Raudlatul Ulum 1

Menatap Masa Depan, Menggenggam Ajaran Salaf

Breaking

Saturday, 14 September 2019

OPINI-ARIFNYA PITUTUR JAWA

Oleh: MUHAMMAD FARHAN

Tak dapat dimungkiri, pitutur-pitutur masyarakat pribumi pada masa lampau amatlah kental dengan kearifannya. Sedangkan kearifan itu sendiri, yang dalam sebagian literatur dinyatakan dalam kata-kata bijak, adalah salah satu etos yang sangat dianjurkan oleh agama manapun, termasuk agama dengan prosentase terbanyak di dunia, ad-diin al-haq, Islam.



Sebagai masyarakat pribumi dari salah satu suku di Indonesia, Jawa—yang oleh salah satu budayawan kondang Indonesia, M.H. Ainun Najib atau biasa disebut dengan Cak Nun, disebut sebagai masyarakat dengan peradaban tertua yang pernah ada di dunia—pitutur- pituturnya amatlah banyak dengan kearifan-kearifan yang amat mendalam, baik dari segi penalaran atau dari segi sipritual.

Ada Witing Trisno Jalaran Soko Kulino salah satu pitutur yang sangat sering disebutkan oleh para pujangga. Diakui atau tidak, salah satu sebab seseorang dapat merasakan akan adanya getaran hati karena rasa cinta yang membara adalah seringnya bersua. Diakui atau tidak, ketika Anda sering bersua dengan seorang perempuan, maka dalam lubuk hati Anda akan dirasakan getarnya hati yang entah dari mana rasa itu berasal dan tumbuh.

Dalam magnum opusnya, Ihya’ Ulum ad-Din, Al-Ghazali memberikan statemen yang senada dengan statemen di atas. Efek dari cinta adalah selalu menyebutkan nama dari kekasihnya tersebut. Para kiai pun juga menerapkan konsep itu. Pada setiap rampungnya salat, biasanya para kiai membiasakan para santrinya—atau dalam ranah formal disebut siswa/mahasiswa—untuk membaca wirid. Hal ini tak lain dan tak bukan hanyalah trik para kiai untuk membiasakan santrinya terbiasa bersua dengan rabb-nya. Dan dengan seringnya bersua inilah diharapkan bagi para calon cendekiawan muslim untuk dapat menumbuhkan rasa mahabbah mereka kepada rabb-nya, Allah Swt.

Contoh kedua dari pitutur arif Jawa adalah Tepa Selira, kata yang sangat singkat namun teramat padat. Tepa selira adalah ungkapan Jawa kuno yang mengandung makna “ukurlah perbuatan apa saja dengan diri kita.”

Jawa memang pandai dalam hal sindir-menyindir. Tak dapat kita menutup mata bahwa kebanyakan dari kita suka berbuat seenak hati—dalam ranah yang lebih keras menyebutkan semena-mena—namun tak mengukur dengan hati nurani.

Mereka memukul, namun tak mau dipukul. Mereka menginjak, namun tak mau diinjak. Mereka mencaci, namun tak mau di caci. Mereka mengkritik, namun tak mau dikritik. Mereka mencuri, namun tak mau dicuri. Aneh kau kata? Memang aneh dikata. Namun itulah kita. Terima atau tidak.

Pada masa sugeng-nya, yang mulia kanjeng rasul sayyiduna Muhammad saw. telah mewanti-wanti kita agar kita dapat mencintai saudara kita sedalam diri ini mencintai diri sendiri. Sulit kau kata? Memang sulit dikata. Namun semua memang berproses, tak dapat instan. Sabar.

Kita diajarkan dalam banyak kasus yang balasannya harus sepadan dengan perbuatan. Jinayah, misalnya. Ketika kita membunuh satu orang dengan motif terencana, maka balasannya pun tak lain dan tak bukan adalah balasan yang setimpal, mati. Atau ketika kita hanya melukai seseorang saja, maka balasannya pun tak lain dan tak bukan adalah balasan yang setimpal, dilukai dengan taraf yang sama. Harus sepadan, tak boleh ada ketimpangan. Harus sama rasa. Harus tepa selira.

Mbangane mati ngantuk, luwung mati umuk.  Mungkin inilah perwakilan dari pitutur Jawa yang syarat akan makna. Ma’na lughawi—etimologi—dari pitutur itu mungkin akan sangat bertentangan dengan batasan agama. “Dari pada mati hanya karena sebab mengantuk, lebih baik mati karena congkak.”

Allah mengajarkan kepada kita lewat rasul-Nya untuk menjauhi sifat tercela yang berupa sombong. Bukan tanpa sebab, karena memang hanya Si Super Power-lah yang pantas menyandang gelar tersebut, Allah Swt. semata. Banyak dari firman-Nya yang teramat mencela akan sifat ini.

Dalam Riyadh as-Shalihin, beliau yang mulia as-syaikh An-Nawawi menyebutkan beberapa hadis yang menerangkan konsekuensi pada si pelakunya, baik ketika di dunia atau ketika di akhirat nanti. Tak hanya dari si utusan, beliaupun juga menyebutkan kalam-kalam dari Pengutusnya, mulai dari larangan bagi si sombong untuk berjalan di muka buminya Allah hingga kisah tragis dari si sombong Qarun. Namun dalam pitutur itu bukan sombong yang sekadar sombong, melainkan sombong dengan penalaran yang agak jauh.

Sombong adalah suatu hal—atau dapat disebut juga dengan sifat—yang hanya dimiliki oleh orang sombong. Orang yang sombong tentunya mempunyai suatu hal yang patut disombongkan. Suatu hal yang patut disombongkan ini tentunya berada di atas rata-rata yang sudah ada. Suatu hal yang berada di atas rata-rata itu, misalnya, adalah sebuah karya. Sebuah karya tentunya butuh jerih payah yang luar biasa, yang dihasilkan dari etos kerja. Panjang? Memang agak panjang. Sederhana? Setidaknya agak saja.

Adapun pekerjaan mengantuk adalah suatu hal yang tak menghasilkan apa-apa. Tak ada jerih payah. Tak ada suatu hal yang luar biasa.  Tak ada yang istimewa. Tak ada etos kerja. Semua berjalan ala kadarnya. Biasa biasa saja.

Maka dapat disimpulkan bahwa sebenarnya pitutur tadi mengajak kita untuk membuat suatu karya istimewa yang dapat dikenang oleh masa, bukan hanya sombong semata. Maka terjemah pas dari racikan bahan yang ditelaah adalah: “lebih baik mati dalam keadaan berkarya, daripada harus mati konyol belaka.”

Pitutur yang selanjutnya adalah aja cedhak kebo ghupak. Penalarannya cukup sederhana.  Ketika kita ingin bersihnya badan, maka jangan sekali-kali mendekat terhadap kerbau yang sedang berendam di kolam lumpur. Jika Anda ingin tetap bersih, maka jangan dekati mereka yang kotor. baik dari segi rohani ataupun perilaku jasmani. Namun sebaliknya, bila Anda kotor maka dekatilah mereka yang bersih. Hal ini sudah lumrah berlaku di masyarakat awam.

Syaikhuna Az-Zarnuji Al-Alim Al-Allamah dalam kitab karangannya, Ta’lim al-Muta’allim, menyebutkan bahwa jika diri Anda ingin tahu tentang seseorang, maka cukup bagi Anda untuk mengetahui siapa karibnya. Karib baik, baik pula ia. Karib buruk, buruk pula ia.

Lalu bagaimana dengan para preman? Apakah kita tak ada kewajiban untuk menjangkaunya dalam rangka dakwah? Apakah kita hanya ada kewajiban inkar bil qalbi saja? Ataukah kita tetap wajib ingkar bil yad dengan risiko kita akan tertular getah buruknya?

Tentu semua itu ada pertimbangannya. Tak dapat diputuskan tanpa adanya tafshil. Ketika ingin tetap bersih walau dalam keadaan dekat—atau bersentuhan langsung—dengan kerbau yang berendam di kolam lumpur, maka alternatf terampuh adalah melindungi diri kita yang bersih dengan mantel--atau  bisa disebut dengan pelindung tubuh—yang baik dan layak pakai. Masalahpun terselesaikan. Analogi yang sederhana.

Ketika kita ingin mengajak mereka, para preman jalan itu, untuk mengikuti jejak dari penjelajah spritual, maka tak lain dan tak bukan kita harus menyiapkan mantel iman dan mantel mental. Namun apalah daya ketika kita tak punya mantel keduanya, maka sebatas ingkar bil qalbi-lah kewajiban kita. Tak lebih dan tak kurang.

Kearifan kelima tentang pitutur Jawa terletak pada kata ngono yo ngono, ning ojo ngono. Kaidah inilah yang mungkin diaplikasikan oleh para Wali Songo. Beliau-beliau memang ahli dalam strategi. Beliau-beliau menerapkan konsep ini dalam strategi dakwah beliau di tanah Jawa.

Dalam banyak literatur, banyak disebutkan bahwa beliau-beliau tak pernah dengan keras menyatakan bahwa ini haram, ini bid’ah, ini dosa, dan lain sebagainya. Namun bukan lantas beliau-beliau mendiamkan suatu perkara yang mungkar tersebut, tetapi belau-beliau lebih memilih dengan menerapkan strategi dakwah yang halus.

Beliau-beliau mengambil cara terbaik. Mengambil poros tengah. Beliau-beliau mengambil jalan yang sekiranya tak akan berbenturan antara agama dengan adat masyarakat pribumi pada umumnya.

Banyak sampel yang dapat diambil sebagai contoh. Misal, ketika dulu masyarakat pribumi menaruh sepiring—atau dalam jumlah yang lebih besar disebut dengan talam—sesajen di pojok rumah atau di bawah kayu yang dianggap keramat, maka para Wali Songo tak lantas mengharamkan, melainkan dengan cara mengubahnya menjadi ajang shilaturrahmi yang dilengkapi dengan amal baik yang berupa sedekah.

Atau ketika para wali berdakwah menggunakan seni rupa yang berupa musik. Mulai dari yang bernama Bonang hingga yang bernama lain. Mereka malah membuka pertunjukan mereka kepada semua kalangan—tak memandang agama—untuk mengikuti acara seni tersebut dengan hanya membayar tiket berupa dua kalimat syahadat. Assyhadu an laa ilaaha illallaah wa asyhadu anna muhammadarrsuulullah.

Bijak sekali. Sungguh arif bahasamu, suku Jawaku.

No comments:

Post a Comment