Selasa, 20 Februari 2024

Kepemimpinan Moral Rasulullah dalam Perjanjian Hudaibiyah

PPRU 1 Hikmah | Artikel ini membahas tentang kepemimpinan moral Rasulullah Muhammad saw dalam menghadapi peristiwa Perjanjian Hudaibiyah. Peristiwa ini merupakan bagian dari sejarah kehidupan Rasulullah dan menunjukkan sikap beliau yang penuh dengan kedamaian, kebijaksanaan, dan ketaatan kepada perjanjian.

Latar Belakang Peristiwa Hudaibiyah

Rasulullah Muhammad saw memiliki rencana untuk melakukan ibadah haji ke Makkah, tetapi tanpa membawa senjata sebagai tanda damai. Meskipun sebagian pengikutnya merasa cemas mengingat konflik antara penduduk Madinah dan Makkah, Rasulullah tetap teguh dengan niatan baiknya.

Tidak Membawa Senjata

Rasulullah menolak membawa senjata dalam perjalanan haji, walaupun ada kekhawatiran dan ketakutan di antara para sahabat. Baginya, niat ibadah haji harus murni tanpa ada rencana untuk menaklukkan Makkah atau memulai ekspedisi militer.

Sikap Damai dan Rendah Hati

Perjalanan Rasulullah ke Makkah tanpa senjata sebagai tanda damai menunjukkan sikap damai dan rendah hati. Meskipun beberapa sahabat mungkin menentang keputusan ini, Rasulullah tetap teguh dan menunjukkan sikap rendah hati dalam menjalani perintah Allah.

Perlawanan dari Kaum Quraisy

Kaum Quraisy merespons perjalanan Rasulullah dengan mengutus pasukan untuk menghadang mereka. Khalid bin Walid dan pasukannya bersiap untuk menyerang kelompok tak bersenjata tersebut.

Tanda Damai dari Unta Qaswa

Saat tiba di Hudaibiyah, unta Qaswa yang dikendarai Rasulullah menolak untuk bergerak. Rasulullah mengartikan hal ini sebagai tanda untuk kembali tanpa berperang. Meskipun sahabat meneriaki unta agar bergerak, Rasulullah menegaskan bahwa perjalanan ini dilakukan dengan semangat damai.

Perundingan dan Perjanjian Hudaibiyah

Rasulullah menegaskan bahwa dalam perundingan dengan Quraisy, ia akan menyetujui apa pun yang diminta oleh mereka. Kesepakatan Hudaibiyah akhirnya tercapai, meskipun dinilai merugikan oleh beberapa sahabat. Rasulullah menunjukkan sikap rendah hati dan kesediaan untuk memenuhi permintaan Quraisy, sekaligus menjaga perdamaian.

Pemilihan Utsman bin Affan

Rasulullah mengutus Utsman bin Affan untuk melobi petinggi Quraisy agar memperbolehkan masuk Kota Haram. Meskipun upayanya bertepuk sebelah tangan dan tersebar kabar bahwa Utsman dibunuh, Rasulullah tetap teguh dan mengambil sumpah setia para pengikutnya.

Menghapus dan Mengganti Frasa

Selama perundingan, Suhail bin Amr mencoba mengubah beberapa frasa dalam perjanjian, seperti mengganti gelar "Muhammad Rasulullah" menjadi "Muhammad bin Abdullah." Rasulullah menunjukkan kesabaran dan kemudahan dalam menghadapi permintaan tersebut.

Keberangkatan ke Makkah Tahun Berikutnya

Perjanjian Hudaibiyah menyatakan bahwa Rasulullah dan sahabatnya tidak diizinkan masuk Makkah pada tahun tersebut, tetapi baru boleh pada tahun berikutnya. Saat tiba di Makkah tahun berikutnya, Rasulullah dan pengikutnya menjalankan ibadah dengan tenang tanpa menunjukkan sikap berlebihan.

Perjanjian Hudaibiyah menunjukkan kepemimpinan moral Rasulullah yang mencintai kedamaian, memegang teguh perjanjian, tidak mengingkari kesepakatan, dan sikap rendah hati dalam menghadapi segala rintangan. Artinya, Rasulullah memilih jalur damai demi kepentingan umat Islam. Keputusan dan sikap beliau dalam peristiwa ini memberikan pelajaran tentang pentingnya kesabaran, rendah hati, dan ketaatan kepada nilai-nilai Islam.

Previous Post
Next Post

Pondok Pesantren Raudlatul Ulum 1 adalah pesantren salaf yang didirikan oleh KH. Yahya Syabrowi, Menggenggam Ajaran Salaf, Menatap Masa Depan

0 comments: