Raudlatul Ulum 1

Menatap Masa Depan, Menggenggam Ajaran Salaf

Breaking

Monday, 1 February 2021

Aku bersaksi bahwa tiada wanita selain dirimu, kasih. (cerpen)

 



Aku bersaksi bahwa tiada wanita selain dirimu, kasih.

Oleh: Muhammad Farhan

Gemetar tanganku ketika mulai menuliskannya untukmu. Hatiku linglung, otakku limbung. Ketika hendak menulis, banyak yang kurasa. Setelah kupegang pena, hilang otakku seutuhnya. Maaf kupinta jika tulisku tak seromantis surat cinta kekasih pada kekasihnya. karena ketika aku menuliskannya untukmu hatiku diambang linglung, otakku diambang limbung.

Bersama dengan surat ini ada, kukirimkan juga padamu seperangkat bias senja -segerombol burung yang mengangkasa, selengkung pelangi dengan selusin warna, sewarna jingga yang kobarannya membara. Selain itu, untukmu, kukirimkan juga semilir angin yang membelai halus rambutmu, mengelus lembut pipimu, mencubit manja ujung hidungmu. Karena untuk melakukannya sendiri, diriku, belumlah qobiltu.

Perihal perkataan yang pernah dikatakan oleh gurumu, maaf, aku tak setuju. Katanya, berkhayal itu dapat menyebabkan gangguan kejiwaan. Sama seperti rokok yang dapat menyebabkan gangguan kehamilan. Katanya seperti itu. Suatu ketika, aku mencobanya untuk membuktikan apa yang dikatakan oleh gurumu itu dan ternyata hasilnya malah sebaliknya, aku mengalami gangguan jiwa.

Ceritanya, setelah mengetahui itu, aku mencoba untuk tidak menghkayalkan dirimu. Sebisa mungkin kulakukan itu. Tapi nyatanya, esoknya, aku dilanda gila. Lama. Hingga aku memimpikanmu. Walaupum hanya sekedar mimpi, tapi hadirmu padaku sangatlah membantu. Kala itu, kala malam telah tiba, aku mendatangi kamarmu dengan pakaian yang begitu sederhana lalu kita bercakap-cakap dengan bertatap muka. Kita terus saja bercakap-cakap hingga dirimu meminta izin kepadaku untuk tidur. Setelah dirimu tertidur, aku mencoba untuk memijatmu. Tapi dirimu malah terbangun. Ketika kutanya mengapa, dirimu malah menjawab “jangan gitu talah, cak. Geli loh”

Walaupun aku tak begitu setuju dengan gurumu, tetap saja kuperintahkan angin agar mengirim awan untuk melindungi pulangmu dari sekolah. Karena jangankan untuk memegang bajumu, menyentuh bayanganmu saja cemburuku sudah setengah mati.

Yang kupinta hanya awan, yang datang malah hujan. Terkadang, begitulah semesta, suka bercanda. Tapi tak apa, dengan begitu, denganmu, diriku dapat bercumbu rayu lebih lama dari waktu biasanya.

Dalam surat yang kutuliskan teruntukmu saja, diantara sela kata demi kata, kusisispkan juga gebu rindu yang tak kuasa kusimpan dalam hatiku. Dalam sela kata, semuanya. Kutaruh disitu, hanya untukmu. Engkau tak perlu risau perihal rindu yang ada dalam hatiku. Secepat mikroba yang membelah diri menjadi 2, rindukupun juga sama. Bahkan sampai berjuta-juta lipatannya. Menumpuk jadi satu, dalam hatiku. Walaupun aku belum melamarmu, tapi percayalah, bahwa dalam sukmaku sudah banyak anak cucu darimu.

Layaknya maheswari dicipta, cantikmu juga tak kalah rupa. Lihatlah Betapa malunya purnama ketika ia melihat matamu berkedip manja. Betapa malunya ilalang ketika ia melihat lentik bulumatamu menusuk emasnya rembulan. Betapa malunya rintik hujan ketika ia melihat bibirmu tersenyum menenangkan. Betapa malunya tuhan ketika ia  melihat wajahmu... tidak. Aku tidak mau memujimu seperti itu. Bukan karna aku tidak mampu. Bukan. Aku tidak mau memujimu seperti itu karna bila aku memujimu seperti itu, yang kutakut satu, tuhanmu cemburu. Biarlah dengan kata tersederhana, padamu, aku memuja. Biarlah dengan kata teringkas, dirimu, dalam hatiku membekas. Biarlah.

Selain kepadamu, aku juga mengagumi penciptamu. Aku mengaguminya karena ia telah begitu romantis padaku. Bayangkan saja betapa romantisnya tuhanmu padaku. Ia telah menciptakan kamarmu untuk menghadap senja. Dan ia pula yang telah menciptakan kamarku untuk menghadap kamarmu. Ah, tuhan. Betapa romantisnya dirimu. Aku tersipu malu.Engkau membuat kamarnya menghadap senja. Dan engkau membuat kamarku menghadap kamarnya. Sungguh. Romantismu padaku tiada tandingan, tuhan.

Semoga saja, selain itu, tuhanmu juga mengijabahi doaku. Aku tidak mendoakanmu disepertiga malamku. Aku juga tidak mendoakanmu agar menjadi milikku. Aku hanya mendoakanmu dilima waktuku. Itupun sebatas kebahagiaanmu dan keselamatanmu. Duniamu dan akhiratmu. Tidak dengan jodohmu. Aku tidak berdoa demikian, karna aku tak mau dianggap sebagai pendikte tuhan. Aku tak mau. Bukan tak mau bila engkau menjadi milikku. Melainkan aku tak mau mendikte tuhan agar kamu menjadi milikku. Tuhanmu tentu maha peka lagi bijaksana. Dengan mendoakanmu dilima waktuku, tentu tuhanmu sudah tau bahwa aku, padamu, ingin menatap sekaligus menetap, ingin singgah sekaligus sungguh, ingin kisah sekaligus kasih.

Aku padamu, i love you.

 

Kekasihmu

Farhan.

 

Baca juga puisi 

..

 

 

 


No comments:

Post a comment