Minggu, 23 September 2018

Menyihir Sampah Menjadi Rupiah di Pesantren - KH. Madarik Yahya

Menyihir Sampah Menjadi Rupiah di Pesantren
Menyihir Sampah Menjadi Rupiah di Pesantren
Oleh: Gus Muhammad Madarik*

PENDAHULUAN

Seperti kebanyakan pesantren-pesantren lain, keberadaan sampah di PP Raudlatul Ulum I Ganjaran Gondanglegi Malang juga masih menjadi problematika bidang kebersihan.

Padahal jika difikirkan secara bersama, maka sampah merupakan salah satu potensi pemberdayaan. Sehingga serakan barang sisa-sisa itu bukanlah suatu momok yang menjijikkan, namun bakal menjelma sebagai lumbung dana yang menguntungkan.

Menggali nilai harta dibalik sesuatu yang dianggap tak berguna itulah yang kini akan coba dikupas penulis dalam kolom singkat berikut ini.

TINJAUAN AGAMA

Dari sisi ajaran agama, Islam sangat mempardulikan kebersihan. Sebagai agama suci dalam segala dimensinya, Islam senantiasa memperingatkan umatnya agar menaruh perhatian khusus terhadap masalah kebersihan. Salah satu anjuran Allah SWT:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

"Sungguh, Allah menyukai orang yang bertobat dan menyenangi orang yang menyucikan diri." [QS. 02:222]

Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman:
وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ

"Dan bersihkanlah pakaianmu, dan tinggalkanlah segala (perbuatan) keji." [QS. 07:04-05]

Ada ungkapan Arab yang di klaim sebagai hadits oleh sebagian kalangan, tetapi dianggap hanya merupakan pribahasa oleh sementara pihak yang lain, yaitu:
اَلنَّظَافَةٌ مِنَ اﻻِيْمَانِ٠
Artinya:"Kebersihan itu sebagian dari iman."

Namun dalam sumber lain, Nabi bersabda:
الطُّهُورُشَطْرُالْإِيمَانِ
Artinya: "Kesucian adalah sebagian dari iman." [HR. Muslim]

Di luar keabsahan manakah hadits-hadits tersebut, hal yang pasti sabda Rasulullah itu makin memperkuat eksistensi Islam sebagai agama suci.

Hal ini dapat ditilik dari bukti kosa kata dan sekaligus implementasinya menggunakan istilah dan praktik yang lebih luas. Sebab secara bahasa, "kesucian" (الطًُهْر) dalam istilah fiqh memuat makna terjaga dari najis dan hadas, sedangkan "kebersihan" (النَّظَافَة) cenderung  diartikan terhindar dari kotoran belaka.

FENOMENA DAN MASALAH NASIONAL

Total penanganan sampah di Kota Malang saja sekitar 639 ton per-hari atau mencapai 96% dari volume (produksi) domestik (rumah tangga) maupun industri yang mencapai 664,2 ton per-hari.

Maka tidak heran apabila sampah dinilai sebagai persoalan publik. Bahkan pemerintah pusat mengkampanyekan penanganan sampah secara nasional, baik melalui program-programnya maupun pemanfaatan dan pengelolaan tempat pembuangan akhir (TPA).

Wajar saja apabila pemerintah menjadikan persoalan sampah sebagai problematika sosial berskala nasional. Sebab, para ahli lingkungan menyimpulkan setidaknya ada 10 dampak negatif yang dimunculkan dari sampah, yaitu:
  1. Pencemaran dalam kehidupan.
  2. Penyebab penyakit.
  3. Penyumbatan saluran air dan banjir.
  4. Menurunkan estetika lingkungan.
  5. Kerumitan baru dari sistem kelola kebersihan.
  6. Menambah siklus beban masyarakat yang tak kunjung usai.
  7. Terganggunya kesehatan dan kenyamanan masyarakat.
  8. Persoalan sampah tidak fleksibel, jika menumpuk menambah masalah baru.
  9. Memperkeruh persoalan lalu lintas.
  10. Berdampak terhadap keadaan sosial dan ekonomi masyarakat.

HAL IHWAL SAMPAH DI PPRU I

Menyihir Sampah Menjadi Rupiah di Pesantren
Terlihat seorang santri membuang sampah di tong sampah yang sudah penuh
Pertanyaan yang perlu dikemukakan ialah bagaimana persoalan sampah di lingkungan pesantren kita?
Jawaban itulah yang seyogyanya menjadi bahan renungan semua kalangan di pesantren yang didirikan KH. Yahya Syabrawi ini. Bukan saja karena sampah dianggap sebagai persoalan bersama, tetapi ketika hal semacam itu ditindaklanjuti dengan solusi yang tepat akan membuahkan kreasi sekaligus materi.

Beranjak dari wacana tersebut, maka pertama-tama yang harus dihimpun adalah identifikasi masalah yang menyelimuti PP Raudlatul Ulum I:

1. Serakan Sampah

Adanya sampah memang sebuah fakta di setiap tempat, tetapi kenyataan menunjukkan bahwa sampah di lingkungan pesantren kita masih menjadi bagian persoalan yang belum tuntas hingga kini.

2. Minim Lahan dan Kering Budaya

Sebenarnya ragam persoalan sampah di lingkungan pesantren kita bersumber dari lokasi yang kurang memadai. Sebagaimana kita tahu bahwa luas area sudah tidak mencukupi jika dilakukan pengembangan bangunan, kecuali menjalar ke atas.

Oleh sebab itu, fasilitas-fasilitas pendukung, termasuk bidang kebersihan, sudah tak menemukan tempat lagi. Hal ini dapat dicermati dari gerobak sampah (di lokasi pesantren putri) berada jalan strategis para santri.

Menyihir Sampah Menjadi Rupiah di Pesantren
Potret Sampah di Jalan Lalu Lintas Keseharian Santri Putri PPRU 1
Kondisi demikian ini masih diperburuk oleh tingkat kesadaran semua pihak terhadap aspek kebersihan yang terbilang masih rendah. Walaupun dunia pesantren kaya dengan khazanah keilmuan, namun secara praktis dalam hal budaya kebersihan, para santri (termasuk di PP Raudlatul Ulum I) belum seindah doktrin-doktrin dalam referensinya.

3. Butuh Komitmen

Dari sekian ulasan di atas, apabila lontaran wacana ini ingin benar-benar diwujudkan dalam bentuk gerakan, maka hal pertama yang harus dikedepankan adalah komitmen semua pihak.

Tekad bersama merupakan tumpuan lahirnya kebersihan di pesantren kita. Kita tidak menemukan almamater ini menjadi asri, jika kemauan menuju ke arah itu tidak serempak.

Kaitan dengan komitmen bersama, hal penting yang perlu di bangun adalah membangkitkan kesadaran santri agar menjadi manusia berbudaya bersih. Sehingga kepedulian santri terhadap pengelolaan lingkungan berjalan selaras dengan peran mereka memberdayakan ketempilan untuk memperoleh keuntungan (profit oriented). 

4. Pesantren Hijau

Kebersihan lingkungan pesantren kita pasti menjadi impian semua pihak, tetapi mewujudkan asa tersebut memerlukan banyak tahapan. Tingkat awal yang harus dinomor-wahidkan ialah komitmen bersama untuk peduli terhadap lingkungan.

Apabila tahapan demi tahapan telah ada, maka pesantren kita bukan hanya tampil sebagai lembaga yang hijau dan bersih (green and clean), bahkan besar kemungkinan akan menjadi lumbung santri kreatif mendaur ulang barang-barang yang cenderung tak dinilai.

PENUTUP

Menyihir Sampah Menjadi Rupiah di Pesantren
Aktivitas piket santri merupakan salah satu usaha menangani sampah tak bertuan.
Sampah dengan segala problematikanya merupakan persoalan tersendiri di pesantren Raudlatul Ulum I, tetapi pemberdayaan santri menjadi bagian dari solusi. 

Apabila harapan pada titik itu disertai komitmen semua pihak, maka terciptanya semisal "tas", "dompet", "pot bunga" dari barang rongsokan bukan hal tidak mungkin. Dan pada akhirnya, kita bakal menyaksikan pesantren kita ini  mampu menyulap barang hina menjadi dana.

Semoga berkah.

*Penulis: Ketua Yayasan Kiai Yahya Syabrawi PP RaudlatuUlum I Ganjaran Gondanglegi Malang.
Previous Post
Next Post

Pondok Pesantren Raudlatul Ulum 1 adalah pesantren salaf yang didirikan oleh KH. Yahya Syabrowi, Menggenggam Ajaran Salaf, Menatap Masa Depan

0 comments: