Raudlatul Ulum 1

Menatap Masa Depan, Menggenggam Ajaran Salaf

Breaking

Friday, 9 August 2019

CERITA MISTIS DARI LUMAJANG

oleh: Andrik

Semeru, siapa sih yang tak tahu paku bumi satu ini? Iya benar. Gunung Semeru adalah gunung terbesar di pulau Jawa. Banyak keindahan tercitra di dalamnya. Mulai dari puncak Mahameru yang dikenal dengan B29, Telaga Ranu Kumbolo,  hingga panorama air terjun Coban Sewu dan lainnya.

Namun tidak semua orang tahu, di balik keindahan yang tertera ternyata banyak hal mistis yang belum terpecahkan. Sedangkan, sampai sekarang kepercayaan animisme (roh nenek moyang) dan dinamisme (kesaktian) menjadi acuan masyarakat dalam memutuskan keadaan.

Salah satu dari misteri-misteri itu adalah Alas Semeru. Hutan lebat yang digunakan untuk mencari kayu bakar atau berburu itu ternyata memendam banyak hal mistis.

Dulu ada pendaki dari Jerman berjumlah empat orang, mereka melakukan penelitian, tapi sayangnya mereka tewas tanpa diketahui penyebabnya. Konon, penduduk setempat percaya bahwa penyebabnya mereka tidak pamit pada penunggu Alas Semeru.
CERITA MISTIS DARI LUMAJANG

Padahal secara logis keadaan udara sekitar gunung itu sudah menipis, bisa saja mereka mati karena kehabisan oksigen. Meskipun demikian, tetap saja orang-orang asing ini menjelajahi hutan Semeru. Padahal banyak bahaya lainnya seperti hewan buas, lumpur hidup dan masih banyak lainnya.

Sekitar tahun 1995, ditemukan seorang turis yang hampir mati saat mendaki. Turis ini ditemukan oleh seorang warga desa kaki gunung semeru (Supiturang) yang sedang mencari kayu bakar. Ternyata turis itu tidak sendiri, sembilan temannya tewas terjebak di lumpur hidup.

Sebenarnya dia hampir mati karena kehabisan asupan. Untung saja ada warga yang menemukannya. Kalau tidak, mungkin dia sudah mati.

Bicara tentang penunggu, Alas Semeru terkenal dengan sosok manusia istimewa. Namanya adalah Mbah Seddek. Beliau adalah penjaga alas dan gunung.

Nama aslinya Abu Bakar Assiddik, dipanggil Mbah Seddek karena kebiasan orang Jawa yang sering mengubah nama. Hal ini wajar, karena orang jawa dulu tidak fasih mengucapkan kata dari bahasa Arab.

Banyak keanehan yang ada pada sosok Mbah Seddek, salah satunya adalah ketika beliau meninggal, makamnya tidak ada yang tahu sampai sekarang. Konon, ketika ada manusia yang berhati bersih, dia dapat melihat dan berziarah di makam tersebut.

Lebih anehnya, ada sebagian orang yang ditemui Mbah Seddek. Cerita yang beredar, katanya kalau Mbah Seddek bertamu, maka beliau menguji masyarakat setempat, sudi berbuat baik atau tidak. Ketika mayoritas masyarakat mencerminkan perilaku yang tidak baik, maka desa itu akan terkena bala’.

Salah satu contohnya adalah desa Sumbersari. Desa ini terkenal dengan masyarakatnya yang kaya raya. Oleh karena itu, desa ini dinamakan demikian.”Sumber” artinya  sumber sedangkan ‘’Sari’’ artinya harta, kalau digabung artinya sumber mencari harta. Itulah persepsi masyarakat. Memang dalam kurun waktu yang singkat desa itu menjadi desa biasa.

Selain itu, di Alas Semeru ada juga misteri Genderuwo. Mahluk gaib yang memiliki    badan besar, berwarna hitam, bertaring dan bertanduk itu diinformasikan sering mengganggu masyarakat.

Contohnya, ada seorang pemburu tiba-tiba menghilang. Dicari-cari seharian tak kunjung ditemukan. Akhirnya, pagi itu dia ditemukan berada di 400 meter dari lokasi. Mereka menganggap bahwa orang tadi terkena halusinasi. Cara mengatasinya adalah  membalik baju yang sedang dipakai. Serem, aneh, lucu. Tapi, percaya tidak percaya, itulah kenyataannya.

Hal mistis lainnya adalah Santet. Berbicara daerah Lumajang memang tak luput dengan cerita Santet.

Para pemilik ilmu Santet selalu cari gara-gara pada orang lain. Tujuannya, agar mendapat korban. Kalau sudah terjadi pertikaian, baru santet dimainkan.

Ilmu santet adalah ilmu hitam yang harus dijauhi. Tetapi, kita harus mempelajarinya agar dapat menghindar. Dan masyarakat setempat harus kompak dalam menangani dan menghakimi orang itu. Dengan demikian, masalah-masalah sepele ini bisa selesai.

Seperti yang terjadi di desa ringin. Ada perempuan pemilik santet yang sering buat ulah. Meskipun mayoritas masyarakat sudah tahu, tapi mereka tak berani menghakimi karena tidak punya bukti jelas. Ahirnya mereka berembuk. Hasilnya mereka berhasil menjebak terdakwa dan menghukum sesuai prosedur.

Jangankan orang bejat, kiai saja ada yang melakukan hal buruk itu. Di daerah Jember ada kejadiannya. Seorang pengasuh pondok pesantren berinisial A disantet oleh sesama kiai berinisial B. Masalahnya sepele, karena si B iri pada jumlah santri si A, sehingga si B tega menyantet si A. Hanya saja yang digunakan bukan ilmu hitam, melainkan ilmu putih. Tapi tetap saja yang ditinjau adalah digunakan sebagai apa? Jika buruk, maka ditetapkan sebagai ilmu negatif.

Kepercayaan-kepercayaan yang masih mistis di atas memang sudah umum di masyarakat. Namun, perlu dimengerti dan dipahami bahwa pengetahuan, kepercayaan animisme, mitos, mistik, maupun yang berbau religius itu, tidak keseluruhan benar, tapi memang ada beberapa poin yang dapat dibenarkan dan bisa dibuktikan.

Untuk menangani kesalahan-kesalahan  diperlukan pengetahuan lebih mendalam. Seharusnya, tokoh agama dan juga para pakar membantu dalam penyuluhan pengetahuan, khususnya bagi orang-orang awam. Dengan  demikian , semua akan terkondisi dengan rapi dan dapat menghadirkan dampak negatif bagi masyarakat setempat.

No comments:

Post a Comment