Raudlatul Ulum 1

Menatap Masa Depan, Menggenggam Ajaran Salaf

Breaking

Monday, 22 July 2019

PESAN AYAH SAAT MENJENGUK ANAKNYA DI PESANTREN

oleh: Gus Mad

Nak, Coba letakkan HP itu ! Matikan saja. Aku datang ke pesantren ini supaya kamu dapat melepaskan rasa rindu kepadaku. Akulah ayahmu, bukan justeru engkau "bermesraan" dengan barang itu.

Ayah berhak cemburu, sebab engkau adalah darah dagingku. Engkau lahir dari rahim ibumu, bukan terbuat dari elektronik itu.

Aku ini bukan konglomerat, tetapi tergolong kelas ekonomi melarat. Aku datang ke sini, menanggung segala resiko. Waktu bekerja kutanggalkan, hasil usaha berkurang demi dirimu, dan rela berkorban kehujanan atau kepanasan karena hanya motor yang kupunya. Ternyata engkau lebih peduli pada HP itu ketimbang menomorsatukan aku.

Nak, Engkau sanggup bersekolah, engkau bisa berpakaian layak dan engkau mampu melahap makanan hingga hari ini.
Lihatlah dibalik itu semua, ayah peras keringat banting tulang dan bahkan ayah bersusah payah mencari pinjaman, mengurangi makan dan tak jarang menjual barang kesayangan ibumu.
Untuk apa semua ini ? Agar engkau tidak terhina, supaya kebutuhanmu terpenuhi.

Ketika kau di pesantren, seakan begitu terhimpit urusan penting, ayah di suruh datang tepat waktu tanpa tawar lagi. Padahal tidak perlu kau perintah, pasti ayah menjenguk demi mengirim dan mengetahui kondisimu.
Tetapi nak, Sesampai di sini, kau lebih asyik dengan HP itu seakan-akan keberadaanku tak berarti.

Sejauh menyusuri jalan, besar harapan ayah dapat bercengkrama dan bersenda gurau denganmu. Ayah ingin mendengar celotehmu tentang dunia lain di luar lingkungan rumah kita. Apa saja cerita kehidupan sehari-hari bersama sahabat, kakak senior, dan para ustadz-ustadzmu.

Bahkan ayah sangat senang jika anak ayah menceritakan tentang pengalaman serta hasil belajarmu selama ini. Ayah suka saat kamu berkeluh-kesah, mengadu dan bertingkah manja di hadapan ayah.  Tersanjung rasa hatiku ketika butiran bening air mata menghias pipimu karena persoalan-persoalan yang melilitmu dengan detail kau ungkapkan lewat bibirmu.
Terasa sekali akulah ayahmu.

Tetapi sayang, kini kau sengaja mengganti posisi orang tuamu ini hanya dengan HP itu.
Senyum renyah, dan tawa kecilmu kau persembahkan pada sebatang alat itu.
Aku seakan hanya seorang satpam yang menjaga tuannya. Sungguh tegamu telah melewati rasa asih pada ayahmu...

Tatkala aku bertanya, kau hanya mengucapkan satu dua kalimat tanpa memperlihatkan perhatian. Bahkan seringkali kau merespon dengan anggukan. Nyata betul kau enggan menjawab kata-kata ayahmu ini.

Nak, sebegitu berharga barang itu bagimu hingga kehadiran ayahmu ini tak lagi bermakna.
Andai bukan karena rasa sayang sosok ayah pada anaknya, mungkin aku kembali ke rumah lebih awal dari waktunya.

Padahal begitu kau merasa kekurangan bekal, tanpa segan kau memaksa bagai prompak yang tengah menjarah. Seakan ayahmu tak boleh berkelit dengan secuil alasan.
Sebagai kepala rumah tangga, pasti ayah akan mengejar kemanapun rupiah ditemukan sekalipun harus menukar harga diri, sebagai bentuk tanggungjawab ayah.

Tak mengapa, bagi ayah garis hidup ini merupakan lika-liku yang harus dijalani. Pertemuan yang membelah jarak dan waktu antara dirimu dan ayah telah membasmi lelah.
Tetapi nak... Saat kita dekat, kau jauhkan dirimu dariku. Kau lebih memilih berselancar di dunia maya, bahkan kau memprioritaskan pertemanan.

Nak, di mana kau peroleh perilaku demikian ? Tidak mungkin guru-gurumu mengajarkan tentang ini semua.
Jika dalam sekian tahun yang kau habiskan hanya mampu memperlihatkan kelihaianmu bermain barang itu, berarti keberadaanmu di tempat ini tak ubahnya seperti anak-anak kampung kita. Mereka tak berpendidikan, namun mereka piawai menjalankan aplikasi HP-nya. Lalu buat apa kau memungut pundi-pundi dari ayah, bila eksistensimu hanya sebanding mereka ?
~
Semoga berkah
PESAN AYAH SAAT MENJENGUK ANAKNYA DI PESANTREN

No comments:

Post a Comment