Raudlatul Ulum 1

Menatap Masa Depan, Menggenggam Ajaran Salaf

Breaking

Monday, 26 August 2019

Pidato Kemerdekaan; Hubbul Waton Ala Santri Atas Dasar Mahabbah (Gus Athok)

(Berikut adalah amanah dalam upacara 17 Agustus 2019 di PP. Raudlatul Ulum I, yang disampaikan oleh Gus Athok Lukman selaku Pembina dalam Upacara tersebut).

Saya teringat salah seorang Indosianis dari Amerika, tahun 60-an dia berbicara tentang nasionalisme di Indonesia. Salah-satunya kesimpulan dari hasil risetnya tentang kebangsaan di Indonesia adalah bahwa Nasionalisme di Indonesia, Kebangsaan di Indonesia, sumbangsih terbesar disumbang oleh umat Islam. Kontribusi pembangunan dalam Nasionalisme di Indonesia, itu diberikan oleh umat Islam.
Pidato Kemerdekaan; Hubbul Waton Ala Santri Atas Dasar Mahabbah (Gus Athok)


Kalau kemudian pertanyaan ini dilanjutkan, umat Islam yang mana yang memberikan kontribusi besar di dalam Nasionalisme atau Kebangsaan, Cinta Tanah Air di Indonesia? Maka, saya dapat memastikan bahwa Muslim terbesar (dalam memberikan kontribusi besar di dalam Nasionalisme di Indonesia) adalah Muslim yang punya afiliasi terhadap Pesantren. Jadi, Kalian (para santri) adalah turunan-turunan secara genealogis pengetahuan yang memberikan kontribusi besar terhadap kebangsaan di Indonesia ini. Sehingga sangat wajar, dan ini harus disadari oleh semua santri, bahwa Indonesia berdiri, saham terbesarnya adalah dari kalangan Muslim, khususnya adalah kaum pesantren. 

Dalam konteks ini, maka ketika kemerdekaan sudah diraih, Bung Karno mengatakan  “ kemerdekaan adalah jembatan emas untuk pencapaian keadilan sosial, kemerdekaan adalah jembatan emas bagi pencapaian cita-cita kebangsaan”. Bagi kaum santri, Cinta Tanah Air, Kemerdekaan dan pemaknaan terhadap kemerdekaan itu tidak boleh dilepaskan dari cinta Allah, cinta kepada Rasulullah. Sehingga Hubbul waton-nya santri atau kontribusi santri terhadap pengisian kemerdekaan ini adalah ekspresi terhadap cinta Allah dan Rasulnya. Sehingga, Nasionalisme ala santri itu bukan nasionalisme ala chauvanistik ala Eropa, yang kemudian membenarkan rasnya sendiri atau golongannya sendiri, tapi nasionalisme yang berakar kuat terhadap kebatinan kita sebagai hamba Allah, yang kemudian harus menterjemahkan ke dalam realitas kehidupan sosial untuk kebaikan rahmatan lil alamain.

 Jadi,  hubbul waton atau cinta  tanah air harus berangkat dari kecintaan kita kepada Allah dan Rasul. Kalau kita ambil sampel tentang bagaimana Rasullah menyatukan umat di  Madinah. Pada waktu itu Islam hanya sepertiga dari komunitas Madinah. Kemudian disatukan oleh Rasulullah dengan Piagam Madinah. Dengan Piagam Madinah itu, kemudian proses sosial yang terjadi adalah untuk kebaikan bersama. 

Nah, dengan ini, kalau kita melihat Pancasila di Indonesia, sebenarnya memiliki kesamaan dengan Piagam Madinah. Sehingga, bagi santri sudah tidak ada namanya NKRI bersyariah. Sudah tidak ada pertanyaan apakah Indonesia ini Thagut atau bukan? perlu khilafah atau bukan? Tidak. Indonesia sudah final. Dengan Pancasila tahun 45 yang dirumuskan oleh BPUPKI dan lain sebagainya, sudah menjelaskan bahwa Bangsa Indonesia atau Negara Indonesia tidak bertentangan dengan agama Islam. 

Dengan ini, santri tidak mencita-citakan Negara Syariah atau Khilafah di Indonesia. Karena bentuk final hari ini adalah pencapaian, tidak hanya pencapaian pengetahuan tapi juga pencapaian spiritual yang direpresentasikan oleh semisal Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Wahid Hasyim dan sebagainya, yang notabene itu adalah kiai-kiai kita. Intinya, satu, jangan terlena dengan bujukan-bujukan untuk menciptakan khilafah di Indonesia. Bohong. Bohong semua (bujukan) itu. 

Jangan terlena dengan bujukan menciptakan NKRI bersyariah, itu kamuflase.
 Seakan-akan yang diciptakan, didirikan, dirembuk oleh Kiai Hasyim Asy’ari, yang dirembuk oleh Kiai Wahid Hasyim, itu belum bersyariah.
Tidak! Sudah! Tanpa embel-embel resmi bersyariah, Indonesia ini, secara nilai,  tidak bertentangan dengan Agama Islam. Dan ini penting untuk diketahui oleh para santri. 

Sehingga nanti ketika kalian sudah kembali ke masyarakat dan berkontribusi terhadap pembangunan kemerdekaan ini, maka yang tidak boleh hilang adalah kecintaan kepada Allah dan Rasulnya. Dan kemudian ekspresi bagaiamana kalian berkontribusi terhadap masyarakat adalah sesuai dengan peran masing-masing. Anda Boleh berperan sebagaia apapun, apapun secara sosial. Tetapi, orientasi dari semua itu adalah ketauhidan, mahabbah kepada Allah dan Rasulullah.

lihat versi videonya di chanel youtube kami : Asy-Syafaah TV

No comments:

Post a Comment