya telah mapan.

- Konon, beliau masih sempat menitipkan "biaya selametan saat wafat".

- Saat berobat yang terakhir, putra yang mengantar beliau hanya mendengar suara "Alhamdulillah," sebelum tak sadarkan diri yang selanjutnya menghembuskan nafas terakhirnya.

__________

Pantas, dalam statusnya Gus Hasbullah Huda berkomentar:

"Nyai Maftuhah adalah contoh doa dan usaha yang sungguh². Semenjak alm. KH Mudjtaba masih ada, beliau sering bersilaturahmi sambil mengharap agar kelak ketika wafat bisa berdampingan dengan sang suami tercinta, alm. KH Khozin Yahya. Kini keinginan beliau terkabul, berjumpa dan berdampingan."

Mengenang 7 Hari Wafatnya Hj. Maftuhah Khozin

 

Mengenang 7 Hari Wafatnya Hj. Maftuhah Khozin

Oleh: KH. Nasihuddin Khozin Al-Khuzainy

2005

Saya bersama umi, istri saya Luluk Mamluah, dan kedua anak saya --Aghis dan Amor-- melakukan rihlah di Kalimantan Barat, selama kurang lebih 40 hari. Kunjungan ini dalam rangka silaturahmi kepada sanak famili dan para alumni. Adik umi ketiga, Yai Abd. Syakur, mukim di Peniraman. KH. Qomaruddin, paman umi, ayahnya Sulhan Johan, berdomisili di Sui Pinyuh.

Saat itu kami mengunjungi hampir semua alumni yang tersebar di beberapa wilayah, mulai yang di perkotaan hingga ke pedalaman, termasuk ke Parit Surabaya, Sui Ambawang. KH. Hanafi Khalil, sempat mengabadikan perjalanan dengan speedbord yang menegangkan ini.

----

2016

Saya minta izin ke umi mau jalan-jalan Lombok. Anita Kurniawati, teman sekelas istri saya waktu sekolah MTs RU, tinggal di Mataram bersama suaminya.   Dengan spontan umi menjawab, "Iyeh lok papah. Ken engko nuroah. Engko nyunguah MTQ. (Iya tidak apa-apa.  Tapi saya mau ikut. Saya mau menyaksikan MTQ)" Kebetulan MTQ  Nasional ke-26 diselenggarakan di Mataram, Lombok Barat, NTB.

Kurang lebih seminggu kami tinggal di rumah Anita. Sebelum pembukaan MTQ,  kami sempat mengunjungi alumni di Lombok Utara dan wali santri di Gili Trawangan. Selama MTQ berlangsung, pagi hari saya mengantar umi ke lokasi, lalu saya jemput sebelum Duhur. Setelah istirahat siang, sore saya antar lagi sampai sebelum Magrib. Malam hari istirahat di rumah Anita.

Umi terlihat begitu menikmati acara perlombaan ini. Seolah mengenang pengalaman masa lalu, saat menjadi peserta qoriah tingkat internasional di Kuala Lumpur, sekitar tahun 1967

Dari dua perjalanan ini, yang paling terkenang adalah umi tetap menjaga waktu salat, sama saat beliau berada di rumah. Sekitar tiga puluh atau lima belas menit sebelum azan, umi selalu berwudu dan bersiap-siap untuk salat dengan membaca Al Quran atau berzikir.

---

2018

Adik saya, Gus Ma'ruf Khozin, mengajak umi untuk melaksanakan umroh. Di Mekah, umi sempat bertemu dengan adik beliau yang no 7, Bin Fadli. Sepulang dari tanah suci, umi sering menitipkan uang kepada saya. "Engko metoroah pesse ke kakeh. Gebei apah, apah cang gu agguk. Ken mun kakeh umroh, engko nuroah. (Saya mau menitipkan uang kepadamu. Untuk apa terserah nanti. Tapi kalau kamu mau umroh, saya mau ikut)

Uang yang umi titipkan sebenarnya sudah cukup untuk umroh pada bulan Maulid tahun kemarin, tetapi karena pandemi, rencananya mau berangkat bulan Maulid tahun ini.

Namun Tuhan punya rencana lain. Allah memanggil umi lebih cepat dari yang saya duga.

Kepada semua alumni, wali santri, atau siapapun, dengan kerendahan hati saya berharap, kiranya berkenan menghalalkan dan memaafkan semua kesalahan umi

Allah yarhamuk, Umi


Saturday, 14 August 2021

Menfilter Pop Culture - Oleh Agus Shofi Mustajibullah

 

 

Menfilter Pop Culture

Oleh: Agus Shofi Mustajibullah

Dewasa ini, dunia yang begitu megahnya dapat dilihat dari telepon genggam masing-masing. Ketika seseorang menginginkan sesuatu di luar jangkauannya, dengan telepon genggam ia dapat mendapatkan dengan entengnya. Seperti, zaman dulu yang sangat ingin menonton konser idolanya di luar negeri, sekarang bisa melihat konser idolanya sambil tiduran melalui telepon genggam. Begitulah kemudahan saat ini.

Dengan perkembangan tersebut, para kaum kapitalis memanfaatkannya untuk memproduksi dan memasarkan suatu budaya yang di sebut ‘pop culture’ melalui media massa (termasuk telepon genggam) kepada konsumen massa. Dan itu demi keuntungan mereka sendiri. Contohnya ialah apa-apa yang di interaksikan pada orang-orang setiap harinya seperti cara berpakaian dan sebagainya. Yang tren hari ini apa, itulah pop culture.

Pop culture sendiri memiliki pengertian yaitu totalitas ide, perspektif, perilaku, meme, citra, dan fenomena lainnya yang dipilih oleh konsensus informal di dalam arus utama sebuah budaya. Untuk karakterisitiknya cukup mencengangkan yakni sangat pragmatis, yang berartikan selagi bermanfaat pada penggunanya entah itu salah atau benar, ya fine-fine saja. Orang yang ingin viral dengan melakukan tindakan yang tidak senonoh merupakan representasi pragmatisme yang menjadi ciri khas negeri ini, dan hal itu termasuk pop culture juga di negeri ini. Lebih parahnya lagi, pop culture mengajak penggunanya untuk terus menerus memikirkan kenikmatan yang di inginkan. Misalnya ketika Anda membuka media sossial yang mana merupakan pop culture juga, Anda akan memiliki ketertarikan terus menerus dengan visualisasi indah yang terus di cekoki kepada anda.

Anda tahu Pergaulan bebas? Hal ini juga bisa di indikasikan karena pop culture itu sendiri. Dengan ambigunya pop culture (dari berbagai bangsa dan negara serta wataknya masing-masing) yang sudah menjadi konsumsi Anda serta senantiasa Anda lihat tanpa adanya edukasi yang pasti, Anda akan penasaran, Anda selalu memikirkannya, dan pada akhirnya melakukannya. Like a drunks, narkoboy, slebew sana slebew sini memiliki tendensi besar untuk merusak masa depan seseorang. Dan hasilnya... booommm.... madesu.

Di samping itu semua, menurut Wahyudi, budaya populer itu menjadi penting dan menarik karena merupakan realitas dari masyarakat dan cara atau bagaimana masyarakat mengonsumsi budaya tersebut. Namanya juga zaman, terus maju tanpa memedulikan waktu. Its a life, dunia ibarat kendi yang mau tidak mau menerima air yang berbeda-beda. Pasti ada hal baiknya juga di dalamnya. Intinya pilihlah yang baik saja. Seperti seseorang yang berubah dalam berpenampilan, ia seketika menjadi anggun, menawan, memesona karena mengikuti pop culture.

Seorang santri yang biasa di didik membentuk karakter yang kuat dan kokoh, mereka ora keno ora menghindari hal-hal buruk dari pop culture di tengah-tengah masyarakat. Sebenarnya santri di diamkan di dalam pesantren tanpa bersosialisasi dengan khalayak ramai (uzlah) salah satu tujuannya untuk menghindari hiruk pikuk budaya yang membingungkan (Meskipun mungkin ada satu dua kekurangannya seperti gaptek dan lain-lain).

Tapi tetap, santri harus mampu beradaptasi dengan keragaman di dalam pop culture atau bahkan bisa mendesain pop culture sendiri ala-ala santri sehingga masyarakat dapat mengkonsumsinya. Yasinan, tahlilan, waqiahan harus menjadi pop culture masyarakat (islam) Indonesia.

Wallahu a’alamu bisshoab

~Ada hujan yang turun demi memelihara, ada juga hujan yang turun demi membusukkan. Betapa mengagumkan keuntungan dari hujan pada musim semi, tetapi hujan pada musim gugur bagi kebun seperti terkena demam~

(Maulana Jalaluddin Ar-Rumi)

Wallahu a’alamu bisshoab

Refrensi:

Makalah Kajian Teori Budaya Populer

Website PMB: Studi Sosial: Makna Budaya Pop di Masyarakat

Semesta Matsnawi

Selamat Beribadah - Oleh Muhammad Farhan

 

Selamat Beribadah

Oleh: Muhammad Farhan

Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa salah satu kegiatan terpuji dalam kehidupan beragama adalah beribadah.

Namun sebelum tulisan ini melangkah lebih jauh, mungkin, alangkah baiknya bila kita menyamakan persepsi terlebih dahulu tentang apa itu ibadah. Hal ini perlu, dalam taraf yang sama, dilakukan dengan harapan agar apa yang nantinya dikerangkakan oleh pembaca akan sama dengan pola yang telah dikerangkakan oleh penulis.

Ibadah, atau yang dalam hal ini menggunakan imbuhan ber yang ma’nanya mungkin akan diterangkan oleh guru bahasa indonesianya masing-masing, adalah suatu pernyataan bakti dengan implementasi berupa perbuatan yang dilakukan seorang hamba terhadap tuhannya dengan landasan hukum yag telah ditetapkan oleh tuhan itu sendiri.

Dari definisi yang telah disebutkan, dapatlah kiranya tergambar dalam benak pembaca tentang alasan mengapa penulis menyebukan paragraf pertama dan dapatlah pula tergambar dalam benak pembaca bahwa yang dinamakan ibada tidak hanya berkutat pada penyembahan di lima waktu yang telah ditentukan itu. Akan luas maknannya bila kita membiarkan definisi diatas pada bentuk yang demikian. Karena bila kita menginterpretasikan definisi tersebut dengan penyembahan di lima waktu itu saja maka makna belajar untuk menegakkan agama allah dan tidur untuk alasan yang sebelumnya tidak dinamakan ibadah, tidak ada unsur pahalanya. Tentu akan sangat sayang dikata bila hal yang beru disebutkan dijadikan sebagai patokan.

Alasan mengapa hal tersebut disayangkan akan tampak jelas bila kita mau mencermati potong demi potong sumber hukum dalam islam, hadist dan alquran.

Dalam salah satu hadist disebutkan bahwa wajib hukumnya bagi seoran muslim atau muslimah untuk balajar ilmu. Tidak bisa tidak, harus dilakukan. Dalam hadist lain, utusan agung itu juga menyebutkan bahwa ulama, yang dalam bentuk mufrodnya menggunakan kata alim, yang jika diterjemah kedalam bahasa indonesia akan kurang lebih menggunakan kata orang terpelajar; cendekiawan, adalah pewaris nabi.

Sedangkan dalam alquran disebutkan bahwa alasan allah menciptakan manusia, tiada lain tiada bukan, hanyalah untuk beribadah kepadanya. Tidak bisa tidak, harus dilakukan. Itu artinya ada dua kewajiban yang harus dilakukan secara bersamaan oleh seorang hamba dalam satu tempo. Tentunya, hal yang demikian lebih dekat dengan kemustahilan. Selain akan ada sisi kemustahilan lain yang akan nampak konyol. Jika belajar tidak termasuk kelompok ibadah, lantas bagaimana nasib calon pewaris nabi tersebut?

Jika sudah demikian, maka akan nampak jelas akan kesayangan yang telah penulis sebutkan dan alangkah baiknya lagi bila hal-hal yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari dikaitkan dengan ibadah yang sejatinya hal itu memang ibadah. Karena menurut penulis sendiri, ibadah itu terbagi menjadi dua. Yang pertama adalah ibadah yang sejatinya ibadah. Yang kedua adalah ibadah yang sejatinya bukan ibadah dan yang kedua inilah yang jumlah variannya lebih banyak dari yang pertama. Mulai dari yang berat seperti bekerja sampai kepada yang  ringan seperti tidur. Tapi tentu kedua hal tersebut dengan garis bawah yang cukup tebal.bekerja dengan niatan menafkahi. Tidur dengan niatan membahagiakan istri. Ah, Istri!. Maaf! Jiwa kadal penulis kadang meronta-ronta memang.

Sebetulnya, ada banyak lagi contoh yang dengan sengaja penulis tidak menyebutkannya. Hal ini penulis lakukan agar selain menghemat daya otak penulis, juga menghemat konsumsi tinta printer publikasi.

Sebagai penutup, penulis ingin mengucapkan kepada semua, baik yang sudah baru atau yang baru lama, khususnya lagi teruntuk kamu. Iya, kamu. Eh, maaf! Barusan, Penulis keceplosan. Ulang.

Sebagai penutup, penulis ingin mengucapkan selamat menjalankan ibadah rindu 15 syawal 1442 hijriah. Semoga amal ibadah yang kita lakukan dapat diterima disisinya.

Demikian, sekian, terima kasih[]

 

 

Thursday, 18 March 2021

Bolehkah Santri Pulang dari Pesantrennya?

 



Bolehkah Santri Pulang dari Pesantrennya?

Oleh: Gus Shofi Mustajibullah

Jika ditanya apakah santri boleh pulang dari pesantrennya? Jawabannya jelas-jelas boleh. Bahkan, perlu ditanyakan jika ada santri yang murni betah di Pondok Pesantren dan tidak ingin pulang kerumahnya. Mana mungkin seorang santri bisa menahan kangen yang sudah membuncah, yang sudah lama ditahan untuk bertemu kahadibaan orang tua yang dinanti-nantikan. Namun, ketika tidak dikehendaki oleh para masyayikh, itu beda lagi ceritanya.

Malahan, santri yang pulang (baik itu sekedar liburan ataupun boyong) sebenarnya membawa misi dan tanggung jawab yang berat. Sama halnya dengan tugas-tugas yang diberikan beberapa pesantren untuk mengabdi kepada masyarakat. Loh kenapa? Bukankah itu hal yang menyenangkan? Bagi santri (seyogyanya), melepas lahiriyah dan bathiniyah dari pesantren merupakan pembawaan jati diri pesantren. Tidak ada satupun santri yang tidak membawa bendera kehormatan dari pesantren

Justru, hirarki terberat seorang santri adalah ketika ia sudah tidak ada di pesantren. Mampukah dirinya untuk tetap benar menjadi santri seperti yang dikatakan para masyaikh-masyikhnya. Tidak ada acuan etika di tengah-tengah masyarakat. Jadi, untuk penilaian etika di tengah-tengah masyarakat sendiri masih rancu. Terus menerus menjadi perdebatan. Karenanya, semua santri ditantang untuk memegang teguh etika ilahiyahnya yang dia bawa dari pesantren. Apalagi di saat kondisi seperti ini. Santri tetap dituntut menjadi seorang santri yang sebenarnya. Bukan sekedar membawa alamamater keliling kampung dan di pamerkan bahwasannya dirinya adalah seorang santri.

Kalau memang seorang santri memungkinkan untuk pulang kerumah, pulanglah! Selagi itu memenuhi kerinduan seorang santri terhadap orang tua, teman, tunangan, dan orang-orang rumah, maka pulanglah!

Namun perlu diingat, pesantren memiliki satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan antara keseluruhan dari bangunan pesantren itu sendiri, kyai, dan para santri. Ketika satu diantara itu semua berpisah, seperti contoh santri yang pulang, maka disitulah tumbuh sebuah kerinduan. Pesantren bukan sekedar bangunan turun temurun yang di wariskan, melainkan senyawa yang terus bersatu dengan para santri. Siapa yang tidur di pesantren? Ya santri. Siapa yang berdomisili di pesantren? Ya santri. Siapa yang merasakan suka duka di pesantren, cebok ilang, gak kebagian pajeak maem (makan), kotak sabun ilang (hilang), sendal sesean (sandal dengan waqrna yang berbeda? Ya santri. Kalau begini, siapa yang mau tanggung jawab akan kerinduan ini?

Maka dari itu, kembalilah kepesantren pada waktu yang sudah di tentukan. Penuhilah kerinduan ini yang akan segera berkabung kedepannya. Berjanjilah!

~Lihatlah! Sepasang mataku berlinang air mata. Wajahku pucat, mencoba meraih bibirmu yang sewarna batu akik~

(Maulana Jalaluddin Ar-Rumi)

Wallahu a’alamu bisshoab



 

Friday, 12 March 2021

Tasyakuran Bupati Malang di Raudlatul Ulum 1



Tasyakuran Bupati Malang di Raudlatul Ulum 1

Oleh: Mukhlis Akmal Hanafi

 

Jumat, (12 Maret 2021), Ponpes Raudlatul Ulum 1 Ganjaran secara terbuka namun terbatas menggelar Acara Tasyakuran atas pelantikan Bupati Malang, H. Sanusi dan Didik Gatot Subroto selaku wakilnya di Aula lantai II (dua). H. Sanusi  secara secara resmi dilantik sebagai Bupati Kab. Malang pada Kamis (25/02/2021) Oleh Gubernur Jawa Timur. Sebagai bentuk apresiasi atas kemenangan H. Sanusi yang notabenenya adalah alumnus Pondok Pesanten Raudlatul Ulum 1 Ganjaran, maka diadakananlah acara Tasyakkuran. Sebagai perwujudan syukur atas kemenangan beliau, dan mendoakan agar dapat amanah dalam mengemban jabatan Bupati.

Acara yang dihadiri oleh alumni (perwakilan korda) dan wali santri  berlangsung dengan khidmat.  Mulai dari sambutan hangat didepan gerbang oleh Kh. Mukhlis Yahya dan dewan pengasuh lainnya, serta iring-iringan hadrah sampai penyambutan para alumni yang ikut serta dalam acara tasyakuran. Setelah beberapa saat para Kyai dan bupati berserta tamu undangan duduk rapi, barulah rangkaian agenda acara dimulai. Diawali dengan pembukaan dan sambutan perwakilan Dewan Pengasuh oleh Kh. Nasihuddin Al-Khuzainy.

Dalam sambutannya. Kh. Nasihuddin Al-Khuzainy menyampaikan beberapa poin penting atas keberhasilan H. Sanusi terpilih sebagai Bupati Kab. Malang. Mulai dari saat-saat Abah sanusi (sapaan akrabnya) memilih mencalonkan diri sebagai bupati, sampai dengan keterlibatan para kiyai Ganjaran, santri dan alumni dalam mensukseskan kemenangannya. Tak terkecuali restu langsung dari Nyai Hj. Mamnunah Bukhori (Nyai sepuh) yang dituliskan dalam secarik kertas kemudian surat tersebut diedarkan  kepada Alumni dan juga wali santri.

 Selain itu, Kh. Nasihuddin khozin juga menyampaikan  bahwa “Acara ini secara dhohir merupakan tasyakuran atas terpilih dan dilantiknya Abah H. Sanusi sebagai Bupati Malang priode 2021-2024. Namun secara bathin, tasyakkuran ini lebih terasa sebagai nikmat dan pertolongan dari Allah karena telah melibatkan kita dalam usaha memenangkan beliau.

Abah Sanusi sendiri dalam sambutannya menyampaikan terima kasih tak terhingga atas doa serta dukunngan dari Para kyai, alumni dan simpatisan. Ia juga menegasakan bahwa jabatan ini kehendak dan amanah dari Allah. Serta uang bukanlah ukuran dari keberhasilan. Sebab itu, abah Sanusi juga meminta doa agar diberikan kekuatan dalam mengemban amanah memimpin Kabupaten Malang.

Di sela-sela acara, Bupati menerima cindramata dari pengasuh utama Pondok Pesantren Raudlatul Ulum 1 Ganjaran. Penghargaan itu diberikan kepada H. Sanusi sebagai kenang-kenangan oleh Kh. Mukhlis Yahya.

Selepas sambutan-sambutan dan penyerahan cindramata, acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan  istighosah bersama yang diawali dengan pembacaan tawassul oleh Kh. Mukhlis Yahya, kemudian pembacaan istighosah dipimpin oleh Gus Syarif Hiayatullah, lalu disempurnakan dengan doa. Dalam hal ini doa dipimpin oleh KH. Hasan Qofal dan Kh. Abdussyakur.

Selepas acara, seluruh tamu undangan di persilahkan untuk ramah tamah. Para Kyai, Bupati berserta jajarannya dan tamu undangan lainnya  ramah tamah di kediaman Nyai Hj. Mamnunah Bukhori. Sementara Alumni beramah tamah ditempat yang telah disediakan sekaligus bernostalgia dengan kawan seperjuangan.

Friday, 5 March 2021

UNTUK APA KAU MENULIS? (opini)

 


UNTUK APA KAU MENULIS?

Oleh: Abilu Roihan


Mungkin dari sebagian besar teman-teman timbul pertanyaan dalam hatinya “mengapa mereka menulis? Untuk apa?”. Mungkin mereka belum tahu apa manfaat dari menulis. Memang menulis itu terlihat mudah dan remeh ‘kelihatannya’. Tapi bagi teman yang mempunyai anggapan seperti tadi. Silahkan mencoba menulis sesuatu, apa saja seperti cerpen, berita, resensi atau yang lainnya, menulis sesuai aturan atau tata cara yang berlaku. Maka teman akan merasakan ‘menulis tak seremeh itu’. Setelah menulis, cobalah untuk membacanya kembali apa yang telah teman tulis. Mungkin teman akan senyum-senyum sendiri, karena merasa tulisannya kurang ini, kurang itu, bahasanya terlalu lugu lah, atau ada bucin-bucinnya lah dan lain sebagainya. Itu membuktikan bahwa menulis itu tak semudah dan takseremeh apa yang teman fikirkan. Cobalah!

