Raudlatul Ulum 1

Menatap Masa Depan, Menggenggam Ajaran Salaf

Breaking

Friday, 5 March 2021

Aku dan Gadis di Balik Kelambu (cerpen)

 


Aku dan Gadis di Balik Kelambu

Oleh: Syifaur Romie

 

Terlihat dari sudut pendopo lama, gerak selambu itu menandakan kehadirannya kembali. Sinar redup bohlam tak pernah bohong menerpa sosok yang lagi-lagi melukiskan bayang semu dari baliknyadi setengah malam; mengundang kernyut dahi dalam duduk belajarku mulai menyempit. Aku tahu, itu kau! Sebagaimana malam-malam lalu sejak kejadian itu. Tak Kuasa kugapai siapa dirimu sebenarnya.

Bayang tangannya memangkas sedikit celah pada kelambu. Menjadikan todongan mata ini semakin terpaku menghunus ke arah bayang itu. Sepintasterlihat dari redupnya malam cahaya mata di antara wajah yang tertutup hijab itu secepat kilat menyambar keberadaanku. Secepet kilat pula, kau pergi menghapus bayang semu ditelan kegelapan. Begitu membekas dalam kedipan mata. Kamu yang masih dalam prasangka benar atau tidaknya kisah itu.

Dan aku masih dalam lamunan mematung terdiam, lembar demi lembar terkuras pada kertas kuning yang sedari tadi kupangku; kututup perlahan. Seiring dengan lelahnya hati dan fikiran dalam mengampu tugas barunya. Hati untuk menelaah siapa sebenarnya dia, apa tujuannya serta tuntutan ujian akhir Madrasah yang dalam masa cepat harus rampung capain demi capaiannya.

“Tumben tak seperti biasanya, Syad.” Sapa Imam Syafi’i, sahabat karib sekaligus teman sebaya di kelas. Bagaimanapun juga, dia satu-satunya orang yang mengetahui perihal panggilan Kiai pekan lalu; lengkap dengan tujuannya.

“Ya, Mam. Aku duluan.” Sahutku sembari meluruskan kedua kaki dalam tegak berdiri; membetulkan sarung, siap untuk berpaling. Bahkan tak kusempatkan diri serius menatap wajah Imam.

Dari balik punggung, Imam menggapai bahu seraya menegur serius “Syad, kamu yakin bukan tadi itu orangnya?”

“Apanya Mam?”, Sapaku dalam heran. Sembari mulai kutatap wajahnya serius. “Sudahlah, sedari tadi hanya aku dan kamu di sini. Tidak kita temui mata lain mengetahui perihal ini. Mestinya kau paham makusudku”.

Kembali kulangkahkan kaki, seakan berusaha menghindar dari kenyataan; “Ya, barangkali Mam.” Terdengar suara yang semakin jauh mengejar “Ya jangan lupa, Istikharah cah!” Disusul dengan senyum godanya menghiasi angan yang kembali melukiskan sosok wanita di balik kelambu itu. Uh, begini sekali rasanya.

Sesampainya di kamar B-1, kuseka keringat yang mulai mengucur di sekitar kening. Paling tidak, mengobati sedikit ketegangan yang mulai bercampur aduk dengan perasaandan fikiran tak menententu. Dimana, banyak orang lain menyebutnya sebagai; Dilema. Aduhai, bahkan seperti apa sosoknya pun otakku belum mampu merabanya. Hanya sebatas kisah penggambaran kisah Kiai pekan lalu di pesantren ini.

Esoknya, dalam dzikir selepas sembahyang Shubuh, ada bisikan pesan dari seorang yang tak sempat kulihat jelas wajahnya mengatakan bahwa aku telah dipanggil Kiai guna menghadap. Bersamaan dengan itu juga, keringat dingin mulai mencucur. Ototku serasa sedikit membeku dalam duduk sila. Dan fikiran khusyuk dalam sekejap berubah menjadi alun-alun lengkap dengan pasar malamnya; riuh sesak.

“Sekarang juga, Kang Irsyad”. Teriaknyanya dari kejauhan setelah beberapa saat.Sosok suara yang tadi membisikiku. Sudah kuterka sosoknya; Umar. Abdi dalem (Madura: Kebuleh). Senior juga sobat karib dalam catatan sejarah keberadaanku selama di pesantren. Kini, bergegas dari duduk itu serasa memandai besi yang kalian mesti tahu betapa kakunya.

Mengayur kepercayaan diri adalah langkah awal dalam mengawali kelancaran segala urusan. Dengan berkali-kali kuatur senyum di hadapan cermin kamar, dan minyak oles wangi lengkap dengan pakaian terbaik menurutku, aku sudah benar-benar yakin dengan maksud dan tujuan akan panggilan ini. Aku datang; Bismillah...

Melalui langkah lunglai kedua kaki di atas alas yang sengaja tak kusuarakan ini, gerbang ndalem Kiai mulai tampak dari sudut pendopo pengasuh. Semakin mendekat, pojok kaca mobil kendaraan beliau mulai tampak. Di saat bersamaan, kulihat pintu sedikit terbuka seraya kepercayaan diri yang telah kuatur tadi mulai tercecer di sepanjang jalan.

Dari kejauhan, terlihat bangunan tua dengan gerbang besi sedikit berkarat terbuka lebarmenyambut siapapun sosok yang hendak menghadap. Betapa kau tahu, bahkan gerbangnya pun benar-benar disegani para santri. Begitulah kiranya tradisi pesantren salaf berlaku. Tiada lain kecuali Ikraaman wa Ta’dziman.

Wajah yang patah membungkuk menghadap tanah, riuh suara pengajian Al-Qur’an oleh santri putri lengkap dengan sorak sorai guraunya terdengar semakin menambah suasana mencekam. Tapi apa guna takut, bila saingannya adalah ta’at.

Hirupan nafas setengah dada kulanjut dengan suara salam tegar keluar dari mulut penuh dosa ini; “Assalamualaikum..”. Nada rendah lirih tertahan akhirnya terlepas dari ternggorokan. Bahkan seakan tak ingin kucing tertidur itupun terbangun dari ringkuk pulasnya. Sejak keberhentianku di hadapan pintu penuh wibawa itu, kedua tangan saling menumpuk di hadapan perut.

Waalaikumsalam... Masuk”. Setelah beberapa saat mematung di hadapan pintu. Perlahan kuangkat kaki yang gemetar dan wajah tertunduk takluk. Lalu kututup kembali dengan pelannya. Sejenak kuangkat sedikit wajah guna mengetahui posisi beliau, berubah merangkak dan menyalami beliau dengan kedua tangan seraya kuciumnya tangan mulia beliau bolak balik tanpa sisa.

Aku tahu, kalian hanya pembaca, begitu tak faham bagaimana pucatnya diri kala mengetahui di antara ruangan yang mulai terasa sempit itu terdapat sosok lain selain aku dan Kiai. Dengan busana cantik dan rapih; dia adalah Gadis. Denyut jantung mulai meronta hendak keluar dari tempatnya seraya memerahnya kedua pipi. Kuyakin gadis yang duduk bersimpuh di hadapan Kiai itupun merasakan hal yang sarupa.

“Jadi, ini lo Nabila yang kuceritakan pekan lalu itu, Syad.” Lanjut Kiai selepas beberapa saat menanyakan berbagai hal sebagai pembahasan ringan pembuka suasana. Sesaat dunia terasa kembali petang dan sempit. Sempit sekali. “Sekarang, angkat wajah kalian berdua, sejenak saja lihat wajah satu sama lain”. Imbuh Kiai sembari menghamparkan tangan kanannya pada pundakku yang lusuh dan mulai goyah kehabisan percaya diri.

Tidak sedikitpun prediksiku melenceng.  Dialah gadis itu, namnya Nabila. Sesuai dari apa yang didawuhkan Kiai. Sesaat wajah eloknya mampu membius ingatanku akan sosok yang belakangan ini kerap melukiskan bayang di balik kelambu tepat menghadap posisi belajarku tiap setengah malam.

Sekilas senyumnya tak dibuat-buat. Membentuk lesung pipi merah alami. Walau kutahu, senyumnya sedikit dipaksa. Alisnya hitam legam tanpa celah memayungi kedua bola mata yang membola bersinar jujur diselimuti keindahan. Hidungnya yang sedang nan berani itu, seakan menjadi magnet pemikat. Kulanjut dengan kedua bibir yang merah alami dan manis, tampak begitu bersih dan polos menghiasai wajah merona. Bila kau tahu Annelies dalam kisah Bumi Manusia, barangkali bibirnya sedikit lebih unggul dalam hiasan kecantikan yang alami. Dan wajah tanpa sentuhanmake up menggambarkan mutiara dalam cangkang kerang. Jauh dari tangan manusia jahat.

Dengan sekali tatap indahnya; Nabila, aku telah masuk ke dalam dunia yang kau sebut dengan “Jatuh Hati”. Aku tertarik dan tak ada satupun rasa ingin menyangkal kekurangan yang sejauh ini tak kutemui. Maaf, rasa ini jujur lahir dari jiwanya. Namun di sisi lain juga ada hati yang berupaya meniup cinta jauh dari pintu masuknya.Berupaya mengingatkan sebuah hal dalam hidup; kesetiaan.

Kusudahi keindahan lamunan sesaat ini bersamaan dengan dawuh Kiai; “Nabil, ini Irsyad. Santri yang hendak aku jodohkan denganmu. Dia rajin dan istiqamah menelaah saripati ilmu di pendopo lama. Aku hafal betul. Kaupun kupilih sebab memiliki aktivitas serupa. Aku merasa kalian berdua memiliki kecocokan yang kutemui dalam mimpi Istikharah. Semoga kalian berdua ditakdir berjodoh”.

Antara tangis bersalah dan penyesalan, sebentar kuarahkan telapak tangan kanan menggapai dada tepat denyut nadi itu semakin mengguncang. Lalu dengan sergukan sekali nafas, kuberanikan diri yang rapuh ini menengahi bahasan indah dalam ruang yang semakin terasa menyempit.

“Abdi haturkan permohonan maaf Kiai, orang tua Abdi telah sebulan lalu meminangkan Abdi seorang gadis. Mohon maaf Kiai, Abdi.....”. Bersambung.

No comments:

Post a comment