Raudlatul Ulum 1

Menatap Masa Depan, Menggenggam Ajaran Salaf

Breaking

Monday, 6 May 2013

Profil KH. Mursyid Alifi

KH. Mursyid Alifi
K.H.Mursyid dilahirkan pada tanggal 25 November 1944M di desa Ganjaran.Beliau putra termuda dari 6 bersaudara. Sejak kecil beliau telah menjadi yatim piatu, beliaupun tinggal bersama dengan saudara-saudaranya. Beliau menimba ilmu pada KH. Yahya Syabrawi.Kemudian menginjak dewasa,beliau nyantridi Peterongan Jombang dan Bangkalan Madura pada K.H.Kholil, selama 2 tahun. Setelah menyelesaikan mondoknya, beliau melanjutkan kuliah di IAIN Sunan Ampel Bangkalan,yang menjadi cabang IAIN Surabaya. Setelah selesai, beliau mendapat gelar sebagai Sarjana Muda.Untuk melengkapi gelarnya beliau melanjutkan kembali kuliahnya di IAIN Malang.

Pada tahun 1971 beliau kembali ke desa Ganjaran. Tak lama kemudian beliau dinikahkan oleh K.H. Yahya Sabrawi dengan putrinya yang saat itu masih nyantri diJombang.Tetapi, meski sudah menempuh hidup baru,keinginan untuk menuntut ilmu masih membara dalam hatinya.Hal ini terbukti meskipun sudah menyunting Nyai Hj. Hamimah, Mursyid muda masih melanjutkan studinya yang ditinggalkan di Bangkalan kemudian masuk IAIN Malang (sekarang UIN Maulana Malik Ibrahim Malang). Internalisasi dan sosialisasi didunia akademis maupun didunia luar pesantren yang intens pada gilirannya membuat semangat pembarahuan menyala didada Mursyid muda.

Sejak beliau menjadi menantu K.H. Yahya Sabrawi, banyak perubahan pada Yayasan Raudlatul Ulum termasuk pada sekolah MI (6 tahun ),Muallimin(6 tahun),PGA( saat ini PGA berubah menjadi MA Raudlatul Ulum).Sejak Kyai Mursyid mengelolaMadrasah Raudlatul Ulum --dan saat itu beliau menjadi kepala sekolah MTS dan MA-- saat itu pula adanya ujian nasional(UN). Pertama kali mengikuti Ujian Nasional MTS para siswa diujikan kePGA di Jalan Bandung.Setelah itu ujian MA para siswa diajukan ke MAN Batu.

Pada masa awal perkembangannya, Pendidikan di Madrasah Raudlatul Ulum menggunakan metode salaf. Bahkan kebiasaan siswa dalam belajar juga masih berperilaku santri zaman dulu seperti memakai sarung dan bangkiak.Tetapi, karena perkembangan zaman, K.H.Mursyid dibantu K.H.Yahya berinisiatif memasukkan kurikulum dari pemerintah.Semenjak itulah Madrasah Raudlatul Ulum semakin pesat perkembangannya dan semakin diminati masyarakat.

Selanjutnya, pada tahun 1985, K. H.Yahya dan K.H. Utsman Mansyur,salah satu pendiri UNISMA Malang,mencoba membuka fakultas Syari’ah UNISMA di Putat Lor.Fakultas yang kini menjadi STAI AL-QOLAM tersebut dimaksudkan untuk menjadi jenjang lanjutan bagi alumni Madrasah Aliyah Raudlatul Ulum dan Madrasah Aliyah yang lainnya. K. H. Mursyid menjadi pelaksana lapangan dalam upaya tersebut.

Disamping merintis cikal bakal AL-QOLAM,pada tahun 1980-an beliau menjadi kepala MAN Filial Batu yang sementara menempati gedung Madrasah Babussalam di Banjarejo Pagelaran. Saat itu, beliau berusaha memindahkan MAN Filial tersebut ke tempat yang lebih strategis dan merintisnya menjadi MAN yang mandiri di Gondanglegi.Sayang, perjuangan beliau tersebut tidak sempat beliau nikmati hasilnya karena beliau keburu dipanggil oleh yang maha kuasa. Beliau juga mempunyai rencana dalam jangka panjang.Beliau ingin mendirikan pendidikan umum seperti SMP, STM (kalau sekarang disebut dengan SMK), SMA.Yang sempat terlaksana saat itu hanya SMP-nya saja. Salah satu murid pertama yang menjadi siswa di SMP beliau adalah Bapak Abd.Mannan dan Bapak Abd.Wahab.Sedangkan SMA dan STM tidak sampai beliau penuhi karena pada tahun 1981/82 beliau diturunkan sebagai kepala sekolah. Cara beliau mencari dana ialah dengan menarik donatur-donatur,alumni-alumni,dan SPP siswa sehingga cukup untuk membayar para dewan guru.

Di lingkungan pondok pesantren,K. H. Mursyid Alifi membina para santrinya dengan berbagai pengajian kitab kuning seperti Tafsir,Fathul Qorib,Fathul Mu’in,al-Sullam Taufiq, Kâsyifatus Sajâ. Sebagian kitab inilah yang sering beliau ulang-ulang ketika sudah khatam.Sebelum yayasan dipegang Kyai Mursyid, beliau pernah kedatangan tamu dari DPR,Aisan Kholid.Kemudian para beliau membentuk pendidikan Tahassus.Pendidikan ini dikhususkan untuk santri yang berprestasi,berbakat di bidang kitab dan bahasa Arab.Dimulai dari kelas satu MTS,hingga kelas satu Aliyah diambil satu per kelas.Saat itu pembimbingnya adalah Habib Hasan Al Bahrun,KH Hasan,KH Zainullah,KH Shonhaji,KH Alimuddin dan KHMursyid sendiri. Memang pelajarnya tidak seperti di kelas formal,dan pelajarannya ditentukan,untuk Fiqihnya: Al-Fiqh ’alâ Madzâhibul Arba’. Tasawufnya:Ihyâ’ Ulumiddin. Ushul Fiqihnya:Jam’u al-Jawâmi’. Tafsirnya:Al-Munir. Sebagai persyaratanterakhir,siswa harus hafal Alfiyah1000 Nadzom.

Satu hal yang menjadi perhatian serius sekaligus menjadi anjuran dari K. H. Mursyid ialah administrasi harus tercatat,baik di rumah maupun di sekolah,dengan berprinsip  pada Al-Qur’ansurat Al-Baqoroh:282.Jika tidak dibukukan maka beliau tidak akan mengakuinya.Pernah ada seseorang yang meminjam uang pada beliaudan saat itu beliau lupa tidak mencatatnya. Tak lama kemudian orang tersebut mengembalikan uang yang ia pinjam. Ketika beliau periksa,catatan tentang orang itu tidak ada, maka beliau tidak mau menerima uang tersebut.“Kau anggap saja uang yang aku pinjamkan itu sebagai sedekahku kepadamu dan kau tidak perlu lagi mengembalikannya kepadaku”, tutur beliau.

K.H.Mursyid Alifi yang dikaruniai 5 putra itu dikenal oleh masyarakat serta santri-santrinya sebagai sosok  yang sangat ramah,disiplin,tegas dalam kepemimpinan,berakhlaqul karimah,baik pada santri apalagi pada guru.Pernah suatu ketika beliau datang dari bepergian pada jamsetelah sholat maghrib. Saat itu, ada beberapa santri sedang berangkat mengaji kemasjid Assyafi’iyah. Beliau tidak langsung mendahului mereka tetapi malah menerangi jalan mereka dengan lampu kendaraannya hingga mereka sampai. Perhatian beliau terhadap pendidikan dan kegiatan belajar sangat besar sekali, tanpa memandang jenis kelamin. 
 
Beberapa saat sebelum wafat, pesan beliau terhadap istrinya adalah 
“teruskan pendidikan anak-anak, yang laki-laki ataupun yang perempuan” 
Beliau wafat pada tangga l5 Ramadhan 1410 hijriyah.Menurut cerita K.H. Khozin tiada pernah menangis ketika abahnya (K.H.Yahya) wafat.Akan tetapi ketika Kyai Mursyid wafat tiba-tiba beliau menangis,K.H. Khozin memanggil Ustad Sya’roni ke belakang musholla dengan memegang pundaknya,sambil menangis beliau berkata”Setelah ini siapa yang akan menjadi temanku?”  Kyai Khozin merasa sangat terpukul karena adanya Kyai Mursyid sangat berperan baik.Semoga jasa dan kebaikanakhlaqnya tetap teringat dan barokahnya mengalir pada kita semua. Amin (Buletin Amanah)
 
Haul KH. Mursyid Alifi : Setiap l5 Ramadhan

No comments:

Post a Comment