Untuk dapat menulis, langkah pertama harus memiliki topik terlebih dahulu, harus itu!. “lah wong chat-chat an ajha harus ada topiknya kok” begitulah kira-kira katamu!. Lalu  penulis akan belajar untuk menuangkan apa yang ada di dalam otaknya. Semakin  banyak apa yang ada di dalam otaknya maka semakin banyak pula apa yang akan ditulis. Setelah itu teman akan merasa kesulitan dalam memaparkan apa yang ada dalam otaknya, bagaimana tulisannya supaya tidak terkesan monoton. Untuk itu penulis dituntut untuk mencari cara supaya tulisannya tidak terkesan monoton.

Tentu banyak sekalicara untuk membuat tulisan agar tidak membosankan. Diantaranya dengan membaca. Baik membaca novel, koranatau yang lainnya. Dengan membaca teman akan mengenal dan menghafal banyak kosa kata baru. Dengan kosa kata baru ini penulis mencoba untuk memakainya dalam menulis. Dengan membaca maka tulisan teman akan terlihat lebih indah sedikit demisedikit.

Dengan menulis sebenarnya seseorang akan mendapat banyak manfaat. Diantaranya dia akan mulai suka untuk membaca buku, yang awalnya tidak terlintas dalam fikirannya untuk membaca. Tentu ‘Dengan membaca seseorang akan mengetahui isi dunia’,danitu juga sebuah kemanfaatan menulis yang mungkin tidak mereka duga. Menulis juga melatih kita untuk menerapkan apa yang ada dalam otak. Sehingga  fikiran dan bicaranya akan teratur, bahkan sikapnya. Menulis juga dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah tanpa harus bekerja dengan otot. Cukup dengan memutar otak sekeras mungkin, yakni dengan menulis maha karya yang dapat dan layak untuk dibaca oleh orang lain. Seperti yang dilakukan oleh K.H Mustofa Bisri yakni menulis sebuah naskah yang kemudian dijual karena untuk membayar denda kepada aparat karena sebuah kesalah pahaman. Dengan menulis seseorang juga bisa untuk menjadikan ladang dalam mencari pahala. Itu telah dilakukan oleh para Ulama dahulu.mereka mengarang sebuah kitab yang sampai sekarang masih ada dan masih dipelajaridi mana-mana. Sebenarnya masih banyak lagi manfaat dari menulis, baik untuk hal-hal yang penting seperti contoh-contoh di atas. Atau untuk sesuatu yang kecil, seperti ketika teman tidak mempunyai seseorang untuk teman curhat. Yang mana perkara yang satu ini sangat penting bagi makhluk hidup yang bernama manusia. Maka dengan menulis teman bisa mencurahkan isi hatinya kedalam sebuah tulisan. Yang akan mendatangkan sedikit rasa lega dalam benaknya.

Dan perlu di ingat bahwa Alquran masih dapat dibaca oleh manusia jauh setelah masa Nabi Muhammada SAW, itu juga karena Alquran ditulis oleh para sahabat. Setelah terjadi peperangan yang menggugurkan banyak dari para sahabat yang hafal Alquran. Sehingga dikuatirkan Alquran tidakbisa untuk dibaca oleh generasi setelahnya. Dan buktinya sekarang kita masih bisa menikmati dan mempelajari kandungan Alquran. Dan kita patut bersyukur dan berterima kasih kepada orang-orang yang telah menulis. Sehingga kita dapat membaca dan mempelajari apa yang telah mereka tulis dan menjawab pertanyaan diatas “untuk apa kau menulis?”. Contohnya ya.. tulisan yang barusan anda baca ini.

 

Tiga Misteri Besar Kitab Suci Santri : Al-Fiyah (opini)

 


Tiga Misteri Besar Kitab Suci Santri : Al-Fiyah

Oleh: Nur Kholis

 

Sebagai seroang santri yang pernah menuntut ilmu di pesantren selama kurang lebih enam tahun lamanya. Saya sangat tidak asing dengan kitab yang berjumlah seribu lebih dua bait itu. Al-Fiyah namanya.

Kitab ini dikarang oleh seorang tokoh bernama Muhammad Ibnu Malik dari Andlusia, Sepanyol sana. Kitab ini berisi tentang aturan-aturan gramatikal Bahasa Arab yang bisa menjadi modal bagi para pembaca untuk bukan hanya membaca kitab kuning khas pesantren itu, bukan. Kitab ini lebih menjadi sebuah pengantar bagi seseorang yang ingin mengarang sebuah buku berbahasa Arab.

Tidak tercatat secara resmi oleh sejarah siapa yang pertama kali mengenalkan kitab ini ke bumi Nusantara. Namun konon katanya, yang pertam kali membawanya ke bumi Nusantara adalah Syaikhona Kholil. Syaikhona Kholil, terkenal sebagai seorang kiai kharismatik yang menjadi guru dari dua tokoh nasinonal pendiri ormas islam terbesar di Indonesia. KH. Hasyim Asy’ari sekaligus KH. Ahmad Dahlan.

Kalau salah, tolong dikoreksi yang paragraf saya di atas ini. Kalau benar, ya sudah, tidak usah diapa-apakan. Jangan diplintir.

Nah, kitab inilah yang konon katanya memiliki banyak sekali misteri didalamnya. Kalau kita pernah membaca novel “Bumi Manusia” karya Bung Pram lantas kita merasakan ada semacam dorongan magis untuk menulis, misteri yang sama juga bisa kita ketemukan di kitab tersebut.

