Senin, 01 Februari 2021

A Nga Nga (sosok)

 



A Nga Nga

Oleh: Abilu Royhan

Siapa yang tidak tahu kitab yang membeberkan tentang etika belajar. Yang sangat masyhur di kalangan pondok pesantren. Yakni kitab ta’limul muta’allim atau yang akrab dengan sebutan kitab taklim mutaklim (lidah jowo dan medureh). Kitab yang dikarang oleh syekh Azzarnuji karena beliau melihat banyak dari pencari ilmu yang tidak dapat meraih ilmu yang dia cita-citakan. Atau dia telah meraih ilmu itu, tapi ilmu itu tidak bermanfaat baginya kecuali hanya sedikit. Itu karena mereka salah atau bahkan tidak tahu tentang etika mencari ilmu. Dalam kitab ini ada sebuah keterangan tentang etika berguru atau mencari guru. Disitu diterangkan bahwa sebaiknya murid itu mencari guru yang lebih alim, lebih wira’i, lebih tua darinya dan lain sebagainya.

Siapa yang tidak tahu kitab yang menerangkan tentang tasawuf. Kitab yang sering dikaji dimana-mana. Yakni kitab bidayatul hidayah karangan Imam Abu Hamid Al-Ghazali atau yang masyhur dengan nama Imam Al-Ghazali. Kitab yang banyak menerangkan tentang ilmu tata krama dan juga anjuran untuk meninggalkan maksiat-maksiat yang dilakukan oleh seluruh anggota tubuh, baik dhohir atau batin. Di sana teman akan menemukan keterangan tentang macam-macam maksiat yang dilakukan oleh anggota tubuh seperti mata, mulut, telinga, dan yang lainnya termasuk hati. Termasuk maksiat hatiadalah al-kibr yakni merasa lebih baik dari orang lain dan menganggap yang lain itu lebih buruk darinya.

Dan satu lagi, siapa yang tidak tahu orang yang satu ini. Kelahiran Malang 7 oktober tahun 1994, yakni Ustadz Rif”an Fathoni. Salah satu asatidz Pondok Pesantren Raudlatul Ulum satu (PPRU 1) putra. Beliau mulai menimba ilmu di PPRU 1 ini pada tahun 2013, setelah beliau menimba ilmu di Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin di Ampel Gading sana, dekat dengan rumah beliau. Beliau mulai nyantri di Pondok Pesantren Raudlatut thalibin sejak kelas 3 MI, tepatnya tahun 2003 sampai 2013, yang seterusnya beliau melanjutkan rihlahnya mondok di PPRU 1 ini. Maka jika dihitung-hitung sampai saat ini (2021), beliau kira-kira telah mondok 18 tahun. Hebat bukan?Beliau adalah guru dari sang penulis sendiri. Tepatnya guru ketika penulis duduk di karpet Isadarma (bukan ‘bangku Isadarma’, karena sistem pondokan, selain itu Isadarma tidak punya bangku) kelas dua dan tiga. Ketika itu yang diajarkan oleh beliau adalah dua kitab yang telah disebutkan di atas. Kitab yang banyak memaparkan keterangan tingkah laku  dalam mencari ilmu dan tingkah laku sehari-hari.

Salah satu keterangan yang telah tertulis dalam paragraf kedua diatas, yakni “termasuk maksiat hati adalah al-kibr yakni merasa lebih baik dari orang lain dan menganggap yang lain itu lebih buruk darinya”. Sebagian senior di pondok pesantren itu tidak mudah akrab dengan santri yang junior. Itu mungkin di dalam hati mereka terdapat rasa al-kibr. Sehingga mereka merasa tidak level berteman dengan santri junior. Atau mereka takut kehilangan harga dirinya, karena berkumpul dengan santri yang lebih junior. Tapi beliau tidak seperti mereka. Beliau bahkan hampir akrab dengan seluruh santri. Beliau tidak takut diremehkan oleh santri yang lebih junior. “Kita harus bisa mengambil hati mereka dulu, baru kita dapat mengatur mereka” karena itu prinsip dari pengurus ketua bidang taklimiyah yang satu ini.

Adapun paragraf sebelumnya ada sebuah keterangan, yakni “etika berguru atau mencari guru”. Penulis merasa tidak salah dalam memilih guru. Karena disamping beliau mengajarkan ilmu secara lahiriyah, yakni dengan memberi kajian dua kitab di atas kepada muridnya. Beliau juga mengajarkan muridnya melalui perilaku beliau setiap harinya. Artinya beliau juga memberi nasehat sikap, bukan hanya nasehat ucapan belaka. Itu dapat dilihat dari kebiasaannya sehari-hari. Mulai dari pakaian yang tidak terlalu mewah. Seperti yang dikatakan dalam kitab ta,lim muta’allim bahwa “pencari ilmu sebaiknya tidak terlalu menyibukkan dirinya dengan urusan dunia”. Atau perilaku beliau yang lain. Contoh, beliau mempunyai sifat tawakal yang bisa dikatakan cukup tinggi. Itu bisa diketahui dalam keseharian penulis ketika bersama beliau. Penulis pernah bertanya tentang seragam Isadarma yang belum dibayar. Beliau hanya menjawab “tenang ae, iku opo jare emben-emben”. Setiap penulis menanyakan suatu hal yang butuh sesuatu, sering beliau menjawab seperti itu. Tapi disamping itu beliau bukan berarti hanya diam saja. Nggak. Beliau tetap berusaha mencarikan jalan terbaik dalam setiap masalah yang dibincangkan dengan penulis.

Termasuk etika dalam belajar adalah pencari ilmu sangat dianjurkan untuk berkhidmah kepada guru atau yang biasanya disebut dengan ‘mengabdi’, bukan hanya mengaji saja. Karena dengan mengabdi kepada guru merupakan jalan untuk mendapat barokah guru. Dan itu telah banyak dilakukan oleh para Kyai dan Ulama terdahulu, termasuk para Kyai dan Ulama Indonesia. Beliau pernah bercerita kepada penulis, bahwasanya ayah beliau pernah memberi pesan kepada beliau sebelum beliau berangkat mondok. Ayah beliau memberi pesan yang cukup sederhana tapi penuh makna “leee... kamu tidak boleh boyong, sebelum kamu bisa menuangkan air kedalam gelas”. Pesan ayahanda itu tidak di mengerti oleh beliau ketika ayahnya berpesan saat itu. Tapi lambat laun, setelah beliau banyak menimba ilmu di pondok pesantren yang pernah beliau singgahi. Akhirnya beliau mengerti pesan dari sang ayah itu “jangan boyong, sebelum kamu mendapat barokah dari gurumu” kata beliau. Beliau mengibaratkan ilmu itu sebagai air, adapun gelas itu adalah barokahnya. “jadi... ketika seseorang telah mendapatkan ilmu tapi dia tidak mempunyai barokah dari gurunya, maka ya... akan tumpah” begitulah lanjut ucapan beliau. Sehingga beliau mempunyai sebuah kata mutiara‘A Nga Nga’  singkatan dari ‘ayo ngaji ayo ngabdi’. Mungkin itu terinspirasi dari kata ayahanda beliau. Semoga kita dapat meneladani cerita beliau diatas, sehingga kita dapat menerapkan kata  mutiara beliau ‘A Nga Nga’. Kata itu menganjurkan para pencari ilmu untuk tidak hanya mengaji saja tapi juga mengabdi.

Previous Post
Next Post

0 comments: