Raudlatul Ulum 1

Menatap Masa Depan, Menggenggam Ajaran Salaf

Breaking

Tuesday, 16 July 2019

Kerasan Gak Kerasan Tetap Santri


oleh: Zainur Roziqin

            Pesantren merupakan salah satu lembaga berbasis agama yang keberadaannya cukup terkenal dikalangan masyarakat Indonesia, mulai dari petani, penyanyi sampai pejabat tinggi. Oleh karena itu banyak masyarakat yang antusias memondokkan anaknya di pesantren, meskipun sebagian orang tidak berpendapat demikian.
            Tak luput dari itu, pondok pesantren banyak menerima murid (santri) baru. Ada macam-macam alasan yang membuat mereka masuk pondok pesantren,ada yang karena keinginan sendiri, di suruh orang tua, punya permintaan yangharus dikabulkan, bahkan ada yang tidak mempunyai alasan sama sekali.
         ***
            Di  awal-awal masuk pesantren, ada hal-hal yang mengganggu santri yaitu rasa tidak kerasan, perasaan yang mengganggu santri itu sendiri, juga bahkan orangtuanya. Itu semua terjadi karena mereka kepikiran dengan masa-masa di rumahnya. Di saat temannya yang tidak mondok bisa bermain bebas, santri baru dituntut untuk disiplin tinggi, mengikuti peraturan-peraturan yang ada.
Kerasan Gak Kerasan Tetap Santri
Santri Baru PPRU I mengikuti kegiatan rutin pesantren

             “Nggak kerasan” juga didorong adanya santri lama yang suka usil, lebih-lebih santri baru yang masih berusia dini.  Perlakuan santri senior yang  berlebihan seperti, menggotong mereka sering sekali terjadi, disertai dengan ancaman agar mereka mau menuruti perintah seniornya.
            Bukan hanya itu  sebab santri baru “nggak kerasan”.  Air juga tergolong sebab paling berpengaruh, terutama untuk pondok yang daerahnya rawan musim kemarau semisal di Madura. Untuk minum saja santri masih harus ngantri. Coba bayangkan! Bagaimana perasaaan santri baru? Sumpek, gaes.Sumpah sumpek.
            Apalagi ditambah dengan kegiatan yang super-duper  padatnya, mulai dari subuh harus melek untuk salat berjemaah, dilanjutkan dengan ngaji Alquran dan kegiatan yang lainnya sampai jam 12 WIB, habis itu baru bisa tidur dengan pulas.
            Terus bagaimana solusi santri baru itu bisa kerasan? Yang menarik disini. Ada banyak hal yang biasa santri lama berikan kepada santri baru, contohnya:
santri baru harus sering-sering mengambil air minum, agar cepat kerasan
 (kok aneh ya, ngambil air bisa bikin kerasan?). Diyakini atau tidak, hal semacam ini ampuh membuat santri baru kerasan. Asalkan yakin.
            Tidak berhenti di situ, santri lama biasanya juga sengaja usil menyuruh santri baru melakukan pekerjaan aneh. Misalkan disuruh minum air kamar mandi (jeding:baca madura). Menurut sebagian orang di luar sana (bukan santri) minum air jeding bisa menyebabkan kerasan serta gratis tanpa harus mengurangi jatah kiriman. Aneh bukan?.
Pergi ziarah makam masyayikh juga menjadi solusi agar santri baru cepat kerasan, dengan cara bertawasul mulai dari membaca surat Yasin, tahlilan dan zikir-zikir thoyyibah lainya.
 Namun, seiring dengan berkembanganzaman yang begitu cepat, pondok pesantren kini bermacam bentuknya, ada yang bertahan dengan salafiyahnya dan ada juga yang berevolusi menjadi pesantren modern. Sehingga momen-momen santri yang saya uraikan sebelumnya juga sudah jarang sekali terjadi, terutama untuk pondok pesantren yang berbasis modern.
Kalau masih belum kerasan bagaimana? Oke, sebentar, gaes. Kerasan adalah hidayah dari Tuhan yang bisa kita peroleh dengan usaha, dan masih banyak usaha yang bisa dilakukan selain yang saya sebutkan di atas. Jadi hasil nggak pernah mengkhianati usaha, gaess.Yang penting dilakoni dulu.
                                                                        ***
Momentum ini (masa-masa berjuang untuk kerasan) akan menjadi kenangan manis yang akan selalu diingat para santri, serta menjadi bahan cerita ketika muncul santri baru lainnya.
            Maka:
jangan jadikan nggak kerasan itu cobaan, tapi jadikanlah sebuah mimpi buruk yang ketika terbangun akan hilang begitu saja

Bersabarlah duhai santribaru dan yakinlah Allah itu Mahamengetahui serta tidak pernah tidur.




No comments:

Post a Comment