Apa saja sih misteri dari kitab Al-Fiyah itu? Setidaknya ada beberapa misteri yang dibawa oleh kitab berbentuk puisi berbahasa arab itu, antara lain :

Mendatangkan Ilmu Ladunni

Kalian pasti tahukan misteri Ilmu Ladunni, Ilmu yang konon katanya bisa menjadikan pemiliknya mendaptakan pengetahuan tanpa batas tanpa harus bersusah payah untuk membaca apalagi buka Google?!. Nah, konon katanya dengan mengahafalkan seluruh bait dari kitab Al-Fiyah itu dan terus menerus secara konsisten membaca ulang kitab itu akan mendatangkan Ilmu Ladunni itu.

Sangat Sulit dihafal

Sekedar informasi, di pesantren itu ada sebuah tradisi dimana seorang santri harus menuhi beberapa standar kompetensi yang harus dituntaskan jika ingin lanjut ke jenjang kelas yang lebih tinggi. Salah satu standar kompetensi itu adalah semua santri wajib menghafal penuh kitab Al-Fiyah tersebut. dan itu sangat berat sekali terlebih bagi santri-santri yang memiliki kecerdasan dibawah rata-rata semacam saya ini.

Belum jelas mengapa kitab ini menjadi sangat sulit untuk dihafalakan oleh kalangan santri. Sekalipun mampu dihafal, tak jarang santri yang telah menghafalkannya, bisa begitu cepat untuk melupakannya.

Sebagai sebuah pengalaman, saya pernah memiliki teman satu kelas, rambutnya sampai rontok-rontok ketika dirinya menghafalkannya. Sehari, teman saya itu bisa menghasilkan sekitar lima sampai sepuluh helai rambut yang rontok dan melekat dalam kopiahnya. Itu, untuk lima bait perhari, bayangkan ada seribu bait banyaknya!

Mendatangkan Welas Asih

Ah ya tentu saja, satu misteri ini tidak boleh terlewatkan. Al-Fiyah, dikalangan pesantren sangat sakral sekali. Terlepas dari motif apapun, yang namanya kitab Al-Fiyah ini bisa dialih fungsikan oleh oknum santri “Mbeling” sebagai penarik “Welas Asih” guna memikat gadis incarannya. Kurang lebih tidak jauh berbeda dari bulu perindu.

Adapun praktiknya, seorang santri yang sedang merasakan kasmaran dengan seorang gadis, akan mendatangi seorang ustadz untuk meminta “Ijazah” atau izin tidak tertulis namun resmi dengan mahar yang sesuai permintaan sang ustadz, bisa berbentuk rokok satu bungkus atau mie instan pakai telor di kantin, untuk membaca beberapa bait yang akan digunakan untuk memikat santriwati incarannya.

Bau-bau modus dari sang ustadz memang tercium disini, tapi hal itu memang ada. Terlepas dari berhasil atau tidaknya, pengalih fungsian dari sebuah kitab “Gramer-nya” bahasa Arab ini menjadi jampi-jampi penarik welas asih, itu nyata!

Yah kira-kira demikian dari misteri kitab Al-Fiyah itu. Benar atau tidaknya misteri-misteri dari kitab Al-Fiyah tersebut, jelas masih misteri yang belum bisa dipastikan kebenarannya. Namun apapun itu, dari misteri-misteri yang berkembang inilah sesunggunhnya kita bisa melihat kehidupan pesantren yang mampu mempertahankan ciri khasnya yang gayeng dan penuh dengan candaan.

LARASATI. APAKAH KAU MENCEMASI TUNANGANMU? (cerpen)

 


LARASATI.

APAKAH KAU MENCEMASI TUNANGANMU?

Oleh: Mukhlis Akmal Hanafi

 

Aku merasa takjub dibuatnya. Jika kau tau, betapapun anggunya dia saat memakai kemeja berwarna hijau, dilapisi lipstik berwarna merah, dan berbaju putih kebawah. Walau dunia gelap gulita, namun rasa-rasanya seakan terang cahaya hatinya. Sebagai orang yang terlanjur jatuh dalam pangkuannya, aku seutuhnya bukan siapa-siapa. Jika ditanya apa hubungan kita? Aku hanya bagian kecil yang masih tersisa yang melintasi harapan besar selanjutnya. Dalam kaca matanya. Akulah manusia dengan segudang harapan yang tak mampu merengut belas kasih sedikitpun darinya.

Jika diumpamakan, saya layaknya jadi hujan yang mampu menjelma apa saja, mendiagnosa secara paksa, dan mencatat bait demi kata melalui hal yang sederhana. Jika kau mengira bahwa hujan punya tiga impian. Antara lain pernikahan, kematian dan juga harapan. Maka akulah diantara ketiganya.

Perkenalkan namanya larasati, bisa juga dipanggil laras. Aku mengenalnya sebagai perempuan jawa dengan mahkota dibagian tabahnya. Aku juga kenal dia tidak secara kasapmata, namun mampu membius segala bentuk yang ada. Secara garis besar, laras merupakan satu-satunya wanita yang pernah kusimpan dalam pintu rahasia. Jikapun ditanya “Apakah aku mau menikahinya?” maka jawaban yang paling lambat kusampaikan adalah “Iya”. Sementara itu aku dan dirinya masih belum diberi kesempatan bertemu dan berpandang-pandang. Sekedar memastikan hal yang masih membayang. Mendengarkan beberapa yang halus dari kata demi kata, melihat sorot matanya yang tajam yang dipenuhi oleh kata hampa, dan bernyayi bercanda ria dibawah kesedihanya.

Jika lebih jauh lagi, hal yang paling kuingat darinya adalah saat-saat semua orang lebih suka memanggilnya “Ibu” daripada harus sibuk memanggil namanya.

Jikapun begitu. Ia tampak seperti orang yang baru kenal, ia terlihat cuek dan pendiam. Rasa-rasanya banyak yang ia pendam, dan hanya tersimpan didalam angan. Ia juga terlihat seperti tangan yang secara garis filosofis setia kepada siapapun. Ia tampak sabar dan tabah. Sifat ke ibu-ibuan akan membuat setiap orang mencuri-curi pandang. Hingga tak jarang kelembutan dan manisnya bertutur kata dan berprilaku kepada sesama akan banyak menjatuhkan korban. 

Semenjak aku mengenalnya, tak jarang hari-hariku dipenuhi oleh perasaan yang membabi buta, pikiranku jauh meangkasa, hasrat untuk memilih seutuhnya merupakan impian yang paling mulia. Sepanjang perjalan yang disebut perasaan selalu merasa sampai pada tujuan, padahal diangap teman saja tidak.

***

Rasa-rasanya batinku dipenuhi cemas yang berlebihan, hasratku dikubur dalam ingatan yang muram. Saat itu ada selembar berita diatas meja bertulisan sangat besar dan juga hitam. Tulisan itu jelas mengubur mimpiku dalam-dalam. Kata-katanya membanjiri seluruh harapan yang akhirnya membuat api padam. “Kita hanya teman, dan sebentar lagi aku akan tunangan

Tiba-tiba saja kepalaku terasa pening, pandangannya berkunang-kunang, dan kupingku terasa tidak bisa mendengar. Sementara itu, aku melihat dia bagai penjahit tangan handal yang dengan tabah memasukkan benang kebagian jarum yang kecil itu. Ia terlihat ragu dan malu-malu. Oleh sebab itu, batinku yang cemas, hasratku yang tercabik-cabik. Kini terasa menjadi satu dalam pragraf perpisahan.

Sebelum kejadian paling kejam. Aku sebetulnya punya firasat yang buruk. Biasanya ia datang secara tiba-tiba, sesekali melintas dibalik kaca, dan ada juga yang berkata. “Mundur saja”

“Hanya cinta yang aku punya untuk merubah segala bentuk rahasia menjadi malapetaka, kawan”

“Laras..! Aku mengira kau akan setia, kawan!” Nasibmu sudah tidak sebagus cerirtamu. Panggilanmu sudah tidak seakrab dulu. Namamu kini mulai punah dimakan waktu. Kau harus tau perasaanku sudah tercabik cabik oleh sekertas berita “Aku sudah  tunangan, kawan”

Tepat pada sore itu aku melamun sendirian didepan jendela, memandangi segala bentuk yang ada. Aku sadar bahwa aku memang bukan siapa-siapa. Selain itu, larasati telah mendiagnosa batinku secara paksa, perasaan itu terasa asing dan tidak seperti biasanya.

“Namun apalah daya jika begitu adanya, kawan”

Diteduhi bola mata yang lentik dan juga hitam, bibirnya sukar dilukiskan, dan selaksa senyum mengundang pandangan setiap orang. Aku ucapkan selamat malam dan selamat tinggal kawan. Kau satu-satunya wanita yang mudah tergambar dalam pikiran. Wajahmu sekarang terlihat seperti anak yang baru lahir satu jam. Lapisan kecil saat kau memutuskan senyum, sekarang hilang sudah harapan. “Jikapun kau memilih tunanganmu yang ganteng dan rupawan, bergelimang harta dan mahkota dimana saja, dan berlapis kemulian yang tiada tara. Maka satu-satunya harapan adalah meminta maaf sebanyak yang kau kira”.

Akhirnya aku mulai sadar, bahwa segala yang ditakdirkan akan tergenang dalam diriku. Ia mengalir beberapa menit dengan tajam. Sesekali melumpuhkan harapan yang  telah lama kita rasakan. Hinga tak jarang ada teman yang beranggapan aku dilahirkan untuk merasakan pahitnya terbaring dibantal, sambil menatap beberapa harapan yang masih tergantung dikamar. “Percayalah ini memang bagian dari Kutukan”

Decap decup suara jangkrik mulai menyala, malam yang muram telah menyapa, tangisan kodok berbunyi “wek-wek” sudah terdengar di telinga. Kita saksikan bersama matahari terbenam di utara. Waktu itu cuaca senyam oleh derai air mata kita berdua. Aku mengira suara tangisan itu lahir dari para kucing nakal yang hendak mencari makanan di waktu malam. Saya juga sadar bahwa perasaan saya dibawa kepada suara jeritan tetangga dengan nada amarah yang ditunjukkan kepada anaknya. Nyatanya kita sedang menangis tersedu-sedu dibawah pohon cemara kawan. Sepasang matamu masih saja terbaris di kaca, mengarahkan wajahnya dengan seutas senyum lalu menepuk dibagian dada. Aku berpikir kau beruntung mendapatkanya. Menangislah! Selagi dirimu telah mampu mendapatkan laki-laki yang sebelumnya kau puja.

Yah malam itu aku sungguh nestapa oleh dinginnya udara dan badai rindu saat-saat kita bersama. Saat yang lain sibuk mencari kertas berita duka itu. Aku lebih baik diam didepan jendala, memandangi segala bentuk yang ada, dan sedikit memastikan beberapa jam setelahnya. “Tunangan” Spontan ujung kepalaku seakan ada dimana-mana, menghayalkan apa saja,  menepuk kepala dan berfikir “kau manusia cam apa? Dalam hidupku hanya dirimu yang paling aku tunggu”. Entah mengapa, kata-kata itu seolah jadi malapetaka bagi saya. Sewaktu-waktu akan menyerang tubuh siapa saja, menyerang bagian mana saja. Bahkan bisa juga menyerang bagian otak dan kepala. “Sial, sebegitu indahnya kah orang yang sedang berbahagia” Aku ucapkan sumpah murahan itu, lalu berpikir “Mustahil rasanya memilih mereka yang belum kenal seutuhnya”

Sepasang mata masih saja memandang wajahku dengan tajam. Kau tau, saat itu wajahmu terlihat muram, matanya merosot lalu terbenam, selaksa alisnya mengikuti alunan hewan berdendang. Seolah masih menuntun jawaban atas pertanyan yang kali pertama kau tanyakan. Suara kodok dan berbagai macam hewan yang tadinya keras terdengar. Sekarang rasanya hanya tinggal suara gendang di dada. Anganku bertindak sendiri semaunya, alunan itu terasa benar adanya. Kamu tau saat kau memutuskan melempar pertanyaan itu. Aku berpikir sangat panjang, dan menghela napas dalam-dalam, lalu menjawab “Wallahu a'lam”. Hanya Tuhan yang bisa menentukan.

Dengan langkah gontai, saya masuk ke kamar, merebahkan diri di ranjang. Tercium bau ikan. Aku mencoba untuk memejamkan mata, kemudian membukanya lagi. Pandangannya sudah tidak seperti biasnya, hidup satu jam bagaikan hidup bertahun-tahun di gurun. menerawang ke atap rumah yang diteduhi bayang-bayang. Dinding tanpa plester, lantai semen kasar berdebu, demikian juga lemari kayu. Semua terlihtat seperti dirimu.

Waktu itu tanganku yang lunglai kini terasa gemetaran. Kakiku yang tegas kini sudah tidak bisa berjalan. Mataku yang bundar sekarang sudah sulit sekali dipejamkan. Hampr saja saya ucapkan hal yang “sial”

***

Kita  adalah sepasang sepatu yang talinya kusut akibat perputaran waktu yang berlalu. Kita juga sepasang tali dalam sepatu yang sulit dipisahkan dalam kedipan mataku. Kau tau, tali itu terikat-ikat oleh perasaan teman dan kasih sayang.  Oleh persaudaraan yang barangkali sampai sekarang masih tergantung dikamar. Kadang juga sekali-kali hadir dan memohon ampunan.

Aku sering berpikir. Akulah selembar kertas yang tercabik-cabik oleh tajamnya ujung pensil, oleh derasnya tinta yang tak kunjung habis termakan usia. Sementara nasibku masih saja terombang-ambing oleh sebuah pernyataan “kita adalah teman yang tak akan terpisahkan”. Pernyataan itu cukup sederhana, namun jangan sangka itu akan jadi malapetaka.

Betapapun bodohnya saya karena telah menyembunyikan perasaan, tersimpan dalam angan, tergenang dalam kata yang sulit rasanya aku ucapkan. Naluri wanita memang tidak bisa dibohongi kawan. sembunyi tangan dan melempar pelampiasan adalah salah satu keistemewaan perempuan.

Ras! Jika kau memang memutuskan begitu, maka percayalah padaku. Bahwa segala yang kau putuskan merupakan hal yang sakral. semua akan kembali pada pelukan Tuhan, meski seutuhnya banyak kenangan yang akan tertinggal. Akibat itu, maafkan aku yang tak terhingga kawan. Seutuhnya rasa penasaran dan rasa curiga masih membekas dikepala.

Tafsir kata, ada beberapa hal yang ingin kusampiakan padamu, kekasih. pada bagian waktu lainnya, aku percaya cinta itu betul betul nyata, sayangnya, dia benar benar tidak ada. Aku yakin kau tidak akan ada dua-nya. Selain itu aku hanya ingin berkata:

Tidak ada perbedaan

Antara cinta dan kematian

Keduanya sama-sama takdir Tuhan

Dan kemenangan akan berpihak pada perpisahan.

Laras sekarang sudah kehilangan rumahnya. Ia sekarang mulai berani menginap di kaki lima. Dan menerobos bagian kecil di bibir desa. Aku paham bahwa perjodohan adalah sebuah kebaikan. Tapi kau juga harus mengerti bahwa ada orang yang jatuh lalu bangkit lagi.

Maka pahamilah kawan. Bahwa segala yang tergenang akan sampai pada tujuan, dan segala yang tertuang akan habis termakan. Maka percayalah. Segala yang ditakdirkan oleh Tuhan, semata-mata menuju ke jalan kebaikan. Sebagaimana air yang tergenang, ia akan sampai. Dan sebagaimana hujan yang deras mengalir kebawah tanah, ia akan habis disia-siakan.

Begitupun juga hasratku. Ia sebagiamana air yang mengalir beberapa jam. Dan tergenang dalam bak besar. Sayangnya kau lebih memilih membuang air itu dengan harapan kosong.

Lalu, dalam basah dan lelah, dan sambil bersandar di salah satu dinding rumah. Aku hanya bisa pasrah dan ber-doa.

Jika aku dan dirimu ternyata ditakdirkan untuk berpisah, maka percayalah aku pasrah pada sang pencipta. Tapi jika aku dan dirimu masih punya harapan. Besar kemungkinan kami akan tergenang dalam kata-kata yang tak bisa kuucapkan. Wassalam. []