Raudlatul Ulum 1

Menatap Masa Depan, Menggenggam Ajaran Salaf

Breaking

Thursday, 16 April 2015

Merealisasikan Sebuah Mimpi Yang Tertunda

Railah Mimpimu
Railah Mimpimu
Oleh: Bahauddin Hamzah*

Sering kali kita melihat orang sulit meraih impian-impiannya atau tidak sampai ke tahap yang mereka harapkan dan inginkan dalam mencapai kesuksesan. Disanalah sebenarnya peran kita dalam menentukan mimpi kita.

  • Specific (spesifik/detail)

Impian kita haruslah spesifik. Mengapa? Karena pikiran kita lebih mudah merespons dan mampu menjalankan perintah dengan baik, jika perintah yang diterimanya jelas. Pikiran diibaratkan anak kecil yang masih polos. Jika kita menyuruh anak kecil tersebut membeli sebuah gorengan, tanpa penjelasan yang jelas, kemudian anak kecil tersebut tanpa bertanya dan berpikir panjang langsung membelinya, entah itu gorengan tahu, Weci, dan lain-lain. Padahal sebenarnya Anda menginginkan pisang goreng. Mengapa? Karna tanpa kita sadari kita memberikan perintah yang tidak jelas, yaitu  membeli gorengan, bukan pisang goreng, akibatnya Anda gagal mendapatkan pisang goreng yang anda inginkan.


  • Meaningfull (berarti/bermaka)

Dalam menentukan impian, tentu saja kita harus menilai impian kita, apakah bermakna bagi kita atau sebaliknya. Maka dahulukanlah impian yang bermakna atau mempunyai makna yang lebih. Jika kita mempunyai impian memiliki play station terbaru dan di sisi lain kita mempunyai  impian memiliki laptop Core I7, pertimbangkan hal ini. Jika Anda memiliki Play Stasion manfaatnya cuma main game saja. Tetapi jika Anda pilih laptop Core I7, Anda bisa memanfaatkan lainnya, bisa main game sekaligus aktivitas lainnya, seperti belajar Corel Draw, Photoshop, dan lain-lain.

Kita bisa lihat dari mana sisi yang lebih manfaat dan yang lebih professional. Marilah kita berpikir sebelum bertindak.

  • Achievable (Merasa Tercapai)

Memang kita diharuskan mempunyai impian yang besar, agar kekuatan dalam diri kita bangkit untuk mencapainya. Besar seperti apa? Besar di sini sesuai dengan kondisi dan kemampuan diri, bukan mengharapkan sesuatu yang tidak rasional (sulit terjadi). Misalnya, seorang mempunyai impian bisa terbang, apakah itu realistis atau mungkin tercapai? Tentu tidak. Impian yang tidak bisa dicapai atau mustahil untuk dicapai akan menghentikan tindakan karena sia-sia. karena itu impian harus besar tapi realistis dan mungkin tercapai.

  • Resource (Sumber Daya)

Dalam menentukan impian, kita juga harus memerhatikan sumber daya apa yang mendukung impian tersebut. Terkadang kita memilih impian besar tampa memikirkan sumber dayanya.

sebagai contoh, kita sebagai santri memiliki impian membangun masjid di kampungnya dan membutuhkan dana sekitar 50 juta. Pertanyaaanya, dengan sumber daya apa kita bisa menghasilkan dana sebesar itu? Inilah yang kita pikirkan, apakah dengan bisnis ataupun lainnya. Jika di antara kita belum mempunyai sumber daya maka tentukan terlebih dahulu.

  • Deadline (Tenggat Waktu)

Dalam menentukan impian, harus pula disertai batas waktu agar bertambah kekuatan dalam diri kita dan kita semakin terpacu untuk segera meraihnya. Ibarat sebuah pertandingan bola Timnas Indonesia  melawan MU (Manchester United) tentu seru, ramai dan pasti banyak yang menonton. Begitupun pemain Indonesia tentu sangat bangga bisa bermain dengan sebuah tim sepakbola kelas dunia seperti MU. Namun apa yang terjadi  jika saat pertandingan tidak ada batas waktu yang biasanya 2 jam 45 menit? Apa yang akan terjadi? Sudah bisa diprediksi pastinya pertandingan tersebut akan membosankan, para pemain pun tidak memiliki semangat, tidak mempunyai inisiatif untuk segera memenangkan pertandingan trsersebut. Betul? Begitu juga dalam menentukan impian kita, begitu penting deadline itu akan memacu dalam memberikan kekuatan harapan kita untuk meraih impian-impian tersebut.


“Haqâ‘iq al-yaum ahlam  al-ams wa ahlam al-yaum haqâ‘iq al-qhad.”Kenyataan hari ini adalah mimpi kemarin, dan mimpi hari ini adalah kenyataan hari esok. “Langkah pertama agar dapat maju ke suatu tempat adalah dengan memutuskan bahwa kita tidak akan terus berada di tempat Anda berada saat ini.”~ Anonim

* Penulis adalah Santri Pondok Pesantren Raudlatul Ulum 1 Putra
dan Mahasiswa IAI al-Qolam Malang

1 comment: