Raudlatul Ulum 1

Menatap Masa Depan, Menggenggam Ajaran Salaf

Breaking

Friday, 5 March 2021

LARASATI. APAKAH KAU MENCEMASI TUNANGANMU? (cerpen)

 


LARASATI.

APAKAH KAU MENCEMASI TUNANGANMU?

Oleh: Mukhlis Akmal Hanafi

 

Aku merasa takjub dibuatnya. Jika kau tau, betapapun anggunya dia saat memakai kemeja berwarna hijau, dilapisi lipstik berwarna merah, dan berbaju putih kebawah. Walau dunia gelap gulita, namun rasa-rasanya seakan terang cahaya hatinya. Sebagai orang yang terlanjur jatuh dalam pangkuannya, aku seutuhnya bukan siapa-siapa. Jika ditanya apa hubungan kita? Aku hanya bagian kecil yang masih tersisa yang melintasi harapan besar selanjutnya. Dalam kaca matanya. Akulah manusia dengan segudang harapan yang tak mampu merengut belas kasih sedikitpun darinya.

Jika diumpamakan, saya layaknya jadi hujan yang mampu menjelma apa saja, mendiagnosa secara paksa, dan mencatat bait demi kata melalui hal yang sederhana. Jika kau mengira bahwa hujan punya tiga impian. Antara lain pernikahan, kematian dan juga harapan. Maka akulah diantara ketiganya.

Perkenalkan namanya larasati, bisa juga dipanggil laras. Aku mengenalnya sebagai perempuan jawa dengan mahkota dibagian tabahnya. Aku juga kenal dia tidak secara kasapmata, namun mampu membius segala bentuk yang ada. Secara garis besar, laras merupakan satu-satunya wanita yang pernah kusimpan dalam pintu rahasia. Jikapun ditanya “Apakah aku mau menikahinya?” maka jawaban yang paling lambat kusampaikan adalah “Iya”. Sementara itu aku dan dirinya masih belum diberi kesempatan bertemu dan berpandang-pandang. Sekedar memastikan hal yang masih membayang. Mendengarkan beberapa yang halus dari kata demi kata, melihat sorot matanya yang tajam yang dipenuhi oleh kata hampa, dan bernyayi bercanda ria dibawah kesedihanya.

Jika lebih jauh lagi, hal yang paling kuingat darinya adalah saat-saat semua orang lebih suka memanggilnya “Ibu” daripada harus sibuk memanggil namanya.

Jikapun begitu. Ia tampak seperti orang yang baru kenal, ia terlihat cuek dan pendiam. Rasa-rasanya banyak yang ia pendam, dan hanya tersimpan didalam angan. Ia juga terlihat seperti tangan yang secara garis filosofis setia kepada siapapun. Ia tampak sabar dan tabah. Sifat ke ibu-ibuan akan membuat setiap orang mencuri-curi pandang. Hingga tak jarang kelembutan dan manisnya bertutur kata dan berprilaku kepada sesama akan banyak menjatuhkan korban. 

Semenjak aku mengenalnya, tak jarang hari-hariku dipenuhi oleh perasaan yang membabi buta, pikiranku jauh meangkasa, hasrat untuk memilih seutuhnya merupakan impian yang paling mulia. Sepanjang perjalan yang disebut perasaan selalu merasa sampai pada tujuan, padahal diangap teman saja tidak.

***

Rasa-rasanya batinku dipenuhi cemas yang berlebihan, hasratku dikubur dalam ingatan yang muram. Saat itu ada selembar berita diatas meja bertulisan sangat besar dan juga hitam. Tulisan itu jelas mengubur mimpiku dalam-dalam. Kata-katanya membanjiri seluruh harapan yang akhirnya membuat api padam. “Kita hanya teman, dan sebentar lagi aku akan tunangan

Tiba-tiba saja kepalaku terasa pening, pandangannya berkunang-kunang, dan kupingku terasa tidak bisa mendengar. Sementara itu, aku melihat dia bagai penjahit tangan handal yang dengan tabah memasukkan benang kebagian jarum yang kecil itu. Ia terlihat ragu dan malu-malu. Oleh sebab itu, batinku yang cemas, hasratku yang tercabik-cabik. Kini terasa menjadi satu dalam pragraf perpisahan.

Sebelum kejadian paling kejam. Aku sebetulnya punya firasat yang buruk. Biasanya ia datang secara tiba-tiba, sesekali melintas dibalik kaca, dan ada juga yang berkata. “Mundur saja”

“Hanya cinta yang aku punya untuk merubah segala bentuk rahasia menjadi malapetaka, kawan”

“Laras..! Aku mengira kau akan setia, kawan!” Nasibmu sudah tidak sebagus cerirtamu. Panggilanmu sudah tidak seakrab dulu. Namamu kini mulai punah dimakan waktu. Kau harus tau perasaanku sudah tercabik cabik oleh sekertas berita “Aku sudah  tunangan, kawan”

Tepat pada sore itu aku melamun sendirian didepan jendela, memandangi segala bentuk yang ada. Aku sadar bahwa aku memang bukan siapa-siapa. Selain itu, larasati telah mendiagnosa batinku secara paksa, perasaan itu terasa asing dan tidak seperti biasanya.

“Namun apalah daya jika begitu adanya, kawan”

Diteduhi bola mata yang lentik dan juga hitam, bibirnya sukar dilukiskan, dan selaksa senyum mengundang pandangan setiap orang. Aku ucapkan selamat malam dan selamat tinggal kawan. Kau satu-satunya wanita yang mudah tergambar dalam pikiran. Wajahmu sekarang terlihat seperti anak yang baru lahir satu jam. Lapisan kecil saat kau memutuskan senyum, sekarang hilang sudah harapan. “Jikapun kau memilih tunanganmu yang ganteng dan rupawan, bergelimang harta dan mahkota dimana saja, dan berlapis kemulian yang tiada tara. Maka satu-satunya harapan adalah meminta maaf sebanyak yang kau kira”.

Akhirnya aku mulai sadar, bahwa segala yang ditakdirkan akan tergenang dalam diriku. Ia mengalir beberapa menit dengan tajam. Sesekali melumpuhkan harapan yang  telah lama kita rasakan. Hinga tak jarang ada teman yang beranggapan aku dilahirkan untuk merasakan pahitnya terbaring dibantal, sambil menatap beberapa harapan yang masih tergantung dikamar. “Percayalah ini memang bagian dari Kutukan”

Decap decup suara jangkrik mulai menyala, malam yang muram telah menyapa, tangisan kodok berbunyi “wek-wek” sudah terdengar di telinga. Kita saksikan bersama matahari terbenam di utara. Waktu itu cuaca senyam oleh derai air mata kita berdua. Aku mengira suara tangisan itu lahir dari para kucing nakal yang hendak mencari makanan di waktu malam. Saya juga sadar bahwa perasaan saya dibawa kepada suara jeritan tetangga dengan nada amarah yang ditunjukkan kepada anaknya. Nyatanya kita sedang menangis tersedu-sedu dibawah pohon cemara kawan. Sepasang matamu masih saja terbaris di kaca, mengarahkan wajahnya dengan seutas senyum lalu menepuk dibagian dada. Aku berpikir kau beruntung mendapatkanya. Menangislah! Selagi dirimu telah mampu mendapatkan laki-laki yang sebelumnya kau puja.

Yah malam itu aku sungguh nestapa oleh dinginnya udara dan badai rindu saat-saat kita bersama. Saat yang lain sibuk mencari kertas berita duka itu. Aku lebih baik diam didepan jendala, memandangi segala bentuk yang ada, dan sedikit memastikan beberapa jam setelahnya. “Tunangan” Spontan ujung kepalaku seakan ada dimana-mana, menghayalkan apa saja,  menepuk kepala dan berfikir “kau manusia cam apa? Dalam hidupku hanya dirimu yang paling aku tunggu”. Entah mengapa, kata-kata itu seolah jadi malapetaka bagi saya. Sewaktu-waktu akan menyerang tubuh siapa saja, menyerang bagian mana saja. Bahkan bisa juga menyerang bagian otak dan kepala. “Sial, sebegitu indahnya kah orang yang sedang berbahagia” Aku ucapkan sumpah murahan itu, lalu berpikir “Mustahil rasanya memilih mereka yang belum kenal seutuhnya”

Sepasang mata masih saja memandang wajahku dengan tajam. Kau tau, saat itu wajahmu terlihat muram, matanya merosot lalu terbenam, selaksa alisnya mengikuti alunan hewan berdendang. Seolah masih menuntun jawaban atas pertanyan yang kali pertama kau tanyakan. Suara kodok dan berbagai macam hewan yang tadinya keras terdengar. Sekarang rasanya hanya tinggal suara gendang di dada. Anganku bertindak sendiri semaunya, alunan itu terasa benar adanya. Kamu tau saat kau memutuskan melempar pertanyaan itu. Aku berpikir sangat panjang, dan menghela napas dalam-dalam, lalu menjawab “Wallahu a'lam”. Hanya Tuhan yang bisa menentukan.

Dengan langkah gontai, saya masuk ke kamar, merebahkan diri di ranjang. Tercium bau ikan. Aku mencoba untuk memejamkan mata, kemudian membukanya lagi. Pandangannya sudah tidak seperti biasnya, hidup satu jam bagaikan hidup bertahun-tahun di gurun. menerawang ke atap rumah yang diteduhi bayang-bayang. Dinding tanpa plester, lantai semen kasar berdebu, demikian juga lemari kayu. Semua terlihtat seperti dirimu.

Waktu itu tanganku yang lunglai kini terasa gemetaran. Kakiku yang tegas kini sudah tidak bisa berjalan. Mataku yang bundar sekarang sudah sulit sekali dipejamkan. Hampr saja saya ucapkan hal yang “sial”

***

Kita  adalah sepasang sepatu yang talinya kusut akibat perputaran waktu yang berlalu. Kita juga sepasang tali dalam sepatu yang sulit dipisahkan dalam kedipan mataku. Kau tau, tali itu terikat-ikat oleh perasaan teman dan kasih sayang.  Oleh persaudaraan yang barangkali sampai sekarang masih tergantung dikamar. Kadang juga sekali-kali hadir dan memohon ampunan.

Aku sering berpikir. Akulah selembar kertas yang tercabik-cabik oleh tajamnya ujung pensil, oleh derasnya tinta yang tak kunjung habis termakan usia. Sementara nasibku masih saja terombang-ambing oleh sebuah pernyataan “kita adalah teman yang tak akan terpisahkan”. Pernyataan itu cukup sederhana, namun jangan sangka itu akan jadi malapetaka.

Betapapun bodohnya saya karena telah menyembunyikan perasaan, tersimpan dalam angan, tergenang dalam kata yang sulit rasanya aku ucapkan. Naluri wanita memang tidak bisa dibohongi kawan. sembunyi tangan dan melempar pelampiasan adalah salah satu keistemewaan perempuan.

Ras! Jika kau memang memutuskan begitu, maka percayalah padaku. Bahwa segala yang kau putuskan merupakan hal yang sakral. semua akan kembali pada pelukan Tuhan, meski seutuhnya banyak kenangan yang akan tertinggal. Akibat itu, maafkan aku yang tak terhingga kawan. Seutuhnya rasa penasaran dan rasa curiga masih membekas dikepala.

Tafsir kata, ada beberapa hal yang ingin kusampiakan padamu, kekasih. pada bagian waktu lainnya, aku percaya cinta itu betul betul nyata, sayangnya, dia benar benar tidak ada. Aku yakin kau tidak akan ada dua-nya. Selain itu aku hanya ingin berkata:

Tidak ada perbedaan

Antara cinta dan kematian

Keduanya sama-sama takdir Tuhan

Dan kemenangan akan berpihak pada perpisahan.

Laras sekarang sudah kehilangan rumahnya. Ia sekarang mulai berani menginap di kaki lima. Dan menerobos bagian kecil di bibir desa. Aku paham bahwa perjodohan adalah sebuah kebaikan. Tapi kau juga harus mengerti bahwa ada orang yang jatuh lalu bangkit lagi.

Maka pahamilah kawan. Bahwa segala yang tergenang akan sampai pada tujuan, dan segala yang tertuang akan habis termakan. Maka percayalah. Segala yang ditakdirkan oleh Tuhan, semata-mata menuju ke jalan kebaikan. Sebagaimana air yang tergenang, ia akan sampai. Dan sebagaimana hujan yang deras mengalir kebawah tanah, ia akan habis disia-siakan.

Begitupun juga hasratku. Ia sebagiamana air yang mengalir beberapa jam. Dan tergenang dalam bak besar. Sayangnya kau lebih memilih membuang air itu dengan harapan kosong.

Lalu, dalam basah dan lelah, dan sambil bersandar di salah satu dinding rumah. Aku hanya bisa pasrah dan ber-doa.

Jika aku dan dirimu ternyata ditakdirkan untuk berpisah, maka percayalah aku pasrah pada sang pencipta. Tapi jika aku dan dirimu masih punya harapan. Besar kemungkinan kami akan tergenang dalam kata-kata yang tak bisa kuucapkan. Wassalam. []

 


No comments:

Post a comment