Jumat, 05 Maret 2021

Untuk Apa Kau Menulis? (opini) Oleh: Abilu Royhan

 


Mungkin dari sebagian besar teman-teman timbul pertanyaan dalam hatinya “mengapa mereka menulis? Untuk apa?”. Mungkin mereka belum tahu apa manfaat dari menulis. Memang menulis itu terlihat mudah dan remeh ‘kelihatannya’. Tapi bagi teman yang mempunyai anggapan seperti tadi. Silahkan mencoba menulis sesuatu, apa saja seperti cerpen, berita, resensi atau yang lainnya, menulis sesuai aturan atau tata cara yang berlaku. Maka teman akan merasakan ‘menulis tak seremeh itu’. Setelah menulis, cobalah untuk membacanya kembali apa yang telah teman tulis. Mungkin teman akan senyum-senyum sendiri, karena merasa tulisannya kurang ini, kurang itu, bahasanya terlalu lugu lah, atau ada bucin-bucinnya lah dan lain sebagainya. Itu membuktikan bahwa menulis itu tak semudah dan takseremeh apa yang teman fikirkan. Cobalah!

Untuk dapat menulis, langkah pertama harus memiliki topik terlebih dahulu, harus itu!. “lah wong chat-chat an ajha harus ada topiknya kok” begitulah kira-kira katamu!. Lalu  penulis akan belajar untuk menuangkan apa yang ada di dalam otaknya. Semakin  banyak apa yang ada di dalam otaknya maka semakin banyak pula apa yang akan ditulis. Setelah itu teman akan merasa kesulitan dalam memaparkan apa yang ada dalam otaknya, bagaimana tulisannya supaya tidak terkesan monoton. Untuk itu penulis dituntut untuk mencari cara supaya tulisannya tidak terkesan monoton.

Tentu banyak sekalicara untuk membuat tulisan agar tidak membosankan. Diantaranya dengan membaca. Baik membaca novel, koranatau yang lainnya. Dengan membaca teman akan mengenal dan menghafal banyak kosa kata baru. Dengan kosa kata baru ini penulis mencoba untuk memakainya dalam menulis. Dengan membaca maka tulisan teman akan terlihat lebih indah sedikit demisedikit.

Dengan menulis sebenarnya seseorang akan mendapat banyak manfaat. Diantaranya dia akan mulai suka untuk membaca buku, yang awalnya tidak terlintas dalam fikirannya untuk membaca. Tentu ‘Dengan membaca seseorang akan mengetahui isi dunia’,danitu juga sebuah kemanfaatan menulis yang mungkin tidak mereka duga. Menulis juga melatih kita untuk menerapkan apa yang ada dalam otak. Sehingga  fikiran dan bicaranya akan teratur, bahkan sikapnya. Menulis juga dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah tanpa harus bekerja dengan otot. Cukup dengan memutar otak sekeras mungkin, yakni dengan menulis maha karya yang dapat dan layak untuk dibaca oleh orang lain. Seperti yang dilakukan oleh K.H Mustofa Bisri yakni menulis sebuah naskah yang kemudian dijual karena untuk membayar denda kepada aparat karena sebuah kesalah pahaman. Dengan menulis seseorang juga bisa untuk menjadikan ladang dalam mencari pahala. Itu telah dilakukan oleh para Ulama dahulu.mereka mengarang sebuah kitab yang sampai sekarang masih ada dan masih dipelajaridi mana-mana. Sebenarnya masih banyak lagi manfaat dari menulis, baik untuk hal-hal yang penting seperti contoh-contoh di atas. Atau untuk sesuatu yang kecil, seperti ketika teman tidak mempunyai seseorang untuk teman curhat. Yang mana perkara yang satu ini sangat penting bagi makhluk hidup yang bernama manusia. Maka dengan menulis teman bisa mencurahkan isi hatinya kedalam sebuah tulisan. Yang akan mendatangkan sedikit rasa lega dalam benaknya.

Dan perlu di ingat bahwa Alquran masih dapat dibaca oleh manusia jauh setelah masa Nabi Muhammada SAW, itu juga karena Alquran ditulis oleh para sahabat. Setelah terjadi peperangan yang menggugurkan banyak dari para sahabat yang hafal Alquran. Sehingga dikuatirkan Alquran tidakbisa untuk dibaca oleh generasi setelahnya. Dan buktinya sekarang kita masih bisa menikmati dan mempelajari kandungan Alquran. Dan kita patut bersyukur dan berterima kasih kepada orang-orang yang telah menulis. Sehingga kita dapat membaca dan mempelajari apa yang telah mereka tulis dan menjawab pertanyaan diatas “untuk apa kau menulis?”. Contohnya ya.. tulisan yang barusan anda baca ini.

 

Previous Post
Next Post

Pondok Pesantren Raudlatul Ulum 1 adalah pesantren salaf yang didirikan oleh KH. Yahya Syabrowi, Menggenggam Ajaran Salaf, Menatap Masa Depan

0 comments: