Monday, 1 February 2021

Seminar langka di Smk Al-Khozini.

 


Ilham Thoriq CEO Tugu Malang


Seminar langka di Smk Al-Khozini.

Oleh: Muhlis Akmal Hanafi

 

Dalam rangka memperingati hari lahir NU ke 96 Minggu (31 Januari 2021) Ganjaran Gondanglegi Malang, Smk Al-Khozini secara terbuka menggelar seminar jurnalistik yang digelar di gedung Graha Madani.  

Diawali dengan acara pementasan seni dari siswa-siswi smk Al-khozini, dan berbagai macam pementasan individu yang lainnya, akhirnya acara bisa dimulai setelah pembukaan resmi digelar oleh Gus Mannan Qoffal. Dalam kesempatan pembukaannya beliau berkesampatan memberikan satu motivasi menulis kepada para peserta dan tamu undangan, dengan tujuan meningkatkan literasi membaca dan dorongan menulis bagi para peserta didiknya.

Acara yang dihadiri oleh narasumber ceo Tugu Malang, sekaligus alumni Raudlatul ulum 1 itu pun, Ilham Thoriq, mendapatkan apresiasi yang sangat lumayan dari beberapa kalangan, mulai dari santri yang mewaikili pondok pesantren baik putra ataupun putri, siswa smk Al-Khozini putra maupun putri, tak terkecuali media liputan Akhbar.

Selain meningkatan kualitas literatur yang baik, ilham thoriq juga berkesampatan memulai acara tersebut dengan cerita yang didasari pengalaman. Dalam kesempatan bicaranya, beliau menyampaikan poin-poin penting yang harus ditanamkan dalam diri wartawan, Salah satunya perihal wartawan yang melakukan kesalahan baik dari segi penulisan atau liputan.

Sebagai wartawan senior, ilham thoriq juga memberikan amanah yang berat bagi para penulis, khususnya teman-teman yang ikut dalam acara seminar tersebut. Amanah tersebut jelas memberikan pukulan yang mutlak yang tidak boleh dilanggar oleh wartawan sendiri, 

Beliau menyampaikan bahwa untuk menjadi wartawan ada beberapa poin penting yang harus dilakukan dan tidak boleh dilanggar, sebagai wartawan melakuakan khilaf dalam bentuk apapun itu bisa dimaafkan, tapi sebagai wartawan tidak boleh memberikan berita bohong yang secara administratif tidak boleh dilakukan. Begitulah ungkapan beliau dalam salah satu sambutannya.


Imron haqiqi narasumber ke II di acara seminar Jurnalistik

Selain ilham thoriq, Smk Al-Khozini juga tak segan mengundang narasumber yang berasal dari lumajang, narasumber itu bernama imron haqiqi.

Secara pendidikan, imron haqiqi merupakan lulusan generasi kedua dari sekolah smk al-khozini, beliau juga pernah mengenyam pendidkan disana dan bermukim di pondok pesantren raudlatul ulum 1 ganjaran. Lalu kemudaian ia melanjutkan ke jogja guna melanjuti pendidikannya.

Dalam salah satu sambutanya beliau memberikan wajangan khusus bagi para peserta dan tamu undangan, bahwa semua orang berhak untuk menjadi wartawan, tak terkecuali orang yang lulusan pesantren.

Acara  seminar dengan tema Menulis Untuk Masa Depan itu pun berjalan sebagaimana mestinya. Narasumber yang hadir pun masih memberikan kesempatan bertanya kepada para peserta yang hadir, beberapa diantaranya bertanya tentang permasalahan penulisan dan hal-hal yang berkaitan dengan teknik menjadi wartawan.

Acara yang dihadiri oleh beberapa santri yang mewakili, dan siswa siswi smk al-khozini itu pun, akhirnya ditutup dengan pembacaan do’a, ditambah dengan penutupan foto bareng dengan narasumber yang hadir.

Dengan begitu para tamu undangan yang hadir juga mengharapkan dukungan penuh dengan harapan yang besar, serta bisa melanjuti generasi mereka untuk lebih giat lagi dalam hal penulisan. Amin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SIMATREN & RU-MART, LANGKAH BERANI DARI PESANTREN TUA

 


SIMATREN & RU-MART, LANGKAH BERANI

DARI PESANTREN TUA

Oleh: Badruzzaman ibn Mas’ud

 

Pondok Pesantren adalah pilar syariat yang telah lama hadir di Bumi Nusantara bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka. Santri, Kyai, beserta Pondok Pesantren turut andil dalam perjuangan kemerdekaan Republik Merah Putih ini, maka sampai kapanpun Pondok Pesantren tak akan pernah terhapus dari sejarah perjalanan panjang Indonesia.

Di Pondok Pesantren diajarkan tentang Tauhid, Fikih, Tashawuf dan lain sebagainya. Semua yang berkaitan dengan agama selalu dianggap suci oleh masyarakat dan itulah paradigma yang telah tumbuh mengkristal. Di Pesantren para pelajar yang lebih kondang dengan sebutan santri terkenal dengan akhlaknya yang menawan, tutur kata yang menakjubkan, dan wajah yang rupawan.

Agama Islam mengajarkan untuk tawakkal, tawakkal itu adalah tumpuan terakhir dalam suatu usaha atau perjuangan dan ikhlas menerima apapun hasil akhirnya. Agama Islam-pun mengajarkan untuk qona’ah yang jika diartikan secara istilah, qanaah  memiliki arti merasa cukup serta rela menerima apa yang diberikan oleh Allah SWT. Tetapi yang harus digaris bawahi apakah tawakkal danqona’ah direalisasikan dengan kekolotan? Dengan pakaian santri yang compang camping? Dengan busana santri yang kusam seolah tak pernah dicuci berbulan-bulan? Dengan tidak bolehnya Praktisi Pondok Pesantren terjun ke dunia politik? Ini adalah sedikit contoh dari paradigma yang sudah mengkristal dari pandangan beberapa kalangan atas Santri, Kyai, dan Pondok Pesantren. Tatkala Santri menggunakan pakaian kusam, jelek, warna yang memudar disebut santri kok tidak bersih?, padahal kebersihan adalah sebagian dari iman. Tatkala wujud fisik dari Pondok Pesantren memprihatinkan dan sedikit-banyak tidak layak huni, disebut Pondok Pesantren kok jelek amat?. Tatkala pembayaran biaya Pondok Pesantren dinaikkan nominalnya, disebut Pondok Pesantren kok menyebarkan agama berkedok finansial? Tatkala praktisi atau alumni Pondok Pesantren atau bahkan Kyainya terjun memperjuangkan rakyat dijalur dunia perpolitikan, disebut Kyai kok masuk partai, partai kan banyak korupsinya, dunia politik kan identik dengan dunia “hitam”?.

Ini adalah mindset yang keliru dan bisa diperbaiki. Islam dan Pondok Pesantren memang mengajarkan tawakkal dan qona’ah tetapi jangan lupa pula bahwa Islam dan Pondok Pesantren mengajarkan umatnya agar berikhtiar dan berdo’a. Bersamaan dengan itu kemajuan teknologi yang mendunia tak bisa dielakkan. Demam teknologi telah menjadi candu para ahli IT untuk berlomba menghasilkan teknologi mutakhir yang berguna dalam kehidupan manusia. Sebut saja Mobil Listrik bernama Tesla hasil karya Elon Musk. Kini dengan kecanggihan teknologi, kita bisa berjalan menggunakan mobil Tesla tanpa menyentuh kemudinya, biarkan Tesla dan kecanggihannya mengantarkan kita ketempat tujuan. Sembari Tesla mengantarkan kita dalam perjalanan, kita bisa dengan santuy ngopi, You-tube-an, video call pacar dan terserah apapun yang kita mau. Atau mari kita beralih ke sesuatu yang lebih simple yakni Telpon Genggam atau Handphone atau HP. Saat ini, siapa yang tidak kenal dengan barang mungil bernama HP ini dan sudah berapa banyak orang dibelahan dunia yang tidak bisa hidup tanpa barang ini.  Teknologi bias mendatangkan kemaslahatan namun ia juga bias menghadirkan kemudaratan. Sisanya tergantung bagaimana kita sebagai user menggunakannya.Poinnya adalah manusia tidak bias dan tidak boleh menolak Teknologi.

Tanpa menafikan tawakkal dan qona’ah, ditambah dengan kesederhanaan yang menjadi ciri khas Pondok Pesantren klasik. Langkah berani itu akhirnya datang dari Pesantren tua bernama Raudlatul Ulum 1 Ganjaran Gondanglegi Malang. Dikenal sebagai Pesantren Tua yang tak terhempas oleh kerasnya zaman, Pesantren yang didirikan oleh Al-Mukarrom Al-Maghfirlah KH Yahya Syabrowi ini tetap exis dan bersaing. Yang terbaru kini PPRU 1 telah maju dengan terobosan teknolgi bernama Simatren. Simatren adalah singkatan dari Sistem Informasi Pesantren. Kini dengan mudahnya para wali santri dimanapun mereka berada bisa mengakses setiap informasi tentang putra-putrinya dilaman https://simatren.com/. Tidak harus diakses melalui PC, laman https://simatren.com/ juga bisa diakses melalui gadget. Ragam informasi tersaji di Simatren seperti kegiatan Pondok Pesantren, adminitrasi umum, administrasi keuangan, prestasi Santri dan akan terus update menu kedepannya. Simatren menjadi barang wajib yang harus diketahui oleh wali santri. Ini adalah langkah maju nan berani dengan memanfaatkan teknologi dan internet. Yang lebih membanggakan lagi, Simatren merupkan karya dari Kepala Pondok Pesantren Raudlatul Ulum 1 Putra yakni Gus AbdurrohimSa’id, M. Pd.

Saat ini pengguna Simatren tidak hanya PPRU 1 Malang, Karya Master-piece dari Gus Abdurrohim ini setidaknya sudah diaplikasikan oleh 10 (sepuluh) Pondok Pesantren. Seperti beberapa Pondok Pesantren di Desa Ganjaran, PP. Al-Jawi Surabaya, PP. Darun Najah Jember, PPRU Al-Khaliliyah Kubu Raya, PP. Darut Tauhid Injelan Sampang, dan PP. Tahfidz Yanbu’ul Qur’an 3 Batam. Jelas ini merupakan prestasi di dunia Kepesantrenan yang semula dicap kolot tapi kini modern dan bersaing.

Tidak berhenti sampai disitu, kini Pondok Pesantren yang diasuh oleh Al-Mukarrom KH Mukhlis Yahya juga bersaing dibidang ekonomi pesantren. Hal ini diwujudkan melalui lahirnya The New RU-Mart, sejatinya koperasi bukan barang baru di Pesantren ini tapi kali ini berbeda. RU-Mart hadir dengan wajah segar, siap melayani pembeli dari dalam dan luar Pesantren. Menu yang adadi dalam nyapun tidak sekedar kebutuhan sehari-hari melainkan juga sedia aneka Kitab-Kitab Kuning Klasik serta bahan ajar lainnya.Jika anda merupakan alumni PPRU 1, maka tidak sah rasanya jika belum mengetahui dan berbelanja di RU-Mart yang kini dipimp inoleh Gus Syarif Hidayatullah, M.Pd. dan Ust Umar Faruq, M. Pd.

Proses pembayarannya-pun di RU-Mart sudah modern dengan menggunakan barcode seperti di supermarket besar. Secara tidak langsung hal ini memperkenalkan kepada para santri tentang kemajuan dan modernisasi teknologi yang sudah diterapkan dibanyak tempat. Sehingga santri tidak kaget juga bias beradaptasi dengan modernisasi teknologi.

Tidak akan berhenti hanya sampai disini, kedepannya Pondok Pesantren Raudlatul Ulum 1 Ganjaran Gondanglegi Malang akan kembali melakukan terobosan yang konstruktif demi kemaslahatan bersama. Akhir kata, inilah Pondok Pesantren Raudlatul Ulum1 Malang yang tidak anti akan Modernisasi Teknologi.

                                                                                               

TAK THOK NOW (editorial)

 


TAK THOK NOW

oleh: kang bashir

tak thok now, kalimat sederhana tapi penuh makna. Sekelumit kalimat yang lagi hangat-hangatnya diperbincangkan ini mengundang sejuta tanda tanya, khususnya di kalangan senior. Jika ditelusuri lebih dalam lagi, banyak sekali spekulasi yang dapat diraba, tapi kebenaran hanya ada pada si pengucap, ke arah mana kalimat ini ia tujukan.

Kalimat yang berasal dari bahasa Jawa ini jika ditilik secara filosofis menggambarkan suatu gejolak bathiniyah yang disebabkan oleh suatu kejadian tertentu yang sedang dialami, sehingga membuatnya tak kuat mengontrol diri, yang kemudian secara spontanitas terluapkan melalui anggota dhohiriyah, dalam kasus ini yaitu lisan. Ini merupakan hal yang wajar karena psikologi seseorang itu bisa terpengaruhi oleh factor luar. Sehingga terkadang bisa diketahui kondisi hatinya, sedang senang atau tidak.

Namun tak penting untuk mengetahui apa maksud dari kalimat itu, siapa yang mengucapkannya, dan untuk siapa kalimat itu ditujukan, yang terpenting adalah makna dibaliknya. Sebagaimana dijelaskan diatas. Karena sebenarnya kalimat ini-menurut fakta yang beredar merupakan ekspresi dari kegeraman hati seseorang terhadap suatu kejadian yang tak sesuai dengan yang dikehendaki. Cocok sekali jika diibaratkan dengan apa yang sedang dirasakan oleh kalangan senior saat ini. dan mungkin juga kalimat ini bisa menggambarkan unek-unek yang sudah lama dipendam. sehingga membuat rasa geram ini semakin memuncak.

Geram akan apa? mungkin pertanyaan ini akan muncul tiba-tiba dalam kepala. Geram akan kelakuan sebagian kalangan junior jawabannya. Ya, siapa yang tak geram dan risih dengan ulah-ulah mereka yang berseberangan dengan tata tertib pesantren. Tak hanya sekali-dua-kali mereka diperingatkan. Bahkan berkali-kali dipanggil dan disanksi. Namun tetap saja. Jika demikian apa yang harus dilakukan?. Ya, mungkin perlu ketegasan yang tak memihak. Semua elemen harus padu dalam memberikan suatu keputusan, sehingga tidak saling tumpang tindih. Karena ini tata tertib, yang sedari dulu memang sudah ditegakkan, sehingga tak ada yang berani main-main dengan peraturan.

Dalam lingkungan pesantren undang-undang ataupun tata tertib sudah menjadi hal yang wajib untuk dipatuhi. tidak ada toleransi. setiap pesantrenpun berbeda-beda dalam menentukan aturannya, sesuai dengan kebijakan masing-masing yang telah disetujui oleh muassis (pendiri) pesantren. dan ini bukanlah hal yang serampangan, karena para muassis  itu penuh perhitungan dan pertimbangan dalam mengambil suatu kebijakan. bahkan tak jarang, terkadang melalui proses spiritual yang tak semua orang bisa melakukannya. sehingga tak heran jika santri mematuhi apa yang telah ditetapkan oleh muassis sebagai tata tertib pesantren, akan membuahkan suatu keberkahan tersendiri yang tak bisa diduga-duga.

Nah sekarang, tugas seorang santri adalah bagaimana caranya agar ia tetap bisa menjaga dirinya untuk tidak melanggar tata tertib pesantren yang telah dibuat. karena pada dasarnya semenjak pertama kali ia menginjakkan kakinya di pesantren berarti ia telah mengikrarkan diri untuk ikut dan tunduk pada semua kebijakan pesantren. sehingga tidak ada alasan untuk membrontak ataupun bertindak semaunya. semisal undang-undang pesantren yang melarang semua santri untuk tidak keluar dari area pesantren pada jam tertentu, atau larangan untuk menginap di luar pesantren. maka bukanlah seorang santri yang patut dicontoh jika ia tidak kembali kepesantren sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, apalagi sampai menginap diluar pesantren bahkan tidak pulang sampai berhari-hari tanpa izin. sebanyak apapun kegiatan seorang santri dan sepenting apapun urusan mereka diluar area pesantren, selama ia masih berstatus sebagai santri aktif dipesantren, maka tidak bisa menjadikan hal itu sebagai alasan untuk melanggar peraturan pesantren, apalagi sampai menentangnya.

Tidak ada tawar menawar untuk peraturan pesantren. agar keseimbangannya tetap terjaga. santri yang semacam itu perlu menyadarkan diri bahwa pesantren bukan tempat yang bisa keluar masuk se-enaknya sendiri. bak kos-kosan yang bebas mau pulang-pergi kapan saja. semua ada tatanannya. jika ingin bebas berkeliaran semaunya, dan fokus dengan kegiatannya diluar pesantren, maka hanya ada satu pilihan. keluar dari pesantren dengan cara terhormat yaitu sowan pada kyai. sampaikan apa adanya kepada beliau sesuai kenyataan yang terjadi. jika kyai mengizinkan, silahkan lakukan hal yang dianggapnya itu penting dengan penuh tanggung jawab dan kedewasaan. tapi jika tidak, maka ikutilah apa yang di-dawuh-kan oleh kyai. tak usah mencari berbagai alasan untuk membela diri. karena pasti ada kebaikan dibaliknya yang tak kita ketahui.

Semua santri mempunyai hak dan kewajibannya masing-masing terhadap pesantren. dan itu harus dipenuhi. begitupun yang telah dilakukan oleh pesantren. semua telah disediakan. mulai dari kebutuhan jasmani (semisal makan, mandi, minum, kamar dan yang lainnya) hingga kebutuhan ruhaniyah pun tak kurang-kurang diberikan oleh pesantren. bagaimana dengan santri saat ini ? apakah mereka sudah memenuhi haknya kepada pesantren ?. mungkin tidak semua. kebanyakan mereka hanya mengeluhkan apa yang telah disediakan pesantren, sampai mereka lupa untuk menanyakan pada diri sendiri, apa yang telah mereka berikan kepada pesantren, apakah mereka sudah melaksanakan kewajiban pesantren?. ini perlu disadari dan direnungkan oleh setiap santri, agar tidak hanya memikirkan-sesuatu yang mereka anggap sebagai-kekurangan pesantren, tapi juga merenungkan kekurangannya sendiri terhadap pesantren, terlebih turut membantu menjaga sendi-sendi kehidupan pesantren dan harapan para masyayikh terhadap pesantren. sehingga tidak mudah menyalahkan setiap kebijakan dan tindakan pesantren. bertindaklah selayaknya santri, yang selalu menjaga etika kesantriannya. bukan hanya penampilannya saja ala santri tapi perilakunya tidak menunjukkan nilai kesantrian sama sekali.

“Tumbuhkanlah mahabbah sebesar mungkin pada pesantren dan turut andillah didalamnya. insya’allah sendi-sendi pesantren menjadi berkesan dihati dan senantiasa menjelma didalam kerinduannya”. begitulah kira-kira ungkap Gus Shofi Mustajibullah dalam postingan di akun facebooknya.