Saturday, 14 August 2021

Menfilter Pop Culture - Oleh Agus Shofi Mustajibullah

 

 

Menfilter Pop Culture

Oleh: Agus Shofi Mustajibullah

Dewasa ini, dunia yang begitu megahnya dapat dilihat dari telepon genggam masing-masing. Ketika seseorang menginginkan sesuatu di luar jangkauannya, dengan telepon genggam ia dapat mendapatkan dengan entengnya. Seperti, zaman dulu yang sangat ingin menonton konser idolanya di luar negeri, sekarang bisa melihat konser idolanya sambil tiduran melalui telepon genggam. Begitulah kemudahan saat ini.

Dengan perkembangan tersebut, para kaum kapitalis memanfaatkannya untuk memproduksi dan memasarkan suatu budaya yang di sebut ‘pop culture’ melalui media massa (termasuk telepon genggam) kepada konsumen massa. Dan itu demi keuntungan mereka sendiri. Contohnya ialah apa-apa yang di interaksikan pada orang-orang setiap harinya seperti cara berpakaian dan sebagainya. Yang tren hari ini apa, itulah pop culture.

Pop culture sendiri memiliki pengertian yaitu totalitas ide, perspektif, perilaku, meme, citra, dan fenomena lainnya yang dipilih oleh konsensus informal di dalam arus utama sebuah budaya. Untuk karakterisitiknya cukup mencengangkan yakni sangat pragmatis, yang berartikan selagi bermanfaat pada penggunanya entah itu salah atau benar, ya fine-fine saja. Orang yang ingin viral dengan melakukan tindakan yang tidak senonoh merupakan representasi pragmatisme yang menjadi ciri khas negeri ini, dan hal itu termasuk pop culture juga di negeri ini. Lebih parahnya lagi, pop culture mengajak penggunanya untuk terus menerus memikirkan kenikmatan yang di inginkan. Misalnya ketika Anda membuka media sossial yang mana merupakan pop culture juga, Anda akan memiliki ketertarikan terus menerus dengan visualisasi indah yang terus di cekoki kepada anda.

Anda tahu Pergaulan bebas? Hal ini juga bisa di indikasikan karena pop culture itu sendiri. Dengan ambigunya pop culture (dari berbagai bangsa dan negara serta wataknya masing-masing) yang sudah menjadi konsumsi Anda serta senantiasa Anda lihat tanpa adanya edukasi yang pasti, Anda akan penasaran, Anda selalu memikirkannya, dan pada akhirnya melakukannya. Like a drunks, narkoboy, slebew sana slebew sini memiliki tendensi besar untuk merusak masa depan seseorang. Dan hasilnya... booommm.... madesu.

Di samping itu semua, menurut Wahyudi, budaya populer itu menjadi penting dan menarik karena merupakan realitas dari masyarakat dan cara atau bagaimana masyarakat mengonsumsi budaya tersebut. Namanya juga zaman, terus maju tanpa memedulikan waktu. Its a life, dunia ibarat kendi yang mau tidak mau menerima air yang berbeda-beda. Pasti ada hal baiknya juga di dalamnya. Intinya pilihlah yang baik saja. Seperti seseorang yang berubah dalam berpenampilan, ia seketika menjadi anggun, menawan, memesona karena mengikuti pop culture.

Seorang santri yang biasa di didik membentuk karakter yang kuat dan kokoh, mereka ora keno ora menghindari hal-hal buruk dari pop culture di tengah-tengah masyarakat. Sebenarnya santri di diamkan di dalam pesantren tanpa bersosialisasi dengan khalayak ramai (uzlah) salah satu tujuannya untuk menghindari hiruk pikuk budaya yang membingungkan (Meskipun mungkin ada satu dua kekurangannya seperti gaptek dan lain-lain).

Tapi tetap, santri harus mampu beradaptasi dengan keragaman di dalam pop culture atau bahkan bisa mendesain pop culture sendiri ala-ala santri sehingga masyarakat dapat mengkonsumsinya. Yasinan, tahlilan, waqiahan harus menjadi pop culture masyarakat (islam) Indonesia.

Wallahu a’alamu bisshoab

~Ada hujan yang turun demi memelihara, ada juga hujan yang turun demi membusukkan. Betapa mengagumkan keuntungan dari hujan pada musim semi, tetapi hujan pada musim gugur bagi kebun seperti terkena demam~

(Maulana Jalaluddin Ar-Rumi)

Wallahu a’alamu bisshoab

Refrensi:

Makalah Kajian Teori Budaya Populer

Website PMB: Studi Sosial: Makna Budaya Pop di Masyarakat

Semesta Matsnawi

Selamat Beribadah - Oleh Muhammad Farhan

 

Selamat Beribadah

Oleh: Muhammad Farhan

Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa salah satu kegiatan terpuji dalam kehidupan beragama adalah beribadah.

Namun sebelum tulisan ini melangkah lebih jauh, mungkin, alangkah baiknya bila kita menyamakan persepsi terlebih dahulu tentang apa itu ibadah. Hal ini perlu, dalam taraf yang sama, dilakukan dengan harapan agar apa yang nantinya dikerangkakan oleh pembaca akan sama dengan pola yang telah dikerangkakan oleh penulis.

Ibadah, atau yang dalam hal ini menggunakan imbuhan ber yang ma’nanya mungkin akan diterangkan oleh guru bahasa indonesianya masing-masing, adalah suatu pernyataan bakti dengan implementasi berupa perbuatan yang dilakukan seorang hamba terhadap tuhannya dengan landasan hukum yag telah ditetapkan oleh tuhan itu sendiri.

Dari definisi yang telah disebutkan, dapatlah kiranya tergambar dalam benak pembaca tentang alasan mengapa penulis menyebukan paragraf pertama dan dapatlah pula tergambar dalam benak pembaca bahwa yang dinamakan ibada tidak hanya berkutat pada penyembahan di lima waktu yang telah ditentukan itu. Akan luas maknannya bila kita membiarkan definisi diatas pada bentuk yang demikian. Karena bila kita menginterpretasikan definisi tersebut dengan penyembahan di lima waktu itu saja maka makna belajar untuk menegakkan agama allah dan tidur untuk alasan yang sebelumnya tidak dinamakan ibadah, tidak ada unsur pahalanya. Tentu akan sangat sayang dikata bila hal yang beru disebutkan dijadikan sebagai patokan.

Alasan mengapa hal tersebut disayangkan akan tampak jelas bila kita mau mencermati potong demi potong sumber hukum dalam islam, hadist dan alquran.

Dalam salah satu hadist disebutkan bahwa wajib hukumnya bagi seoran muslim atau muslimah untuk balajar ilmu. Tidak bisa tidak, harus dilakukan. Dalam hadist lain, utusan agung itu juga menyebutkan bahwa ulama, yang dalam bentuk mufrodnya menggunakan kata alim, yang jika diterjemah kedalam bahasa indonesia akan kurang lebih menggunakan kata orang terpelajar; cendekiawan, adalah pewaris nabi.

Sedangkan dalam alquran disebutkan bahwa alasan allah menciptakan manusia, tiada lain tiada bukan, hanyalah untuk beribadah kepadanya. Tidak bisa tidak, harus dilakukan. Itu artinya ada dua kewajiban yang harus dilakukan secara bersamaan oleh seorang hamba dalam satu tempo. Tentunya, hal yang demikian lebih dekat dengan kemustahilan. Selain akan ada sisi kemustahilan lain yang akan nampak konyol. Jika belajar tidak termasuk kelompok ibadah, lantas bagaimana nasib calon pewaris nabi tersebut?

Jika sudah demikian, maka akan nampak jelas akan kesayangan yang telah penulis sebutkan dan alangkah baiknya lagi bila hal-hal yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari dikaitkan dengan ibadah yang sejatinya hal itu memang ibadah. Karena menurut penulis sendiri, ibadah itu terbagi menjadi dua. Yang pertama adalah ibadah yang sejatinya ibadah. Yang kedua adalah ibadah yang sejatinya bukan ibadah dan yang kedua inilah yang jumlah variannya lebih banyak dari yang pertama. Mulai dari yang berat seperti bekerja sampai kepada yang  ringan seperti tidur. Tapi tentu kedua hal tersebut dengan garis bawah yang cukup tebal.bekerja dengan niatan menafkahi. Tidur dengan niatan membahagiakan istri. Ah, Istri!. Maaf! Jiwa kadal penulis kadang meronta-ronta memang.

Sebetulnya, ada banyak lagi contoh yang dengan sengaja penulis tidak menyebutkannya. Hal ini penulis lakukan agar selain menghemat daya otak penulis, juga menghemat konsumsi tinta printer publikasi.

Sebagai penutup, penulis ingin mengucapkan kepada semua, baik yang sudah baru atau yang baru lama, khususnya lagi teruntuk kamu. Iya, kamu. Eh, maaf! Barusan, Penulis keceplosan. Ulang.

Sebagai penutup, penulis ingin mengucapkan selamat menjalankan ibadah rindu 15 syawal 1442 hijriah. Semoga amal ibadah yang kita lakukan dapat diterima disisinya.

Demikian, sekian, terima kasih[]