Raudlatul Ulum 1

Menatap Masa Depan, Menggenggam Ajaran Salaf

Breaking

Monday, 12 March 2018

Secarik Kisah di Balik Duka Sore Itu - Alm. KH. Ahmad Sa'id Yahya

Secarik Kisah di Balik Duka Sore Itu - Alm. KH. Ahmad Sa'id Yahya
Oleh: Syifa'ur Romli (Ketua. Dev. Publikasi PPRU 1)
Raudlatul Ulum Berduka - "Beliau (KH. Ahmad Sa'id Yahya) adalah sosok yang ikhlas. Penuh dengan kesederhanaan. Dan InsyaAllah tidak memiliki prasangka buruk terhadap siapapun." Dawuh KH. Madarik Yahya (Adik kandung Alm. KH. Ahmad Sa'id Yahya) dalam mau'idloh kesaksian jenazah sebelum jenazah Kyai dikebumikan.

Kata-kata kesaksian terakhir itu membuat seluruh jamaah sholat jenazah tersentuh hatinya. Suasana isak tangis para santri menjadi lantunan nada kehilangan yang memenuhi seluruh isi masjid As-Syafi'iyah. Kehilangan sosok guru kharismatik yang selalu mengajarkan santrinya betapa arti ikhlas dalam kesederhanaan.

Dalam sakit stadium akhir yang diderita beliau selama hampir tiga minggu, ada beberapa Hikayah penuh hikmah untuk kita petik menjelang akhir hayat beliau kemarin, 12 Maret 2018 tepatnya di Rumah Sakit Umum Dr. Syaiful Anwar, Malang.

Dalam beberapa wawancara yang dilakukan oleh Tim Publikasi terhadap salah seorang santri yang kebetulan bertugas untuk menjaga beliau, didapatlah cerita berikut:

"Pagi itu, selepas melaksanakan ibadah sholat shubuh, Kyai (Sebutan Alm. KH. Ahmad Sa'id Yahya) tak lagi menyenyakan diri untuk tidur. Beliau lebih banyak terduduk dari tidur yang tak sempat beliau pejamkan matanya. Dengan rogohan nafas yang selalu diikuti kata "Laa Ilaaha Illallah, Muhammadun Rasulullah" hanya kata itu yang selalu beliau istiqomahkan semenjak awal sakit yang menyebabkan beliau wafat.

Sebenarnya Kyai sudah direncanakan oleh pihak keluarga untuk dipindahkan ke RSI (Rumah Sakit Isam) Gondanglegi hari itu juga. Dimana semua keperluan sudah dikemas. Dan sayang dengan adanya kabar akan dipindahkannya tersebut, dokter RSSA sudah jarang berkunjung ke kamar dengan berbagai penundaan tatkala hendak dimintai penanganan.

Dengan perasaan kasih sayang, Gus. Abdur Rahman Sa'id (putra beliau) menawarkan untuk memberikan sarapan kepada beliau. Dan hanya satu-dua suap yang beliau dahar. Setelahnya beliau tak lagi berkata apapun melainkan kalimat syahadat.

Pagi tiba berwajah cerah. Seperti biasa, Kyai bertanya mengenai dokter yang biasa merawatnya. "Kemmah dokterah mak lok teng deteng?". Tanya beliau kepada putranya. Tanpa jeda, putra beliau langsung menanyakan terhadap pihak perwat akan permohonan perawatan sedot cairan. Namun, tempolah yang menjadi jawaban. Dengan janji jam 10, kemudian jam 1, kemudian tak datang juga.

Dhuhur telah berlalu, Kyai hanya mau meminum air zam zam seteguk dua teguk. Sedang kalimat Syahadat tiada hentinya terlafal dari kedua bibir lemah beliau. Sampai waktu ashar tiba. Dan beliau melakukan sholat Ashar (Adalah sholat terakhir beliau).

Alm. KH. Ahmad Sa'id Yahya (Tetap Sholat Sekalipun Stadium Akhir)
Selepas menunaikan sholat ashar, nafas beliau semakin tak terkontrol. Sesak yang dideritanya bertambah. Dengan bantuan oksigen masker yang mulai dinaikan jua volumenya, beliau tak lagi mau bertidur lunglai. Nafas beliau sudah terengah. Namun menunjukan sifat ketenangan. Sebab mungkin beliau mengetahui bahwa tamu yang dinanti itu telah datang.

Dalam posisi duduk hampir bersila, beliau dipangku dan dirangkul dari belakang oleh Gus. Syarif Hidayatullah (Putra termuda) serta mulai dibacakan untaian ayat Al-Qur'an oleh Gus. Abdur Rahman Sa'id.

Tak lama dokter datang. Memeriksa keadaan Kyai yang mulai memburuk. "Bapak Sa'id sudah dalam kondisi kritis pak, silakan bapak tuntun". Kata dokter dengan wajah penuh kesesalan dihadapan Ahlul Bait. Dengan adanya vonis dari dokter tadi, pecahlah isak tangis yang sengaja sejak tadi ditahan. Tangis khawatir kehilangan.

Gus. Abdur Rohim (kepala pesantren Raudlatul Ulum 1 Putra) adalah putra beliau yang ke empat. Pun putra beliau yang sangat tidak tega dengan keadaan Kyai. Kamar 216 ruang Bougenville pecah dengan tuntunan kalimat Syahadat diiringi dengan rintih tangis kesedihan.

Nafas dingin mengucur dari setiap sudut bagian tubuh Kyai, pucat pertanda malaikat maut mulai mengeluarkan ruh beliu dari bagian bawah. Namun sekali lagi kalimat "Laa Ilaaha Illallah, Muhammadun Rasulullah" tiada henti mengalir dari lisan beliau yang penuh ketenangan. Ruh sudah lepas dari separuh badan beliau.

Hingga pada akhirnya lisan beliau yang mulia sudah berwarna kepucatan. Seakan nafas sudah berada di Hulquwm (tenggorokan) dan lafal Syahadat yang setia mengalir dari kedua bibir beliau. Isak tangis tetap tertahan sembari menuntun beliau. Keringat tiada henti mengucur dari sekujur tubuh.

Akhirnya pada jam 05.00, dengan lantunan kalimat "Laa Ilaaha Illallah, Muhammadun Rasulullah", Kiai dinyatakan telah tiada oleh dokter. Dalam posisi duduk penuh ketenangan beliau dirangkul Gus. Syarif Hidayatullah dan dibimbing Gus. Abdur Rahman Sa'id serta di bawah kesaksian putra putri beliau di atas ranjang kamar 216 lantai dua. Isak tangis yang tak terbendungkan lagi pecah ketika jasad beliau dibaringkan.

Innaa Lillaahi Wa Innaa Ilaihi Rojiuun...

Telah berpulang ke Rahmatullah, KH. Ahmad Sa'id Yahya (Putra Alm. KH. Yahya Syabrowi) Senin, 12 Maret 2018 dengan tenang dan Insyaallah Husnul Khotimah.

Hujan turun menagisi bumi di sekitar daerah celaket RSSA Malang. Jenazah beliau tiba di tempat rumah duka jam 08.00. Sirine ambulance yang dari jauh menyala-nyala bergonta ganti seakan adalah gambaran isi hati para Mu'azziyyin yang penuh gejolak kehilangan, penyesalan, kesedihan dan ketabahan waktu itu memadati Raudlatul Ulum 1.

Prosesi pemakaman Alm. KH. Sa'id Yahya
Pada malam itu jua Jenazah Kyai dimandikan serta disholatkan di Masjid As-Syafi'iyah dalam kapasitas penuh jamaah sholat jenazah. Serta langsung dimakamkan bersebelahan dengan makam Alm. Kyai Hamid Khozin (posisi tepat di belakang masjid).

Ribuan Mu'azziyyin dari kalangan kyai, ustadz, santri, alumni serta penduduk desa turut mengiringi serta mengikhlaskan beliau kembali ke rahmatullah. Bahkan alumni serta santri beliau yang belum sempat berdatangan.

Sore yang turut beduka, melemahkan hati yang keras, mengingatkan satu hal bahwa kematian pasti akan bertamu..

Dengan keadaan seluruh wajah berbasah dan lunglai, semua menanggung beratnya kehilangan sosok guru yang penuh kesederhanaan, ketawadhu'an, serta keikhlasan dan kesabaran beliau. Seraya seluruh isi hati memiliki satu harap "Kyai... Akui Aku Sebagai Santrimu..."

No comments:

Post a Comment