Kamis, 31 Desember 2020

PELANGGARAN BERDALIH PENGABDIAN (editorial)

 PELANGGARAN BERDALIH PENGABDIAN

Oleh : Muhammad anas 

Dalam dunia pesantren sudah tak pelak lagi dengan berbagai macam kegiatannya yang menumpuk. Hingga  terkesan padat dengan hiruk-pikuk santri yang berlalu-lalang melaksanakan kewajibannya. Tak heran, jika kebanyakan santri yang baru masuk pesantren mengeluh nggak krasan tiap kali dikunjungi oleh orang tuanya. Terkadang hingga tak terasa kucuran deras tangis telah mengalir membanjiri pipinya yang membuatnya semakin terlihat lencu dan lesu, bak orang melas yang butuh untuk dikasihani. Tak cukup disitu saja, terkadang juga dibubuhi dengan rengean manja yang membuat kemelasannya semakin nampak. Tapi hal itu memang sudah menjadi sebuah tradisi lama yang sudah tidak asing lagi bagi para santri senior. Karena mereka-santri baru- masih belum terbiasa dengan dunia barunya, sehingga perlu adaptasi terlebih dahulu.

 Tentunya dengan kegiatan yang begitu banyak. Tak cukup satu dua orang untuk mengurus dan mengawal semua kegiatan agar berjalan sesuai dengan aturannya. Butuh beberapa orang untuk mengawal jalannya kegiatan pesantren. Dalam hal ini pengasuhpun mengangkat beberapa santri senior untuk ikut andil dalam membantu berjalannya kegiatan, engan menempatkan mereka yang telah dipilih oleh kyai dalam beberapa bidang kepengurusan. Sebenarnya tak cukup sampai situ saja, kerjasama yang solidpun juga dibutuhkan, baik antara pengurus dengan pengurus maupun pengurus dengan santri biasa (santri yang belum diberi mandat sebagai pengurus). Jika semuanya sudah berjalan beriringan dan terikat dengan erat, menjadi sebuah satu kesatuan yang kuat, maka sudah pasti akan terlihat apik dan indah. Hasil yang diharapkan pun tak akan mengecewakan.

Dengan gelagat pesantren yang padat akan kegiatan ini, tentunya tak akan lepas juga dari siasat beberapa santri yang sengaja memanfaatkan moment tersebut untuk melakukan pelanggaran. Mulai dari yang ringan hingga yang berat. Penguruspun harus memutar otak selain juga harus menjalankan tugas-tugas lainnya yang semakin menumpuk dan tak kalah berat-untuk mengatasi masalah-masalah yang ditimbulkan oleh santri-santri mbeling bahasa jawa ini. Keluh-mengeluhpun juga tak terhindarkan pula terjadi antara pengurus, meskipun tak dibarengi dengan rengean atau istilah yang dikenal dengan tangisan. Bak anak yang baru mondok, meskipun sebenarnya mereka santri senior. Hanya saja keluh-kesah pengurus ini bukan dikarenakan nggak krasan, tapi karena letih mendengar pelanggaran yang tak kunjung usai, selain juga dikarenakan faktor usia, yang sebagian dari mereka ini memang sudah waktunya untuk ”pindah kamar”, kira-kira begitulah istilahnya, hehe. Ya, ini terlihat ketika mereka berbincang santai membicarakan tentang kegiatan pesantren dan santri. Yang biasanya disela-sela itu disisipkan guyona-guyonan yang menggelakkan dan membuat perut kembung. Tak luput, kadang gojlok-menggojlok pun tak terelakkan pula. tapi semua itu hanya sekedar untuk menghibur dan me-refresh diri.

Dipesantren pada umumnya, tak hanya mengangkat sebagaian santrinya untuk membantu kyai dalam mengurus pesantrennya, tetapi juga mengangkat sebagian santri sebagai abdi ndalem-nya. Yang bertugas setiap hari untuk membantu pekerjaan rumah tangga keluarga ndalem. Tentunya ini merupakan sebuah moment yang baik dan membahagiakan karena bisa lebih dekat dengan keluarga ndalem sekaligus bisa membantu pekerjaan rumah tangga kyai. Selain juga dikarenakan yang menjadi abdi ndalem ini hanyalah santri beruntung yang langsung dipilih oleh kyai.

Lepas dari itu semua, sebenarnya menjadi abdi ndalem itu juga ada amanah besar yang harus mereka emban karena sudah dipercaya oleh kyai untuk membantu di ndalem-nya. yang tak jarang terkadang sebagian mereka melupakan hal itu. Sehingga terjadi beberapa pelanggaran yang dilakukan oleh mereka. Entah itu berupa pelanggaran langsung, semisal tidak masuk kegiatan dengan dalih lelah, capek karena selesai bantu-bantu di ndalem, ataupun pelanggaran yang tak langsung, semisal membawa gadget atau kendaraan bukan pada saatnya dengan dalih dibutuhkan oleh ndalem, supaya mempermudah pekerjaan di ndalem, dan berbagai alasan yang sejatinya hanya untuk pembelaan atas perbuatannya dan kesenangan diri belaka. Padahal tak pernah ada perintah untuk membawa ataupun menggunakan itu semua. Karena semua ada masanya.

Hal ini pun menjadi masalah yang alot untuk diselesaikan, karena sebagian mereka membawa-bawa nama kyai sebagai alasan. Sehingga tak sedikit dari pengurus kadang lepas tangan untuk menyelesaikannya. Tak hanya itu, terkadang sebagian mereka dengan sengaja tak aktif bahkan tak pernah masuk sama sekali dalam kegiatan pesantren dengan dalih yang sama. Padahal kyai tak pernah menyuruh mereka untuk membantu 24 jam penuh. Bahkan kyai terkadang menyuruh mereka untuk menyelesaikan kegiatan dipesantren terlebih dahulu baru kemudian membantu di ndalem.  

Bagi santri-santri yang malas dan tak suka dengan kegiatan dan tata tertib pesantren, ini akan menjadi kesempatan emas untuk tidak mengikuti kegiatan pesantren dan melanggar peraturan dengan cara berlomba-lomba untuk menjadi abdi ndalem. Sehingga ketika nanti kedapatan melakukan pelanggaran, mereka akan menggunakan pengabdian sebagai dalih untuk membela diri. Tanpa mereka sadari bahwa sebenarnya pengabdian bukan alasan untuk bisa meninggalkan kewajiban. Yang wajib tetap lah wajib. Pengabdian tak bisa menghapuskan kewajiban. Pengabdian bukanlah legalitas untuk bertindak semaunya dipesantren. Mau tidak mau itu harus disadari oleh segenap santri. Ngabdi ya ngabdi, peraturan ya harus tetap ditaati.

“Lebih baik tidak jadi abdi ndalem kyai, jika dihati santri terbesit niat memanfaatkan posisi untuk melanggar tata tertib pesantren.”

Begitulah kira-kira twetan Gus Abdurrohim said dalam postingan facebooknya.

Previous Post
Next Post

Pondok Pesantren Raudlatul Ulum 1 adalah pesantren salaf yang didirikan oleh KH. Yahya Syabrowi, Menggenggam Ajaran Salaf, Menatap Masa Depan

0 comments: