Raudlatul Ulum 1

Menatap Masa Depan, Menggenggam Ajaran Salaf

Breaking

Sunday, 1 October 2017

Saputra Mubarroqh, Menempuh Sukar Demi Masa Depan Ummat

Saputra Mubarroqh, Menempuh Sukar Demi Masa Depan Ummat
"Saputra Mubarroqh" Santri termuda PPRU1
     Saputra Mubarroqh, demikianlah nama buah cinta dari Rahmat Ramadhani dan Nurhasanah yang lahir di Pontianak pada tanggal 26 September 2009 ini. Santri kecil ini berhenti menempuh pendidikan formal saat kelas 2 SD demi melanjutkan pendidikan agama dengan nyantri di Pondok Pesantren “Raudlatul Ulum 1” Ganjaran, Gondanglegi, Malang. Dan perlu diketahui bersama, bahwa inisiatif untuk berangkat ke pesantren timbul atas niat dirinya sendiri.

     Di usia yang pada umumnya masih menikmati indahnya masa kecil, bermain dan bermanja pada orang tuanya, justru sebaliknya bagi seorang ernama Syaputra ini. Putra (panggilan akrabnya) mengaku bertujuan hendak menghafal Al-Qur’an, menjadi hafizh qur’an sebagamana yang sering dia lihat di TV. “Kalau hafal Qur’an, nanti Putra bisa masuk TV”, dengan kobar semangatnya, begitulah jawaban darinya saat ditanya tentang perihal yang memicu adanya niat untuk menghafal Al Qu’an.

     Di kalangan pesantren, Putra adalah santri dengan usianya yang paling dini dan di perlakukan secara khusus dalam segala sisi. Dan kini P. Muslimat (Bendahara 1 PPRU 1) selaku Pengurus Pesantren  mendapatkan amanat dari orang tua Putra untuk mengurusinya. Begitulah Putra, Anak kecil pemberani ini menjalani masa kecilnya yang bisa dikatakan terlalu dini untuk jauh dari orang tua, “Kangen, tapi nggak dipikirin, kan udah banyak teman”, jawabnya lucu.

    Pada kehidupan sehari-harinya, Putra bisa dikatakan berbeda dengan santri lain. dimana ia sering bermain dari pada belajar dan hal itu wajar adanya. Ada beberapa hal lucu tentang kisah kesehariannya di pondok. Bahwa dia sering ngompol, dan alangkah beratnya tugas pengurus pesantren dengan kebiasaan anak kecil yang satu ini.

Disisi lain, ia juga sering menangis seorang diri karena teringat akan kedua orang tuanya di rumah. Sebagai penawar saat ia menangis, cukup sajikan serial Upin dan Ipin. Tontonan kesukaan anak seusianya di jaman ini. Menurut keterangan Ustadz Syifa’ur Romli (Ketua Publikasi PPRU 1), santri kecil ini bisa dikatagorikan cerdas, sebab tak sedikit dari apa yang diajarkan pengurus pesantren dapat ia tangkap dan hafal dengan baik tanpa pengulangan.

Pepatah berkata, belajar di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu, oleh karena itu, semoga dengan usia gemilang yang dimilikinya, Putra dapat menggapai apa yang ia cita-citakan, dan semoga ia menjadi anak sholih. Sebab, menuntut ilmu seusianya masih belum begitu kenal dengan dunia bebas yang cenderung merusak ini.

Dengan ini, maka harapan besar digantungkan bagi pondok pesantren secara khusus untuk dapat mempertahankan kiprahnya demi dapat mengangkat derajat kedua orang tua dan menjadi putra yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama.

Oleh: Jihad Fisabilillah
@Devisi_Publikasi

No comments:

Post a comment