Raudlatul Ulum 1

Menatap Masa Depan, Menggenggam Ajaran Salaf

Breaking

Friday, 5 March 2021

Pesantren itu bernama Raudlatul Ulum Suramadu (berita)

 


Pesantren itu bernama Raudlatul Ulum Suramadu

Oleh: Muhammad Farhan


Dari namanya saja sebagian dari pembaca mungkin sudah dapat menerka bahwa pesantren itu adalah cabang dari Raudlatul Ulum 1. Raudlatul Ulum suramadu.

Berdiri di kawasan satu kilometer dari gerbang tol jembatan suramadu, pesantren itu dibangun di atas lahan seluas 20 m x 60 m dengan bangunan yang setidaknya agak berbeda dengan bangunan pesantren salaf pada umumnya. Biasanya daerah dari setiap pesantren salaf yang ada adalah dengan menjadikan kamar mandi sebagai salah satu tempat berkumpulnya para santri dari berbagai daerah yang berdomisili di pesantren tersebut. Di pesantren itu tidaklah demikian. Kamar mandi dari pesantren itu nantinya akan dibangun sebanyak kamar tidur yang ada. Sebanyak bilik yang ada, sebanyak itu juga kamar mandinya. Selain meminimalisir terjadinya antrian yang tidak dapat terkendalikan, tentunya hal itu dapat meningkatkan tenggang rasa dari setiap pemilik bilik yang ada sekaligus dapat lebih menjaga kamar mandi yang dimiliki oleh setiap biliknya. Selain juga dapat dijadikan sebagai parameter dari kebersihanan anggota kamarnya. Karena barang siapa yang kamar mandinya tidak terawat maka jawabannya sudah jelas, karena pemiliknyalah tidak merawat. Setidaknya, memang seperti itulah rumusan sederhananya.

Selain hal kamar mandi tadi, pesantren itu juga menyediakan air mineral sebagai sumber penghilang dahaga bagi para santri yang nantinya akan menetap disana. berbeda dengan pesantren salaf  pada umumnya yang menjadikan air kran sebagai sumber penghilang dahaga bagi para santri yang menetapinya. Dua perbedaan itulah yang nantinya akan didapatkan oleh santri disana. walaupun masih akan mereka dapatkan hal yang sama dari pesanten-pesantren salaf pada umumnya.

Pada mulanya, sebetulnya,  pesantren yang tahap pembangunannya sudah mencapai lima persen ini bukanlah diniatkan untuk menjadi pesantren. Melainkan untuk dijadikan sebuah penginapan berbayar semacam villa-villa yang sudah ada. Pada mulanya seperti itu. Namun ketika disuatu waktu, ketika H. Abdurrahman nafis –sepupu dari H basuni Ghofur, alumni pondok pesantren raudlatul ulum satu, pendiri pondok pesantren Raudlatul Ulum Suramadu- berkunjung dan meninjau progres dari pembangunannya, ia melihat bahwa apa yang dibangunnya sekarang ini bukan hanya mirip dengan penginapan berbayar pada umumnya, melainkan juga mirip dengan pondok pesantren pada umumnya.  Karena itu, terbesitlah dalam hatinya untuk menjadikan apa yang dibangunnya saat ini sebagai pesantren. Dan karena kejadian terbesit itulah sehingga maklum dikata bila pesantren itu mempunyai tata letak yang setidaknya agak berbeda dengan pesantren salaf lainnya.

Ketika ditanya tentang basis dari pesantren yang akan diampu oleh beliau itu, apakah akan dibasiskan pada kitab klasik, alqu’an atau bahkan hadist, yang notabenenya adalah salah satu study ilmu yang beliau tekuni,  beliau K. Ma’ruf Khozin –putra ke-4 dari pasangan KH. Khozin Yahya dan nyai Hj. Maftuhah, ketua komisi fatwa MUI Jawa Timur, direktur aswaja center PWNU Jawa Timur- menjawab bahwa mungkin kebelakangnya bisa jadi iya. Tapi, lanjut beliau, memikirkan pesanten untuk dibasiskan suatu study tertentu itu kiranya suatu pemikiran yang agaknya masih terlalu jauh. Bayangkan saja bahwa untuk menjadi pesantren yang dapat berdiri dikaki sendiri saja setidaknya sudah memakan 4 atau bahkan 5 tahun lamanya. Apalagi berkehendak untuk menjadikan sebuah pesantren yang berbasis hadist, sumber kedua dalam islam setelah alqur’an yang untuk dapat memahaminya saja haruslah mempunyai peralatan lengkap. Mulai dari yang terdasar seperti nahwu dan shorof hingga yang tertinggi seperti manthiq dan balaghah. Karena agak jauh itulah, beliau telah meminta kepada salah satu pondok terdekat, al-Akhyar, untuk membantu beliau dalam proses belajar mengajar.



Selayang pandang mengenai pengasuh dari pesantren itu adalah K. Ma’ruf Khozin. Salah satu putra mahkota pondok pesantren Raudlatul Ulum 1. Rihlah ilmiahnya beliau mulai dari bangku mi raudlatul ulum putra. Hari sabtu ditahun 1994, 2 hari setelah selesainya ujian nasional yang beliau lakukan, beliau diantar langsung oleh abahnya untuk nyantri di pesantren al-Falah Ploso Mojo Kediri. Di pesantren itu beliau pernah mendirikan satu forum yang mewadahi minat kreativitas para santri. Fordis namanya.

Delapan tahun berlalu dan di tahun 2002 beliau memutuskan untuk boyong sekaligus menikah. Di tahun yang sama, disebelum boyong, beliau menikah dengan salah satu santri putri asal Surabaya, Wiya namanya.

Demikian. Sekian. Wassalam.[]



 

No comments:

Post a comment