Raudlatul Ulum 1

Menatap Masa Depan, Menggenggam Ajaran Salaf

Breaking

Thursday, 6 February 2020

KEAGUNGAN PENCARI ILMU



Dalam kitab "Adab al-'Alim wa al-Muta'allim" milik Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari dijelaskan tentang keutamaan ilmu, orang alim dan belajar mengajar. Ketiga unsur ini dapat diurai sebagai berikut.

1. Keutamaan Ilmu

Firman Allah SWT yang menyebutkan tentang keagungan ilmu bertebaran dalam berbagai surah Al-Qur'an, antara lain:

شَهِدَ ٱللَّهُ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ وَٱلۡمَلَـٰۤىِٕكَةُ وَأُو۟لُوا۟ ٱلۡعِلۡمِ قَاۤىِٕمَۢا بِٱلۡقِسۡطِۚ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡعَزِیزُ ٱلۡحَكِیمُ
[QS. 03:18]

Ayat ini menegaskan bahwa yang mampu persaksikan keberadaan Allah SWT sebagai Tuhan hanyalah Allah, Malaikat dan orang-orang berilmu. Persaksian di sini maksudnya adalah Allah SWT dapat membuktikan wujud-Nya dengan ayat-ayat Kawniyah dan ayat-ayat Qur'aniyah, Malaikat menggambarkan keberadaa-Nya dangan kepatuhan dan manusia berilmu bisa memperlihatkan eksistensi-Nya dengan analisa serta nalar.

Dalam ayat lain, Allah SWT mengajukan pertanyaan:
قُلۡ هَلۡ یَسۡتَوِی ٱلَّذِینَ یَعۡلَمُونَ وَٱلَّذِینَ لَا یَعۡلَمُونَۗ
[QS. 39:09]

Dalam ayat ini Allah SWT melempar pertanyaan yang dinilai cukup mudah oleh setiap orang, yaitu sebuah soal yang pasti dimaklumi jawabannya bagi siapapun. Sebenarnya bukan seberapa tingkat kemudahan yang dimaksudkan dalam firman itu, tetapi terdapat unsur kritik pedas dibalik tanya tersebut:

Jika setiap individu telah tahu jawabannya, mengapa ia tidak bersungguh-sungguh membalik kebodohan menjadi kecerdasan.


2. Keutamaan Orang Berilmu

Satu ayat yang cukup familiar di telinga masyarakat, yakni:

یَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمۡ وَٱلَّذِینَ أُوتُوا۟ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَـٰتࣲۚ
[QS. 58:11]

Seakan-akan Allah SWT ingin memperlihatkan bahwa kemuliaan seseorang ditentukan oleh seberapa ia memiliki ilmu pengetahuan. Di dalam tata bahasa Arab, kalimat "darajaat" (دَرَجَـاتࣲ) dalam ayat tersebut merupakan bentuk "jamak" yang berarti memuat makna "beragam/banyak". Jenis kata plural semacam ini mengindikasikan anugerah Tuhan yang bermacam-macam bakal diperoleh orang berpetahuan.
KEAGUNGAN PENCARI ILMU

Merujuk dari bentuk kalimat "darajaat" (دَرَجَـاتࣲ), kemudian ulama memperluas cakupan konsekuensi logis orang-orang pandai, bukan saja di akhirat namun juga di alam fana'. Ujaran yang seringkali dibuat simbol-simbol abstraksi antara lain contoh kasus profesi dokter yang meraup sekian juta hanya dengan mengangkat butiran dari kencing batu, batu empedu dan lain-lain, sedangkan seorang kuli harus memikul batu besar tetapi dihargai puluhan ribu rupiah belaka.

3. Keutamaan Belajar Mengajar

Prinsip banyak orang ialah "proses tidak akan mengkhianati hasil". Tetapi dalam ranah pendidikan, penilaian bagi orang yang sedang belajar bukan pada hasil, namun dilihat dari sejauh mana pengalaman belajar yang dilakukan.

Dalam konteks ini, ungkapan Nabi Muhammad SAW memperkuat betapa pahala Tuhan hanya dikaitkan tahapan belajar:

ﻗ‍‍َﺎ‍ﻝ‍َ ‍ﺭ‍َﺳ‍‍ُﻮ‍ﻝ‍ُ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻠ‍‍ّٰﻪ‍ ‍ﺻ‍‍َﻠ‍‍َّﻰ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻠ‍‍ّٰﻪ‍ ‍ﻋ‍‍َﻠ‍‍َﻴ‍‍ﻪ‍ِ ‍ﻭ‍َﺳ‍‍َﻠ‍‍َّﻢ‍: ﻣ‍‍َﻦ‍ ‍ﺧ‍‍َﺮ‍َﺝ‍ ‍ﻓ‍‍ِﻲ‍ ‍ﻃ‍‍َﻠ‍‍َﺐ‍ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ْﻌ‍‍ِﻠ‍‍ْﻢ‍ ‍ﻓ‍‍َﻬ‍‍ُﻮَ ‍ﻓ‍‍ِﻲ‍ ‍ﺳ‍‍َﺒ‍‍ِﻴ‍‍ﻞ‍ِ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻠ‍‍ّٰﻪ‍ ‍ﺣ‍‍َﺘ‍‍ّﻰ ‍ﻳ‍‍َﺮ‍ﺟ‍‍ِﻊ‍َ
(HR. Turmudzi)
Menurut ulama, kesamaan antara jihad dan menuntut ilmu terletak pada perjuangan agama, perlawanan terhadap syetan, kepayahan diri dan pengkerdilan nafsu.

Dalam sabda yang lain, Rasulullah SAW menyebutkan:

ﻗﺎ‍ﻝ‍َ ‍ﺭ‍َﺳ‍‍ُﻮ‍ﻝ‍ُ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻠ‍‍ّٰﻪ‍ ‍ﺻ‍‍َﻠ‍‍َّﻰ ‍ﺍ‍ﻟ‍‍ﻠ‍‍ّٰﻪ‍ ‍ﻋ‍‍َﻠ‍‍َﻴ‍‍ﻪ‍ِ ‍ﻭ‍َﺳ‍‍َﻠ‍‍َّﻢ‍: الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ الْمَطْعُونُ وَالْمَبْطُونُ وَالْغَرِقُ وَصَاحِبُ الْهَدْمِ وَالشَّهِيدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
(HR. Bukhori)

Nabi Muhammad SAW memasukkan orang yang berjuang di jalan Allah SWT tergolong kelompok mati syahid. Dalam pengertian yang luas, penuntut ilmu dikategorikan sebagai pejuang di jalan Allah SWT (seperti hadits riwayat Turmudzi).

Oleh karenanya, ketika seseorang wafat saat menimba ilmu pengetahuan, maka ia termasuk dalam kematian yang baik, sebagaimana isyaratkan iman al-Hafidz Ibn Abd al-Bar:

قَالَ الحافِظ ابنُ عَبدِ الْبَرّ: مَن مَاتَ طَالِبًا لِلْعِلمِ فَهُوَ مِن عَلَامَات حُسْنِ الْخَاتِمَة لِأنَّه مَاتَ عَلَى طَاعَةٍ عَظِيمَة
(Sumber: https://rumaysho.com)

Lumrah setiap manusia beriman mengimpikan kondisi yang ingin dicapai sewaktu dipanggil Sang Khalik adalah bangga dengan kualitas kematiannya, seperti anjuran seorang penyair:

وَلَدَتكَ أُمُّك يَا ابْنَ آدَمَ بَاكِيًا # وَالنّاسُ حَولَكَ يَضحَكُونَ سُرُورًا
فَاعْمَل لِنَفسِكَ أنْ تَكُونَ إذَا بَكَوْا # فِي يَومِ مَوتِكَ ضَاحِكًا مسرورا
(Sumber: https://firanda.com)

Secara umum, kehormatan terbesar bagi para pencari ilmu adalah:
1) Proses dengan status pejuang di jalan Allah SWT.
2) Kematian dengan identitas syahid.

Sebegitu mulia derajat orang-orang yang menuntut ilmu, sehingga Nabi Muhammad SAW mensinyalir jaminan Allah SWT bahwa pengalaman hidupnya sekaligus kematiannya merupakan potret pintu sorga:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
(HR. Muslim)
_
Gus Mad
Dewan Pengasuh PP Raudlatul Ulum 1 Ganjaran Gondanglegi Malang ]

No comments:

Post a comment