Senin, 26 Agustus 2019

Pidato Kemerdekaan; Hubbul Waton Ala Santri Atas Dasar Mahabbah (Gus Athok)

(Berikut adalah amanah dalam upacara 17 Agustus 2019 di PP. Raudlatul Ulum I, yang disampaikan oleh Gus Athok Lukman selaku Pembina dalam Upacara tersebut).

Saya teringat salah seorang Indosianis dari Amerika, tahun 60-an dia berbicara tentang nasionalisme di Indonesia. Salah-satunya kesimpulan dari hasil risetnya tentang kebangsaan di Indonesia adalah bahwa Nasionalisme di Indonesia, Kebangsaan di Indonesia, sumbangsih terbesar disumbang oleh umat Islam. Kontribusi pembangunan dalam Nasionalisme di Indonesia, itu diberikan oleh umat Islam.
Pidato Kemerdekaan; Hubbul Waton Ala Santri Atas Dasar Mahabbah (Gus Athok)


Kalau kemudian pertanyaan ini dilanjutkan, umat Islam yang mana yang memberikan kontribusi besar di dalam Nasionalisme atau Kebangsaan, Cinta Tanah Air di Indonesia? Maka, saya dapat memastikan bahwa Muslim terbesar (dalam memberikan kontribusi besar di dalam Nasionalisme di Indonesia) adalah Muslim yang punya afiliasi terhadap Pesantren. Jadi, Kalian (para santri) adalah turunan-turunan secara genealogis pengetahuan yang memberikan kontribusi besar terhadap kebangsaan di Indonesia ini. Sehingga sangat wajar, dan ini harus disadari oleh semua santri, bahwa Indonesia berdiri, saham terbesarnya adalah dari kalangan Muslim, khususnya adalah kaum pesantren. 

Dalam konteks ini, maka ketika kemerdekaan sudah diraih, Bung Karno mengatakan  “ kemerdekaan adalah jembatan emas untuk pencapaian keadilan sosial, kemerdekaan adalah jembatan emas bagi pencapaian cita-cita kebangsaan”. Bagi kaum santri, Cinta Tanah Air, Kemerdekaan dan pemaknaan terhadap kemerdekaan itu tidak boleh dilepaskan dari cinta Allah, cinta kepada Rasulullah. Sehingga Hubbul waton-nya santri atau kontribusi santri terhadap pengisian kemerdekaan ini adalah ekspresi terhadap cinta Allah dan Rasulnya. Sehingga, Nasionalisme ala santri itu bukan nasionalisme ala chauvanistik ala Eropa, yang kemudian membenarkan rasnya sendiri atau golongannya sendiri, tapi nasionalisme yang berakar kuat terhadap kebatinan kita sebagai hamba Allah, yang kemudian harus menterjemahkan ke dalam realitas kehidupan sosial untuk kebaikan rahmatan lil alamain.

 Jadi,  hubbul waton atau cinta  tanah air harus berangkat dari kecintaan kita kepada Allah dan Rasul. Kalau kita ambil sampel tentang bagaimana Rasullah menyatukan umat di  Madinah. Pada waktu itu Islam hanya sepertiga dari komunitas Madinah. Kemudian disatukan oleh Rasulullah dengan Piagam Madinah. Dengan Piagam Madinah itu, kemudian proses sosial yang terjadi adalah untuk kebaikan bersama. 

Nah, dengan ini, kalau kita melihat Pancasila di Indonesia, sebenarnya memiliki kesamaan dengan Piagam Madinah. Sehingga, bagi santri sudah tidak ada namanya NKRI bersyariah. Sudah tidak ada pertanyaan apakah Indonesia ini Thagut atau bukan? perlu khilafah atau bukan? Tidak. Indonesia sudah final. Dengan Pancasila tahun 45 yang dirumuskan oleh BPUPKI dan lain sebagainya, sudah menjelaskan bahwa Bangsa Indonesia atau Negara Indonesia tidak bertentangan dengan agama Islam. 

Dengan ini, santri tidak mencita-citakan Negara Syariah atau Khilafah di Indonesia. Karena bentuk final hari ini adalah pencapaian, tidak hanya pencapaian pengetahuan tapi juga pencapaian spiritual yang direpresentasikan oleh semisal Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Wahid Hasyim dan sebagainya, yang notabene itu adalah kiai-kiai kita. Intinya, satu, jangan terlena dengan bujukan-bujukan untuk menciptakan khilafah di Indonesia. Bohong. Bohong semua (bujukan) itu. 

Jangan terlena dengan bujukan menciptakan NKRI bersyariah, itu kamuflase.
 Seakan-akan yang diciptakan, didirikan, dirembuk oleh Kiai Hasyim Asy’ari, yang dirembuk oleh Kiai Wahid Hasyim, itu belum bersyariah.
Tidak! Sudah! Tanpa embel-embel resmi bersyariah, Indonesia ini, secara nilai,  tidak bertentangan dengan Agama Islam. Dan ini penting untuk diketahui oleh para santri. 

Sehingga nanti ketika kalian sudah kembali ke masyarakat dan berkontribusi terhadap pembangunan kemerdekaan ini, maka yang tidak boleh hilang adalah kecintaan kepada Allah dan Rasulnya. Dan kemudian ekspresi bagaiamana kalian berkontribusi terhadap masyarakat adalah sesuai dengan peran masing-masing. Anda Boleh berperan sebagaia apapun, apapun secara sosial. Tetapi, orientasi dari semua itu adalah ketauhidan, mahabbah kepada Allah dan Rasulullah.

lihat versi videonya di chanel youtube kami : Asy-Syafaah TV

Minggu, 25 Agustus 2019

KURANGNYA KESADARAN KEBERSIHAN


oleh: M. Choirul Anam

Pondok pesantren adalah tempat persinggahan bagi kalangan santri untuk minimba ilmu. Berbagai ilmu yang dipelajari di pondok pesantren itu beraneka ragam, seperti Nahwu, Fikih, Sarraf, dan lain-lain.

Selain itu, di pondok pesantren juga diajarkan kepada para santrinya untuk menjaga kebersihan. Salah satunya adalah dengan cara diadakanya jadwal piket setiap harinya, karena kebersihan merupakan bagian penting untuk kesehatan dan kebersihan adalah sebagai pelengkap keimanan.

Kenyataan yang terjadi di pondok pesantren kita, anak-anak itu sering meremehkan pentingnya kebersihan. Buktinya masih banyak sampah berserakan yang sering diabaikan walaupun itu sepuntung rokok.

KURANGNYA KESADARAN KEBERSIHAN
Pengurus pun bingung bagaimana cara menghadapi hal tersebut. Segala upaya telah dikerahkan tetapi tetap saja kekotoran merajarela di setiap tempat.

Kamar mandi yang seharusnya bersih tetapi pada kenyataanya kotor. Aliran air pembuangan sering kali tersumbat akibat teman-teman santri yang membuang sampah sembarangan, padahal sudah ada tempat sampahnya tapi tetap saja teman teman teman santri itu membuang sembarangan. Hal ini bisa membuat nyamuk-nyamuk berkembang biak dan jika telah berkembang biak nyamuk-nyamuk tersebut bisa menggigit dan menyebabkab penyakit.

Apalagi tempat pembuangan sampah yang berada di selatan kompleks pesantren, dulu sebelum dipindah ke utaranya SMK. Sampah yang seharusnya dinaikkan ke bak sampah tidak dilakukan dengan benar oleh teman-teman. Sampah yang seharusnya berada di bak truk tapi malah berceceran di bawah.

Hal yang sangat mengherankan adalah teman teman itu membuang sisa makanan ke pot bunga dan membuat bunga-bunga itu menjadi layu terus mati. Bukan itu saja, sisa makan yang dibuang ke pot tersebut lama-kelamaan akan dikerumuni ulat.

Hari Jumat pagi adalah hari kerja bakti santri. Kebanyakan santri itu bukan mengambil sapu atau alat bersih-bersih lainya, akan tetapi yang diambil adalah selimut dan bantal.

Jadi kita itu harus sadar dan jangan menunggu disuruh baru kita melakukan. Kita harus membersihkan tempat-tempat yang kotor tanpa disuruh oleh siapapun dan kita harus sadar bahwa hidup sehat itu amatlah penting.

Rabu, 14 Agustus 2019

Sedekah Mengubah Segalanya



Oleh: Efendi

Sedekah, mungkin kata ini sudah tidak asing lagi di telinga kita. Pasti semua orang pernah melakukan hal semacam ini meskipun tidak kita sadari.

Sedekah merupakan hal positif yang berada di sekitar kita. Dari kegiatan ini kita bisa membantu sesama. Tapi dari semua itu, ada juga sisi negatif dari sedekah yang marak dan sudah terjadi di sekitar  kita. Salah satunya kemalasan.

Banyak orang jadi malas bekerja. Mereka hanya mengandalkan belas kasihan dari orang-orang yang nota-bene berduit tapi murah hati. Banyak oknum tidak bertanggung jawab yang menyelewengkan kesempatan ini. 

Perlu diketahui,  sejatinya mereka itu orang orang  yang bisa dianggap mampu. Tapi karena dorongan nafsu, mengingat hasil dari seperti halnya mengemis itu lumayan besar, maka mereka pun tergoda.

Kalau kita ingat-ingat lagi tentang tradisi yang marak dan berkembang di tanah tercinta ini, Indonesia sangat lekat dengan kemistisannya. Di tanah ini pula pernah berdiri banyak kerajaan Islam. Banyak umat Islam di tanah Jawa ini yang mempunyai ibadah atau rutinan yang tidak dimiliki oleh bangsa atau negara lain.

Kebiasaan ini, yang tersebar luas seiring dengan perkembangan Islam dan persebaran orang-orang Islam di Jawa, adalah seperti tahlilan, salawatan (muludan) dan  kegiatan lain yang bernafaskan Islam. Kegiatan ini tak lepas dari makanan dan minuman yang dihidangkan (disedekahkan) kepada sanak atau saudara yang diundang. 

Peran penting dari sedekah atau hidangan ini, pertama, adalah untuk disedekahkan pahalanya kepada orang (keluarga) yang sudah meninggal, syukuran, menunjukkan rasa bahagia yang disalurkan kepada saudara-saudara atau pada tetangga.

Sedekah Mengubah Segalanya
Aneka macam berita tentang sedekah pun akan terus berlanjut seiring dengan berkembangnya zaman. Pada era milenial ini, yang ditandai dengan berkembangnya teknologi, tentu banyak berita yang sudah tersebar luas tentang mega-sedekah yang dilakukan saudagar-saudagar kaya seperti Bill Gates dan istrinya yang membangun sebuah gedung di Afrika. Gedung ini dibangun untuk menyebarkan bantuan yang berasal dari kedua orang ini. Berikutnya adalah Mark Zuckerberg yang telah membantu dengan melunasi hutang Afrika kepada Jepang.

Sebagai makhluk yang berakal, seharusnya kita tidak berpikiran sempit mengartikan masalah sedekah. Sedekah itu banyak sekali macamnya, seperti zakat, infak, hibah dan lain sebagainya.

Kita dapat pula memerinci artinya dari hal-hal di atas, seperti sedekah adalah sesuatu yang dikeluarkan baik berupa benda fisik maupun non fisik. Zakat merupakan materi yang berupa harta yang wajib dikeluarkan dan penerimanya pun harus orang-orang tertentu dan tidak sembarang orang menerimanya. Adapun pengertian dari infak adalah sesuatu yang dikeluarkan dengan penerima siapa saja.

Perlu diketahui memang dampak dari sedekah itu lumayan besar. Banyak bangsa yang hidup dari sedekah itu sendiri, sepeti negara Palestina. Negara ini dari dulu sampai sekarang tidak habis-habisnya dijajah sehingga tidak mengherankan kalau banyak orang yang tidak bisa bekerja. Mereka hanya bisa pasrah untuk urusan masalah perut. Jangankan untuk makan, bernafas saja mereka kesulitan. Sehingga, banyak negara yang berbondong-bondong untuk meluncurkan bantuan ke wilayah Palestina, khususnya jalur Gaza. Salah satunya adalah Indonesia.

Kalau dilihat dari jumlah warganya, tak heran jika Indonesia bisa menghidupi warga atau masyarakat di negara lain. Dengan kalkulasi atau perhitungan,  apabila warga Indonesia sendiri menyumbang per orang 1000 rupiah, yang uang ini mungkin menurut kita kecil, jika dikalikan dengan penduduk Indonesia  yang berjumlah  -+370 jutaan, maka negara kita bisa menghidupi Negara-negara yang butuh bantuan atau kekurangan.

Jumat, 09 Agustus 2019

CERITA MISTIS DARI LUMAJANG

oleh: Andrik

Semeru, siapa sih yang tak tahu paku bumi satu ini? Iya benar. Gunung Semeru adalah gunung terbesar di pulau Jawa. Banyak keindahan tercitra di dalamnya. Mulai dari puncak Mahameru yang dikenal dengan B29, Telaga Ranu Kumbolo,  hingga panorama air terjun Coban Sewu dan lainnya.

Namun tidak semua orang tahu, di balik keindahan yang tertera ternyata banyak hal mistis yang belum terpecahkan. Sedangkan, sampai sekarang kepercayaan animisme (roh nenek moyang) dan dinamisme (kesaktian) menjadi acuan masyarakat dalam memutuskan keadaan.

Salah satu dari misteri-misteri itu adalah Alas Semeru. Hutan lebat yang digunakan untuk mencari kayu bakar atau berburu itu ternyata memendam banyak hal mistis.

Dulu ada pendaki dari Jerman berjumlah empat orang, mereka melakukan penelitian, tapi sayangnya mereka tewas tanpa diketahui penyebabnya. Konon, penduduk setempat percaya bahwa penyebabnya mereka tidak pamit pada penunggu Alas Semeru.
CERITA MISTIS DARI LUMAJANG

Padahal secara logis keadaan udara sekitar gunung itu sudah menipis, bisa saja mereka mati karena kehabisan oksigen. Meskipun demikian, tetap saja orang-orang asing ini menjelajahi hutan Semeru. Padahal banyak bahaya lainnya seperti hewan buas, lumpur hidup dan masih banyak lainnya.

Sekitar tahun 1995, ditemukan seorang turis yang hampir mati saat mendaki. Turis ini ditemukan oleh seorang warga desa kaki gunung semeru (Supiturang) yang sedang mencari kayu bakar. Ternyata turis itu tidak sendiri, sembilan temannya tewas terjebak di lumpur hidup.

Sebenarnya dia hampir mati karena kehabisan asupan. Untung saja ada warga yang menemukannya. Kalau tidak, mungkin dia sudah mati.

Bicara tentang penunggu, Alas Semeru terkenal dengan sosok manusia istimewa. Namanya adalah Mbah Seddek. Beliau adalah penjaga alas dan gunung.

Nama aslinya Abu Bakar Assiddik, dipanggil Mbah Seddek karena kebiasan orang Jawa yang sering mengubah nama. Hal ini wajar, karena orang jawa dulu tidak fasih mengucapkan kata dari bahasa Arab.

Banyak keanehan yang ada pada sosok Mbah Seddek, salah satunya adalah ketika beliau meninggal, makamnya tidak ada yang tahu sampai sekarang. Konon, ketika ada manusia yang berhati bersih, dia dapat melihat dan berziarah di makam tersebut.

Lebih anehnya, ada sebagian orang yang ditemui Mbah Seddek. Cerita yang beredar, katanya kalau Mbah Seddek bertamu, maka beliau menguji masyarakat setempat, sudi berbuat baik atau tidak. Ketika mayoritas masyarakat mencerminkan perilaku yang tidak baik, maka desa itu akan terkena bala’.

Salah satu contohnya adalah desa Sumbersari. Desa ini terkenal dengan masyarakatnya yang kaya raya. Oleh karena itu, desa ini dinamakan demikian.”Sumber” artinya  sumber sedangkan ‘’Sari’’ artinya harta, kalau digabung artinya sumber mencari harta. Itulah persepsi masyarakat. Memang dalam kurun waktu yang singkat desa itu menjadi desa biasa.

Selain itu, di Alas Semeru ada juga misteri Genderuwo. Mahluk gaib yang memiliki    badan besar, berwarna hitam, bertaring dan bertanduk itu diinformasikan sering mengganggu masyarakat.

Contohnya, ada seorang pemburu tiba-tiba menghilang. Dicari-cari seharian tak kunjung ditemukan. Akhirnya, pagi itu dia ditemukan berada di 400 meter dari lokasi. Mereka menganggap bahwa orang tadi terkena halusinasi. Cara mengatasinya adalah  membalik baju yang sedang dipakai. Serem, aneh, lucu. Tapi, percaya tidak percaya, itulah kenyataannya.

Hal mistis lainnya adalah Santet. Berbicara daerah Lumajang memang tak luput dengan cerita Santet.

Para pemilik ilmu Santet selalu cari gara-gara pada orang lain. Tujuannya, agar mendapat korban. Kalau sudah terjadi pertikaian, baru santet dimainkan.

Ilmu santet adalah ilmu hitam yang harus dijauhi. Tetapi, kita harus mempelajarinya agar dapat menghindar. Dan masyarakat setempat harus kompak dalam menangani dan menghakimi orang itu. Dengan demikian, masalah-masalah sepele ini bisa selesai.

Seperti yang terjadi di desa ringin. Ada perempuan pemilik santet yang sering buat ulah. Meskipun mayoritas masyarakat sudah tahu, tapi mereka tak berani menghakimi karena tidak punya bukti jelas. Ahirnya mereka berembuk. Hasilnya mereka berhasil menjebak terdakwa dan menghukum sesuai prosedur.

Jangankan orang bejat, kiai saja ada yang melakukan hal buruk itu. Di daerah Jember ada kejadiannya. Seorang pengasuh pondok pesantren berinisial A disantet oleh sesama kiai berinisial B. Masalahnya sepele, karena si B iri pada jumlah santri si A, sehingga si B tega menyantet si A. Hanya saja yang digunakan bukan ilmu hitam, melainkan ilmu putih. Tapi tetap saja yang ditinjau adalah digunakan sebagai apa? Jika buruk, maka ditetapkan sebagai ilmu negatif.

Kepercayaan-kepercayaan yang masih mistis di atas memang sudah umum di masyarakat. Namun, perlu dimengerti dan dipahami bahwa pengetahuan, kepercayaan animisme, mitos, mistik, maupun yang berbau religius itu, tidak keseluruhan benar, tapi memang ada beberapa poin yang dapat dibenarkan dan bisa dibuktikan.

Untuk menangani kesalahan-kesalahan  diperlukan pengetahuan lebih mendalam. Seharusnya, tokoh agama dan juga para pakar membantu dalam penyuluhan pengetahuan, khususnya bagi orang-orang awam. Dengan  demikian , semua akan terkondisi dengan rapi dan dapat menghadirkan dampak negatif bagi masyarakat setempat.

Rabu, 07 Agustus 2019

Beda Jalan Satu Tujuan


Oleh: A. Imam Fathoni


Akhir-akhir ini kita sering mendengar berita tentang pengeboman di beberapa daerah, baik di luar maupun di dalam negeri.Seperti yang terjadi di Surabaya beberapa saat yang lalu, seorang wanita berjubah hitam bersama anaknya lari ke arah gereja dengan tujuan ingin meledakkan diri di dalam gereja. Akan tetapi wanita itu dapat dicegah oleh satpam penjaga gerbang.

Di Jawa Tengah, entah di mana tepatnya, seseorang ditangkap karena menjadi terduga teroris. Dengan barang bukti berupa bahan-bahan kimia yang diduga digunakan untuk meracik bom, orang tersebut pun digerebek petugas. Bahkan di beberapa kasus lain, sang terduga teroris ada yang sempat melawan, hingga ada yang sampai ditembak mati. Mereka (terduga teroris) melakukan aksi-aksi tersebut tidak secara individual, tapi pergerakan mereka itu sudah terorganisir.

Menurut kesaksian para tetangganya, sang terduga teroris merupakan orang yang sangat taat beribadah, seorang yang baik pada tetangga. Tidak ditemukan sifat kriminal pada mereka, meski ada dari sebagian dari sang terduga merupakan sosok yang anti sosial (tertutup). Kebanyakan dari mereka adalah pendatang, yang terkadang mereka enggan menjawab dari mana mereka berasal. Kemungkinan alasan mereka berpindah adalah untuk lebih dekat dengan target atau menghindar dari sisiran aparat.

Menurut hasil identifikasi, mereka (sang terduga) adalah seorang Muslim, yang rata-rata adalah alumni pesantren. Maka banyak orang yang sudah sangat kesal dengan aksi mereka menyatakan bahwa pesantren adalah “sarang teroris’’. Kata-kata yang sangat menyakitkan bagi masyarakat Muslim, khususnya yang ada di lingkungan pesantren seperti santri dan kiainya, bahkan alumni.

Pada kenyataanya pondok pesantren bukanlah tempat pelatihan para teroris atau militer. Lah wong pemilik pesantren itu hanya kiai sepuh yang mungkin jika diberi senjata bingung mau diapakan. Yang diajarkan di pesantren hanyalah bagaimana menjadi Muslim yang baik dan benar sesuai dengan syariat agama melalui kitab-kitab klasik yang isinya hanya tentang bagaimana berperilaku yang baik, tata cara salat dan ilmu-ilmu agama lainnya. Ajaran tentang “jihad” pun dimengerti dalam maknanya yang luas, tidak hanya bermakna berperang melawan orang yang beda agama, namun juga berkhidmah kepada masyarakat melalui pelayanan pendidikan, pemberdayaan ekonomi, atau menjaga kerukunan masyarakat.

Ada beberapa kemungkinan sang alumni pesantren yang menjadi terduga teroris bisa melakukan hal tersebut. Mungkin tidak terlalu pintar dalam masalah agama (alim). Mereka salah dalam menafsiri pokok dasar agama (Quran-hadis), sehingga mereka merasa benar untuk melakukan aksi-aksi tersebut.

Kemungkinan yang lain,  mereka masuk ke dalam Islam jalur radikal, yang awalnya mereka hanya diyakinkan bahwa Islam yang seperti inilah yang benar menurut aturan Tuhan dan utusannya, sehingga mereka percaya dengan aliran tersebut. Atau memang mereka sudah didoktrin mulai sejak kecil oleh orang tuanya, seperti dipertontonkan adegan cara membunuh sandra atau tahanan, atau adegan kekejaman yang lainya. Pada dasarnya kejadian seperti itu memang ada di negeri ini.
Beda Jalan Satu Tujuan


Oleh karenanya Indonesia membubarkan kelompok-kelompok Islam radikal di negeri ini, seperti pembubaran HTI, atau kelompok radikal lainya. Meski secara organisasi dibubarkan, tapi gerakan mereka masih tetap berjalan, meskipun hanya di bawah tanah (diam-diam). Masyarakat yang anti radikalisme memang lebih banyak di negeri ini, tapi bukan berarti kaum radikal yang sedikit tidak bisa berkutik. Bisa jadi yang sedikit itu lebih aktif daripada yang banyak.

Untuk kaum yang non radikal, biasanya mereka memilih jalan yang lebih damai untuk melakukan aksinya, seperti mengadakan pengajian, istighosah, atau acara-acara yang berbau keagamaan yang lebih bersahabat dan tidak mengganggu ketenangan orang lain. Semua itu adalah syiar (ajakan) untuk mempersatukan masyarakat, atau islamisasi secara halus.

Mereka semua, baik yang teroris, Islam radikal, ataupun non radikal, mempunyai tujuan yang sama, yaitu memperbaiki agama, membuat Islam agar lebih baik. Meskipun cara yang mereka lakukan berbeda-beda. Kita sebagai masyarakat biasa, bukan berarti hanya bisa pasrah dengan keadaan yang ada. Kita juga bisa bergerak untuk memperbaiki agama agar menjadi lebih baik, seperti memberi bantuan kepada yang lebih membutuhkan, atau menjaga keluarga kita agar tidak terperangkap ke dalam aliran-aliran yang meresahkan.

Kamis, 01 Agustus 2019

Islam Tidak Harus Arab



Oleh : A. Imam Fathoni

Mula-mula Islam berasal dari Nabi sang pembawa risalah yang berkebangsaan Arab. Sosok pemimpin masyarakat Muslim pertama itu bernama Nabi Muhammad. Kemudian diteruskan oleh empat pengganti (khalifah) yang meneruskan kepemimpinanya secara berturut-turut. Pergolakan hebat akhirnya menuntut Islam dipimpin dengan sistem kerajaan (monarkhi).
            Islam menyebar luas ke seluruh dunia. Perkembangan-perkembangan pun terjadi, bahkan ada sekian negara atau kerajaan yang mengklaim dirinya sebagai negara atau kerajaan Islam. Dengan ideologi  politik yang berbeda-beda dan bahkan saling bertentangan, mereka menyatakan diri sebagai “ideologi Islam. Jika di bidang politik saja sudah berbeda-beda, apa lagi di bidang lain, seperti misalnya budaya, atau yang lainya?
Islam Tidak Harus Arab
Image by Pixabay

            Islam awalnya hanya berbentuk seruan atau ajakan, kemudian berkembang menjadi fikih yang dimasukkan ke dalam beberapa buah mazhab. Masing masing dari mazhab tersebut mempunyai metode dan pemikiran tersendiri.
            Terkemudian lagi muncullah sederet pembaruan Islam, mulai dari yang radikal, setengah radikal, dan ada pula yang tidak radikal sama sekali. Pembaruan demi pembaruan pun dilancarkan. Mereka mengajukan klaim memperbaiki fikih dan menegakkan agama yang sebenarnya, yang biasa mereka sebut dengan “syariat,” meskipun penganut fikih dari madzhab lain pun menamai anutan mereka sebagai syariat.”
            Gerakan-gerakan itulah yang menuntut perubahan Islam di berbagai negara, terutama di bidang kebudayaan. Seperti yang terjadi di negeri kita ini, masjid yang beratap genteng susun tiga yang sarat dengan simbolisasi lokal dituntut untuk dikubahkan. Gending Jawa yang berisi ajakan untuk masuk Islam diganti dengan qosidah yang berbahasa Arab. Bahkan ikat kepala lokal atau udeng sudah digeser oleh sorban atau imamah yang kesemuanya itu agar Islam bisa seragam.
            Tak hanya pada bidang budaya, cara pengambilan hukum pun harus diseragamkan dan diformalkan, yakni harus ada pengambilan formalnya yaitu Alquran dan hadis. Tidak seperti dulu yang cukup dengan apa kata kyai.
            Kalau memang seperti ini, berarti masyarakat muslim di negeri ini, khususnya, dan di Negara Negara lain harus kehilangan kebudayaannya. ketika masyarakat Hindu menemukan kekhusyukan rohaninya melalui gending tradisional Bali, apakah kaum muslimin masih “berqosidahan Arab” dan melupakan “pujian” berbahasa lokal tiap akan melakukan sembahyang?
            Dan juga mengapa harus menggunakan kata salat jika kata “sembahyang” juga benar? Dan mengapa harus di musallakan padahal dahulu hanya cukup dengan kata langgar? Dahulu tuan guru atau kiai, sekarang ustaz dan syaikh baru berwibawa. Kalau memang demikian berarti Islam telah mencabut kebudayaan dari berbagai dunia.
            Yang mereka lakukan seharusnya Islamisasi, bukan Arabisasi. Untuk menjadi orang Islam itu tidak harus menjadi orang Arab atau seperti orang Arab. Apa salahnnya jika ada istilah Islam tanah Jawa ?

Sabtu, 27 Juli 2019

DESA SANTRI



oleh: Rian Hidayatullah

Ganjaran itulah salah satu nama desa di daerah Malang yang mendapat julukan desa santri, karena mayoritas di daerah itu banyak pemuda-pemudi yang menimba ilmu di beberapa pondok pesantren di sana. Mereka datang dari berbagai penjuru kota di Indonesia, seperti Pontianak, Madura, Lumajang, Sulawesi, tak lupa pula dari Malang sendiri. Tak ayal, kadang-kadang perbedaan itu membuat perselisihan antara mereka timbul.
DESA SANTRI


Desa yang berjulukan Desa Santri bukanlah Ganjaran saja, tapi Singosari juga pernah dinobatkan sama seperti Ganjaran. Pesantren demi pesantren didirikan dan minat para orang tua untuk memondokkan putra-putri mereka semakin meningkat. Alasannya mungkin agar anak-anak mereka tidak terlalu bebas di perkembangan zaman yang sangat fana ini.
Pondok pesantren di Malang tidaklah bercorak salaf saja, tapi pondok modern juga telah terwujud, seperti Ar-Rifai dan An-Nur. Namun meski dikatakan pondok modern, mereka tak melupakan apa yang ada di pondok pesantren salaf, yakni kajian kitab kuning. Suasana di sana memang agak sedikit  berbeda dengan pondok salaf, mungkin dari fasilitasnya yang lengkap dan terjamin.
Kalau desa sudah dijuluki desa santri, maka lembaga-lembaga di desa itu juga berkultur santri, yakni sekolahannya yang memisahkan antara laki-laki dan perempuan. Terasa hampa ketika dalam suatu kelas gak ada lawan jenis. Tapi apa mau dikata, kenyataannnya memang seperti itu, sehingga kadang membuat siswa-siswi geregetan ketika papasan di pinggir jalan. Pandangan mungkin ke depan, tapi lirikan mata menyebar ke kiri dan ke kanan.
Tanggal 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri. Berbagai macam acara ditampilkan di hari itu, seperti upacara, istighasah, salawatan, dan lain-lain. Sebagian santri berkumpul untuk menghadirinya. Dengan sumringah mereka berjalan menuju acara itu karena setahun sekali, katanya. Jarang sekali mereka bisa keluar dari pondoknya kalau tidak ada keperluan. Apalagi santri putri, mereka lebih sulit untuk keluar kompleks pesantren.
Keberadaan santri-santri itu juga membawa rejeki bagi orang-orang sekitarnya dengan membuka usaha rumah makan. Toko mereka bisa mendapat rejeki lebih banyak dari biasanya. Para santri pun merasa sangat nyaman dengan hal itu, membuat mereka leluasa mendapatkan apa yang mereka butuhkan.
Cukup 4000 rupiah, santri di sana bisa mendapat nasi dengan lauk-pauk ala kadarnya. Ya kalau ingin lauk lebih enak lagi tinggal merogoh gocek agak dalam, tapi tetap harganya tidak terlalu mahal dibanding warung-warung di luar desa santri sana. Para penjual mengerti dengan keadaan santri itu, bagaimana kondisi keuangan mereka. Meskipun kirimannya banyak, ada saja yang membuat kantong meringan tanpa terasa.
Desa yang dipenuhi pemuda-pemudi berpeci dan berkerudung tidaklah selamanya tercium baik bagi masyarakat di sana. Terkadang pertemuan antara dua insan di tempat sunyi itu yang membuat bau harum santri berubah menjadi bau busuk sebab perbuatan tidak bermoral itu. Sebusuk bangkai binatang yang sudah lama mati.
Ketika rintik hujan mulai mengguyur desa kemudian membasahi songkok atau kerudung yang tidak dilindungi dengan payung pada waktu berangkat maupun pulang dari madrasah mereka, itulah sekilas dari  kesederhanaan yang dimiliki santri. Kesederhanaan itu tidaklah menjadi penyurut semangatnya, tapi sebaliknya menjadi penyemamgat mereka menimba ilmu.
Desiran angin malam itu adalah sebuah suasana sunyi yang menandakan para santri sudah berada di balik jeruji besi pondok mereka. Entah apa yang dikejakan para santri ketika itu, tapi biasanya mereka ada yang belajar, ada yang tidur, ada yang begadang sampai larut malam dengan dibarengi secangkir kopi yang sudah dingin.[]

Kamis, 25 Juli 2019

BERMASYARAKAT SETELAH PULANG DARI PONDOK



oleh: Abilu Royhan

Bagi kita yang telah masuk pondok pesantren untuk menuntut ilmu agama, kata “bermasyarakat” menjadi suatu hal yang harus kita perhatikan. Harus kita pelajari bagaimana caranya menghadapi masyarakat ketika kita pulang dari tempat yang penuh dengan berkah para masyayikh kita ini.tujuannya adalah agar kita dapat mengambil hati masyarakat sekitar kita, lalu kita ajak ke ajaran-ajaran yang di-nas oleh Alquran, hadis dan keputusan para ulama.
       Salah satu cara agar kita dapat bermasyarakat adalah dengan memanfaatkan momen liburan pondok pesantren untuk belajar lebih banyak tentang kehidupan bersama orang-orang sekitar. Salah satunya adalah dengan mengikuti acara-acara yang ada di kampung halaman kita, seperti Tahlilan, Yasinan, Tadarus Ramadan, dan lain-lain,agar kita bisa berbaur dan berdialog dengan mereka. Dengan adanya liburan, selain untuk menenangkan sejenak otak-pikiran kita yang setiap hari setiap jam setiap menit telah kita gunakan untuk menimba ilmu sebanyak mungkin, juga kita gunakan untuk mempraktikkan ilmu-ilmu yang sudah kita dapat selama satu tahun atau lebih ini.Liburan juga menjadi ajang latihan bermasyarakat ketika kita sudah pulang atau berhenti dari pondok pesantren, supaya kita tidak tergolong dengan orang yang dikatakan oleh Syekh Ibnu Ruslan dalam Nazam Zubad-nya:

فعالم بعلمه لم يعملن * معذب من قبل عبادالوثن

Orang yang tahu akan ilmu tetapi dia tidak melakukannya, maka dia akan disiksa terlebih dahulu sebelum para penyembah berhala disiksa .

Na’udzubillah!
            Kita harus peka terhadap orang-orang sekitar, terhadap perilaku dan kesehariannya. Dan hal inilah yang paling sulit, karena kita tidak dapat mengetahui karakter-karakter orang yang jauh lebih tua dari kita.Kita hanya dapat bersosialisasi, berkomunikasi dengan anak-anak seumuran kita dan, walaupun ada yang senior, tidak terlalu jauh umurnya dari kita. Terus, bagaimana kita bisa belajar bermasyarakat yang akan kita praktikkan ketika liburan, sedangkan kita berada di pondok pesantren?
BERMASYARAKAT SETELAH PULANG DARI PONDOK

Dengan sebaik mungkin kita berperilaku kepada teman, baik senior maupun junior, akan mengajari kita cukup banyak tentang cara kita berbaur dengan masyarakat nanti.Begitu juga kepada para kiai dan pengurus pondok pesantren.Dengan cara inilah kita dapat belajar cara bermasyarakat di pondok pesantren.Kita akan dihadapkan pada momen yang mana kita harus belajar lebih banyak bersabar pada teman senior dan junior kita, yaitu ketika menjadi pengurus. Pada masa inilah kita akan menjumpai momen-monmen tidak mengenakkan, yaitu belajar bersabar, disiplin dan yang lebih penting lagi yaitu menjaga sikap. Ketika masa ini kita akan lebih banyak belajar bagaiman cara bermasyarakat.Ketika kita diangkat menjadi pengurus, sebagian teman kita pasti ada yang tidak suka dan memusuhi kita.Pada momen ini juga, kita dapat memanfaatkan rasa ketidakkesukaan mereka itu untuk melatih kita bagaimana sikap yang baik dan benar dalam menghadapi cobaan itu. Jadi, dengan adanya cobaan-cobaan yang kita hadapi, baik di pondok pesantren, di rumah ataupun di manapun juga, akan menjadikan kita lebih dewasadan menumbuhkan rasa sabar dan disiplin dalam menghadapi semua itu, karena Allah pasti memberikan hikmah di balik cobaan itu semua.
Sebenarnya di pondok itu sama seperti hidup di lingkungan biasanya, karena kita bisa menjadi orang baik dan bisa menjadi orang yang kurang baik.Semua itu tergantung pada kita,bagaimana kita mencari teman yang sesuai dan layak untuk kita jadikan teman karib. Akan tetapi itu semua semu.Artinya, ketika kita pulang nanti,kita bisa menjadi orang yang sebaliknya.Tapi, pondok pesantren itu menjadi cerminan kita untuk bekal bermasyarakat nanti.Maka dari itu, kita harus bisa menjadi orang yang peka bak air yang bisa bertempat sesuai dengan bentuk yang ia tempati.Kita sepatutnya seperti itu.
Tanggung jawab seorang anak bersongkok hitam itu lebih besar daripada anak yang bertopi, apalagi yang tak bertudung kepala sama sekali.Hal ini karena anak yang bersongkok hitam itu dipandang bagaikan raja hutan yang harus menjaga hutannya dari kejahatan manusia pemburu.Begitu pula santri akan dipandang oleh masyarakat untuk menjadi pemimipin, ketika dia pulang dari pondok menuju tanah kelahirannya. Maka dari itu, kita di pondok ini juga harus belajar ilmu-ilmu yang lain, agar kita siap untuk menjadi pemimpin orang-orang di sekitar rumah kita yamg mayoritas tak bersongkok.Dan itu sesuaidengan syair yang dilantunkan oleh seorang waliyullah yang tidak asing lagi di telinga kita, Gus Abdurrohman Wahid yang akrab di panggil Gus Dur, yaitu:

Duh bolo konco prio wanito
Ojo mung ngaji syareat bloko
Gor pinter ndongeng nulis lan moco
Tembe mburine bakal sangsoro

Itulah secuil syair Gus Dur yang penuh sejuta tafsir dan makna.Dari syair itu kita dapat memahami bahwa kita juga harus belajar tentang ilmu-ilmu yang lain, salah satunya adalah ilmu bermasyarakat, agar kita tidak menyesal di kemudian hari dikarenakan hanya belajar ilmu-ilmu syariat saja.Dan ilmu bermasyarakat itu bisa kita dapatkan di pondok pesantren ini.[]