Raudlatul Ulum 1

Menatap Masa Depan, Menggenggam Ajaran Salaf

Breaking

Friday, 5 March 2021

SEMUA AKAN INDAH PADA SAATNYA (cerpen)

 


SEMUA AKAN INDAH PADA SAATNYA

Oleh: Mukarromah

 

Menunaikan ibadah haji adalah keinginan setiap muslim, haji tidak hanya dilaksanakan oleh orang kaya saja, tapi haji juga dilakukan oleh manusia yang dulu masih berada di dalam tulang sulbi yang mejawab seruan nabi Ibrohim dengan kalimat talbiyah yang telah Allah catat bahwa ia akan mengerjakan haji sampai hari kiamat. sama halnya dengan pak Harits dan istrinya yang berharap termasuk orang yang ikut menjawab seruan nabi Ibrohim tersebut. Pak Harits juga mempunyai keinginan besar untuk menunaikan rukun islam yang kelima ini, yaitu haji. Pak Harits yang hanya seorang buruh bangunan terus beruhasa untuk mencapi keinginan besarnya tersebut. Hujan panas tidak membuatnya patah semangat bekerja, demi rupiah yang sedikit demi sedikit dikumpulinya.

Ketika pak Harits sedang duduk di ruang tamu bersama sang istri, pak Harits bercerita pada sang istri bahwa ia mempunyai keinginan untuk daftar haji. Sang istri tekejut “bapak mau haji?” Tanya sang istri. “ iya… bapak mempunyai niatan untuk daftarin ibu haji.” Sambil memandang lekat mata sang istri pak Harits menjawab. “ tapi… bapak dapet dari mana uang?” Tanya sang istri lagi. “bapak itu dari dulu ngumpulin uang sedikit demi sedikit bu… tapi bapak nggak kasi tau ibu, soalnya takut nggak jadi.” Ibu Mufida terharu dengan apa yang disampain suaminya tersebut. Ia tidak menyangka bahwa apa yang selama ini diimpikannya akan menjadi nyata. Sambil memegang tangan sang suami, sang istri mengucapakan banyak-banyak terima kasih pada suaminya itu.

Pagi itu, hendak berangkat kerja perasaan pak Harits tidak enak, ada sesuatu yang mengganjal dipikirannya. Tapi, ia selalu berhusnudzon dengan scenario tuhan “yang semua akan indah pada saatnya”. Seperti biasa pak Harits pamit pada anak-istrinya, merekapun menyalami pak Harits bergantian dan tak lupa pula sang istri membawakannya bekal untuk makan siang. Keberangkatan pak Harits menyisakan anak dan istrinya. Setelah usai mempersiapkan bekal sang suami, ibu Mufidah istri dari pak Harits ini sibuk untuk mengurusi anaknya yang hendak berangkat sekolah. Segala perlengkapan sudah dipersiapkannya sejak subuh tadi, tinggal menggunakannya dan mengantarnya ke sekolah. Usai mengantarkan, ibu Mufidah melanjutkan aktivitas rumahnya seperti menyapu, mencuci pakaian, mencuci piring dan lain sebagainya. Ketika ibu Mufidah menata piring yang sudah dicucinya ke rak piring, cetaaaaaarrrrr…..!!! tiba-tiba piring yang dipegangnya terjatuh kelantai. Seketika itu perasaan ibu Mufidah berubah menjadi tidak enak, teringat pak Harits yang sedang kerja. Ibu Mufida berusaha menetralisirkan keadaan hatinya yang sedang gundah. Namun nihil, rasa berkecamuk di dalam hatinya terus menghantuinya.

Di ruang tv sana, ibu Mufida mendengar telvonnya sedang berdering, langkah kakinya pun tertuju pada sumber suara tersebut. Terlihatnya ”annisa” nama kontak sepupu dari suaminya, dengan segera ia mengusap layar yang berwarna hijau sebagai tanda jawab panggilan.

“assalamualaikum mbak…” ibu Mufida memulai obrolannya.

“waalaikumsalam bu…” jawabnya dari sebrang.

“Ada apa ya, kok nggak biasanya telvon?”  Tanya bu Fida penasaran.

“emm… anu bu… sebelumnya saya minta maaf… suami ibu….” Gantung Nisa’ pada bu Fida.

“ada apa dengan suami saya mbak?” Bu Fida semakin penasaran dengan apa yang terjadi pada suaminya.

“ suami ibu tadi kecelakaan ketika kerja. Mata bagian kirinya terkena peltasan besi. Sekarang suami ibu berada di RS Sudarso. Ibu yang sabar ya.” Begitulah ungkap mbak nisa perihal keadaan suami bu fida.

Seketika itu tenggorokan bu Fida terasa tercekat bibirnya mengatup rapat, serta peluk matanya berair. Bu Fida segera menghubungi sanak keluarga terdekatnya untuk mengantarkannya ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan bu Fida tiada henti-hentinya menangis. Kendaraan yang ditumpanginya terasa sangat lambat, bu fida ingin lekas sampai di rumah sakit, bu fida serasa ingin menyuruh sang supir untuk mempercepat kendaraannya.

Sesampainya di rumah sakit, di ruang tunggu sudah banyak sanak saudara dan rekan kerja pak Harits yang lebih dulu hadir dibanding bu Fida. bu fida langsung menemui suaminya yang tengah terbaring lemah di kasur biru itu. Pak Harits sudah menerima perawatan dari dokter. Dan pak Harits pun terlihat sedang istirahat. Bu fida tidak kuat melihat keadaan sang suaminya tersebut, ia hanya bisa minta yang terbaik pada Allah dan ikhtiar.

Kesokan harinya, pak harits menjalani operasi matanya yang cukup parah. Di luar bu Fida beserta para keluarga yang lain menanti cemas usainya operasai. Operasi berlangsung sekitar satu jam, dokterpun satu demi persatu keluar dari ruang operasi dan memberi kabar bahwa sanya operasinya berjalan dengan lancar. “alhamdulillaaaahh…” dengan serentak bu Fida dan keluarga yang lain menjawbnya.

Pasien bernama Harits prasmaya itu dipindah ke ruang inap biasa. Tiga hari op name akhirnya pak Harits diperbolehkan dibawa pulang. Masalah biaya semua ditanggung oleh pemilik proyek kerja itu. Jadi Pak Harits beserta istrinya tidak perlu mengeluarkan biaya.

Beberapa bulan kemudian…pak Harits memulai aktifitasnya kembali sebagai buruh bangunan demi mencapai sesuatu yang diinginkannya tersebut.

Hari terus berlalu. Pak Harits merasa matanya kurang begitu sembuh total, dan ia pun mempunyai keinginan untuk memeriksakannya pada dokter yang benar-benar spesialis. Tanpa berpikir panjang, pak Harits memantapkan keinginannya tersebut. Ia bertekat untuk periksa ke Negara tetangganya yaitu, Malaysia. Segala perlengkapan telah dipersiapkan.seperti paspor dan lain sebagainya. Sebenarnya keluarga pak Harits ini bukanlah orang yang begitu kaya, tapi demi kesehatannya ia bersih keras memberanikan diri untuk periksa keluar negri. Masalah biaya kali ini pak Harits harus membayarnya sendiri. Untuk sementara waktu ia menggunakan uang yang ditabungnya untuk daftar haji. Pak Harits merasa tidak enak pada sang istri karena harus menggunakan uangnya untuk sementara waktu. Dengan hati ia memberi tahu istrinya. “ bu… sebelunya bapak minta maaf,” “minta maaf buat apa pak?” sang istri langsung menjawabnya. “masalah daftar yang pernah kita bicarakan….” Pak Harits masih menggantung kalimatnya. “kanapa dengan itu?” Tanya istrinya. “uangnya untuk sementara waktu bapak gunakan dulu buat berobat, boleh?” dengan perasaan tidak enak pak Harist mengungkapknnya. “aduuu,,,. Ya tentu bolehlah pak, kan itu juga buat kebaikan bapak. Gitu aja bapak masih minta maaf” ucap sang istri tanpa beban. “bapak hanya nggak enak aja sama ibu”. “ kalau toh haji takdir kita, kita pasti akan melaksanakannya bagaimanapun caranya itu” “terima kasih bu atas pengertiannya” ucap suami dengan rasa bersalah.

Ketika persiapan sudah lengkap, akhirnya pak Harits bersama dua kerabatnya berangkat ke Malaysia menggunakan pesawat “Lion Air”jurusan Jakarta-kucing. Disana pak Harits tak lam hanya tiga hari pulang-perginya.

Kembalinya ke tanah air, pak Harits memulai aktivitasnya kembali, ia berusaha untuk menutupi dana haji yang telah digunakannya tersebut. Benar dengan takdir tuhan yang “semua akan indah pada waktunya”. Setelah lama pak Harits menabung uang untuk menutupi dana haji yang telah digunaknnya, akhirnya ia dapat menutupinya kembali, walau ia harus berulang kali kontrol ke dokter spesialisnya. Sekarang mata pak Harits sudah membaik dan ia pun memantapkan niatnya untuk mendaftarkan diri dan istrinya haji, hanya menunggu waktu untuk menemui ka’bah-Nya. Bersabarlah dengan semua alur cerita-Nya. ”Semua akan indah pada saatnya.

No comments:

Post a Comment