Raudlatul Ulum 1

Menatap Masa Depan, Menggenggam Ajaran Salaf

Breaking

Monday, 7 October 2019

ISLAM NDAK RADIKAL KOK!

Oleh: Muhammad Farhan

Sebagai agama dengan popularitas terbesar di dunia, tak dapat dimungkiri bahwa Islam adalah agama dengan pengaruh yang sangat besar dalam peradabannya. Agama dengan penyebaran yang rahmatan lil ‘alamiin ini sangatlah menentramkan pada hakikatnya. Ajaran-ajarannya sangat luwes dalam kehidupan bermasyarakat. Agama yang fleksibel. Agama yang dinamis. Agama yang harmonis. Agama yang praktis.



Tetapi setelah mengalami perkembangan, Islam yang memerankan sebagai agama rahmatan lil ‘alamiin ini banyak diasumsikan sebagai agama yang tak mengenal kata toleran dan agama yang tak mengenal kata luwes. Keras dalam penyebarannya. Kaku dalam pengaplikasiannya. Sungguh tak dapat dibenarkan hal yang semacam demikian adanya. Sungguh! Islam adalah agama yang sangat mengenal kata toleran. Tidak seperti apa yang diasumsikan masyarakat luas, masyarakat yang tak berpedoman lurus.

Dalam perkembangannya, Islam tak serta-merta langsung menyerang musuhnya. Dalam banyak kejadian yang terjadi di waktu lampau, Rasulullah tidak serta merta langsung memerangi musuhnya. Tetapi beliau masih mengirimkan surat resmi ajakan masuk Islam yang dilengkapi dengan stempel resmi beliau, Muhammad Rasul Allah. Seperti halnya surat yang dikirimkan kepada Raja Kisra pada zaman terdahulu. Beliau tidak serta merta langsung menyerangnya. Tapi beliau dengan santunnya, mengajak Raja Kisra untuk masuk Islam yang rahamatan lil ‘alamiin. Namun apalah mau dikata ketika manisnya madu dibalas dengan pahitnya empedu, Raja Kisra malah merobeknya. Apalah daya, Rasulullah pun melancarkan serangannya.

Dalam Islam, perang hanyalah konsekwensi dari kelakuan mereka sendiri yang tak mau memeluk Islam dengan cara yang rahmatan lil ‘alamiin ini. Bandel.

Muhammad Al-Fatih—penakluk kota konstantinopel yang sekarang menjadi bagian dari kota Instanbul, Turki—dalam sejarahnya ketika menaklukkan kota besar lagi kuat itu tidak serta merta melakukan ekspansi ke negara yang ditujunya dengan brutal, tak ada aturan. Beliau dengan telaten mengajak para pembesar-pembesar kerajaan yang masih kafir untuk masuk Islam. Namun dari golongan merekalah yang tak mau diberi madu, mereka lebih memilih empedu. Tak mau masuk Islam dengan cara yang rahmatan lil ‘alamiin. Setelah apa yang dilakukan oleh mereka terhadap beliau, si sultan, beliaupun melakukan musyawarah dengan para pembesar kerajaan untuk menyerang kerajaan yang sedang menguasai Konstantinopel.

Para pembesar kerajaan pun menyetujui atas usulan beliau: menyerang kota Konstantinopel. Alhamdulillah, konstantinopel un dapat ditaklukkan. Setelah itu, Islam yang rahmatan lil ‘alamiin pun berperan besar. Al-Fatih dengan santunnya tak serta-merta langsung mengusir penduduknya yang berlainan agama. Al-Fatih malah memberikan kebebasan dalam beragama bagi masyarakatnya. Tak ada paksaan. Tak ada kekerasan. Semua berjalan dengan rahmatanlil ‘alamiin.

Ingat! Perang hanyalah konsekuensi dari mereka yang tidak mau menerima ajarannya.

Dalam epos tanah Jawa, Raden Said—putra sulung dari pada adiphati Tuban,Wilwatikta—tak pernah dengan paksa mengajak masyarakatnya untuk memeluk agama Islam. Agama yang penuh dengan rahmatan lil ‘alamiin. Beliau malah mempunyai trik jitu untuk mengajak masyarakatnya memeluk agama yang rahmatun lil ‘alamiin ini dengan sukarela. Tak ada paksaan. Tak ada kekerasan.

Raden Said dengan sabar, dengan telaten mengajak rakyatnya masuk Islam dengan cara yang begitu menarik. Beliau menyiapkan pertunjukan wayang dengan suguhan cerita-cerita yang diselipi dengan unsur humanisme dan unsur spritual. Masyarakat pun tertarik dengan pagelaran yang disuguhkan oleh Raden Said. Masyarakat dengan antusiasnya menghadiri pagelaran tersebut. Tak ada paksaan. Tak ada kekerasan. Sebagai ganti dari pada asyiknya tuntunan yang dipertontonkan, mereka hanya harus membayar dengan tiket berupa kalimo sodo, kalimat syahadat. Mereka masuk Islam pun dengan suka rela. Tak ada kekerasan di dalamnya.

Banyak contoh-contoh yang dapat kita jadikan pedoman, bahwa Islam memang bukanlah agama yang identik dengan peperangan, kekerasan dan paksaan. Islam adalah agama yang rahmatun lil’alamiin. Agama yang luwes. Agama yang dinamis. Agama yang praktis. Agama yang harmonis.

Islam bukanlah agama yang seperti diasumsikan oleh mereka yang sering mengkafirkan sesama. Islam bukanlah agama yang selalu membombardir sini-sana demi hanya kepentingan sekelompok semata. Islam bukanlah agama yang memberikan rasa was-was, rasa takut dan rasa tak nyaman pada sekitarnya. Islam bukanlah agama otoriter, agama yang sekehendak sendiri untuk melakukan sesuatu yang dimauinya. Islam bukanlah seperti itu semua.

Tapi Islam adalah agama yang memberikan rasa aman bukan hanya kepada umat Islam saja, melainkan kepada seluruh umat manusia. Islam adalah agama yang mementingkan kelompok bersama, tak membedakan satu kelompok dengan kelompok lainnya. Islam adalah agama yang memberikan rasa percaya diri bagi sekitarnya. Islam adalah agama yang memberikan rasa tenang, rasa tentram, rasa aman, rasa rukun dan rasa yang penuh adem-ayem bagi sekitarnya. Islam adalah agama yang luwes, agama yang dapat sesuai dengan masanya. Islam adalah agama yang fleksibel, agama yang dapat beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Islam adalah agama yang praktis, agama yang tak terbelit-belit dalam ajarannya. Islam adalah agama yang harmonis, agama yang tak pernah mengancam keberadaannya, bahkan agama yang memberikan perlindungan kepada sesama umat manusia.

Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamiin, agama yang dengan sedemikian ajarannya mengajak kita semua untuk saling mengasihi pada sesama. Bukan hanya kepada umat Islam saja tapi kepada sesama manusia, bahkan pada lingkungannya juga. Wallaahu a’lam bis showaab.

No comments:

Post a Comment